MUARA ENIM — Jalan kecil di Gang Rambutan, Dusun II, Desa Ujan Mas Baru, Kecamatan Ujan Mas, malam itu dipenuhi langkah-langkah yang tenang. Selepas azan Isya berkumandang, jamaah mulai berdatangan menuju kediaman Rais Idaroh Syu’biyah Ifadiyyah Jamiyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Kabupaten Muara Enim, KH Edi Saputra.
Tidak ada spanduk besar, panggung megah, atau tata cahaya yang memikat. Yang hadir justru kesederhanaan—karpet yang digelar di ruang tamu, wajah-wajah yang penuh harap, dan hati yang datang membawa kerinduan untuk lebih dekat kepada Allah.
Di rumah sederhana itulah, Senin (20/7/2026), Pengajian Tasawuf JATMAN Kabupaten Muara Enim kembali digelar. Ini adalah pertemuan ketiga setelah dua majelis sebelumnya menjadi awal tumbuhnya simpul-simpul pengajian tasawuf di berbagai wilayah Kabupaten Muara Enim.
Ketua JATMAN Kabupaten Muara Enim, KH Mahfudz, menyebutkan bahwa majelis ini merupakan bagian dari ikhtiar panjang membangun kehidupan ruhani jamaah.
“Ini merupakan Pengajian Tasawuf JATMAN yang ketiga. Kami ingin kegiatan ini terus berlanjut sebagai ruang silaturahmi, memperkuat ukhuwah, sekaligus membina kehidupan spiritual jamaah,” ujarnya membuka acara.
Bagi KH Mahfudz, pengajian bukan sekadar rutinitas organisasi. Ia adalah jalan merawat