Palembang, InteraksiMassa.COM – Mendekati pendaftaran kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumatera Selatan (Sumsel), dinamika politik semakin memanas.
Salah satu isu yang mencuat adalah kemungkinan Pilgub akan diikuti oleh satu pasangan calon saja, alias melawan kotak kosong.
Isu ini muncul setelah pernyataan dari Panglima Pemenangan Tim HDCU Kota Palembang, Muhammad Asrul Indawan.
Ia mengklaim pasangan Herman Deru-Cik Ujang (HDCU) sulit terkejar berdasarkan hasil survei dan kemenangannya dirasa tak terbendung.
BACA JUGA: Survei Tentukan Arah Dukungan PKB di Pilgub Sumsel
“Hampir semua partai yang memiliki kursi di DPRD Sumsel ingin mendukung.
Kemungkinan besar hanya ada satu pasangan calon yang akan bertarung di Pilgub Sumsel 2024,” ujarnya.
Tanggapan Pengamat Politik
Menanggapi isu ini, pengamat politik dari Forum Demokrasi Sumsel (ForDes), Bagindo Togar menyebut, isu kotak kosong adalah halusinasi dan ambisi dari salah satu bakal calon.
BACA JUGA: Kapan Pilgub/Pilbub/Pilwako? Berikut Jadwal Pilkada 2024 Berdasarkan PKPU Nomor 2 Tahun 2024
“Sangat tidak logis dan cenderung utopis, Pilgub nanti hanya calon tunggal. Ini jelas isu yang sengaja dihembuskan alias framing murahan dari salah satu bakal calon yang tengah berhalusinasi dan berambisi tinggi,” kata Bagindo dilansir dari RMOL Sumsel, Jum’at (28/6/2024).
Bagindo menilai isu ini lebih kepada strategi politik untuk mencuri perhatian dan simpati publik.
Namun, isu kotak kosong mencerminkan besarnya ambisi politik yang mengalahkan akal sehat.
“Ambisius dari syahwat politik yang ingin berkuasa memunculkan halusinasi dengan isu kotak kosong. Ini menunjukkan syahwat politik menggilas akal sehat,” tegasnya.
BACA JUGA: Ini Alasan Mendagri Tito Karnavian Ganti Tiga Penjabat Gubernur
Kemungkinan Calon Tunggal dan Dampaknya
Meski demikian, mantan Ketua IKA FISIP Unsri ini tidak menampik bahwa dalam beberapa kondisi tertentu, kontestasi Pilkada bisa memunculkan calon tunggal.
Hal ini biasanya disebabkan oleh ketokohan dan kinerja kandidat yang sangat berprestasi dan kebijakannya dirasakan oleh masyarakat.
“Sekarang, apa prestasi, legacy, dan kinerja dari kandidat yang over pede ini hingga harus melawan kotak kosong?” tanya Bagindo.
BACA JUGA: Hari Ini Pelantikan Sejumlah Penjabat Gubernur Termasuk Sumsel
Selain itu, Bagindo juga menyoroti dampak negatif dari calon tunggal di Pilgub Sumsel, yaitu penurunan partisipasi pemilih yang membuat masyarakat menjadi pesimis.
Pilgub yang menarik akan meningkatkan tingkat partisipasi politik, yang merupakan syarat utama suksesnya pemilu serta legitimasi pasangan calon gubernur terpilih.
Fokus Pada Substansi Program
Bagindo mengingatkan bahwa dalam konteks politik atau kompetisi apapun, para kandidat seharusnya fokus pada konsolidasi dan penajaman beragam program yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
BACA JUGA: Anita Noeringhati Optimis Terima Rekomendasi Golkar Maju Pilkada Sumsel
“Fokuslah pada substansi program untuk membangun kepercayaan dan mendapatkan dukungan substansial dari pemilih, bukan sekadar bergantung pada kesan atau branding personal,” ujarnya.
Ia berharap, kompetisi Pilgub nanti akan berlangsung secara sehat dan bermartabat, menciptakan pertarungan elegan di dalam gelanggang politik yang terasa seperti Pilpres, bukan sekadar Pilkades. (*/red)












