PT MUM Mulai Penambangan di Site PT BAS, Warga Lokal Jadi Prioritas

LAHAT – PT Manggala Usaha Manunggal (MUM) menggelar First Cut Ceremony sebagai penanda dimulainya fase operasional penambangan di lokasi tambang PT Batualam Selaras (BAS), Kecamatan Gumay Talang, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi perusahaan sekaligus membuka harapan masyarakat terhadap peningkatan kesempatan kerja dan pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar tambang.

Acara tersebut dihadiri Direktur Utama PT BAS sekaligus pemilik Baskhara Group, H. Prapto Santoso, mantan Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI (Purn.) Sudibyo, anggota DPRD Kabupaten Lahat Sutra Imansyah, Camat Gumay Talang Redi Saterson, serta sejumlah kepala desa di wilayah Kecamatan Gumay Talang.

Turut hadir perwakilan perangkat desa dan masyarakat Desa Sukarami yang menyampaikan harapan agar keberadaan aktivitas pertambangan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat, terutama melalui pemberdayaan tenaga kerja lokal.

Masyarakat Berharap Mendapat Kesempatan Kerja

Perwakilan masyarakat Desa Sukarami, Prengki, menyampaikan harapan agar PT BAS bersama PT MUM dapat memberikan kesempatan lebih luas kepada warga desa untuk terlibat dalam kegiatan operasional pertambangan.

Menurutnya, keberadaan perusahaan tambang di wilayah tersebut diharapkan tidak hanya berorientasi pada kegiatan produksi, tetapi juga mampu membuka peluang kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Saat ini, PT MUM disebut telah merekrut 20 warga Desa Sukarami untuk bekerja di perusahaan tersebut. Perekrutan ini diharapkan menjadi awal dari keterlibatan masyarakat lokal yang lebih luas dalam kegiatan operasional tambang.

Masyarakat berharap PT BAS turut memberikan dukungan terhadap pemberdayaan warga, sehingga keberadaan investasi di wilayah Gumay Talang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi pertambangan.

Camat Gumay Talang Sambut Positif Operasional Tambang

Camat Gumay Talang, Reno Saterson, menyampaikan rasa syukur atas dimulainya kembali aktivitas penambangan di wilayahnya. Ia berharap operasional tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat, khususnya melalui penyerapan tenaga kerja dari desa-desa di Kecamatan Gumay Talang.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat lokal dalam kegiatan pertambangan menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong perputaran ekonomi di tingkat kecamatan.

Dengan adanya kesempatan kerja, masyarakat diharapkan memperoleh sumber penghasilan yang dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga. Selain itu, aktivitas perusahaan juga berpotensi membuka peluang ekonomi pendukung bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal.

Reno berharap perusahaan dapat terus membangun komunikasi yang baik dengan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan masyarakat agar kegiatan operasional pertambangan berjalan lancar serta memberikan manfaat berkelanjutan.

 

Perusahaan Tekankan Regulasi dan Kelestarian Lingkungan

Kepala Teknik Tambang (KTT) PT BAS, Achmad Juli Handis, menjelaskan bahwa sektor pertambangan saat ini menghadapi berbagai perubahan regulasi, termasuk ketentuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta aturan terkait penggunaan jalan untuk kegiatan operasional.

Menurutnya, perubahan kebijakan tersebut menjadi bagian penting yang harus diperhatikan perusahaan dalam menjalankan kegiatan penambangan. Kepatuhan terhadap regulasi menjadi landasan untuk memastikan operasional berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Ia juga menyoroti perkembangan produksi batu bara nasional yang mengalami penyesuaian seiring kebijakan pemerintah. Kondisi tersebut turut memengaruhi perencanaan produksi dan pelaksanaan kegiatan pertambangan di tingkat perusahaan.

Achmad menegaskan bahwa pelaksanaan kegiatan penambangan harus memperhatikan tiga aspek utama, yakni kepatuhan terhadap regulasi, keselamatan dan kelancaran operasional, serta pemeliharaan kestabilan lingkungan.

Perusahaan diharapkan mampu menjalankan kegiatan produksi secara bertanggung jawab dengan tetap memperhatikan aspek teknis pertambangan, keselamatan kerja, dan pengelolaan lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan bahwa sekitar 90 persen tenaga kerja yang direncanakan berasal dari masyarakat lokal, baik untuk posisi yang tidak memerlukan keterampilan khusus maupun pekerjaan yang membutuhkan keahlian tertentu.

Komitmen tersebut diharapkan dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi tenaga kerja lokal untuk berpartisipasi dalam kegiatan pertambangan, sekaligus mendorong peningkatan kemampuan dan pengalaman kerja masyarakat sekitar.

PT MUM Perkuat Komitmen Keselamatan Kerja

Manager Operasional PT MUM, Thomas, menyampaikan bahwa First Cut Ceremony di site PT BAS merupakan momentum penting bagi perusahaan untuk memulai fase operasional secara nyata.

Ia menyebutkan bahwa lokasi tersebut merupakan site ketiga yang ditangani PT MUM. Dengan dimulainya kegiatan ini, perusahaan berkomitmen menjalankan operasional dengan mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja, keamanan, serta pengelolaan lingkungan.

Selain itu, PT MUM berupaya menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat di sekitar wilayah tambang. Perusahaan juga menaruh perhatian pada optimalisasi keterlibatan masyarakat dari lingkungan terdekat agar keberadaan kegiatan pertambangan dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

Thomas menekankan pentingnya membangun budaya keselamatan kerja di seluruh lini operasional. Hal tersebut tercermin dalam slogan yang diusung perusahaan, yaitu “Datang Sehat, Bekerja Giat, Pulang Selamat.”

Slogan tersebut menjadi pengingat bagi seluruh pekerja agar selalu mengutamakan keselamatan sejak berangkat bekerja, selama menjalankan tugas, hingga kembali ke rumah.

Untuk tahap awal, perusahaan menargetkan produksi sebesar 40.000 ton batu bara. Namun, realisasi target produksi selanjutnya akan menyesuaikan ketentuan RKAB yang berlaku, termasuk rencana dan persetujuan untuk tahun berikutnya.

Direktur Utama PT BAS Paparkan Perkembangan RKAB

Direktur Utama PT BAS, H. Prapto Santoso, menjelaskan bahwa regulasi dalam industri pertambangan batu bara saat ini mengalami perubahan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Persyaratan dan persetujuan pemerintah terkait RKAB menjadi faktor penting yang menentukan ruang gerak perusahaan dalam menjalankan kegiatan produksi.

Ia mengungkapkan bahwa aktivitas di lokasi tersebut sempat tidak berjalan selama kurang lebih dua tahun. Kondisi tersebut tidak terlepas dari dinamika regulasi dan penyesuaian rencana produksi pertambangan.

Prapto memaparkan bahwa pada awalnya perusahaan memperoleh persetujuan produksi sebesar 1 juta ton. Namun, dalam perkembangan berikutnya, alokasi tersebut berkurang menjadi 250.000 ton sebelum kembali meningkat menjadi 850.000 ton berdasarkan penjelasan yang disampaikannya.

Perubahan alokasi produksi tersebut menunjukkan pentingnya penyesuaian strategi operasional perusahaan terhadap kebijakan pemerintah dan ketentuan perizinan pertambangan.

Ia juga menjelaskan bahwa PT BAS memiliki wilayah usaha pertambangan sekitar 8.300 hektare. Selain di Kabupaten Lahat, Baskhara Group memiliki wilayah usaha yang disebut mencapai sekitar 9.000 hektare di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) dan 2.000 hektare di Provinsi Jambi.

Dengan dimulainya operasional di site PT BAS, perusahaan berharap kegiatan pertambangan dapat berjalan sesuai ketentuan sekaligus memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah.

Harapan untuk Pertumbuhan Ekonomi Gumay Talang

Dimulainya aktivitas penambangan melalui First Cut Ceremony ini membawa harapan baru bagi masyarakat Kecamatan Gumay Talang. Penyerapan tenaga kerja lokal, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan hubungan antara perusahaan dengan warga menjadi sejumlah hal yang diharapkan dapat diwujudkan secara berkelanjutan.

Pemerintah kecamatan dan masyarakat berharap komitmen perusahaan terhadap tenaga kerja lokal dapat direalisasikan melalui kesempatan kerja yang terbuka, proses rekrutmen yang transparan, serta peningkatan kapasitas tenaga kerja sesuai kebutuhan operasional.

Di sisi lain, kepatuhan terhadap regulasi, penerapan keselamatan kerja, dan perlindungan lingkungan tetap menjadi aspek penting yang harus berjalan beriringan dengan kegiatan produksi.

Dengan sinergi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat, operasional pertambangan di wilayah Gumay Talang diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga hubungan sosial yang harmonis.

**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *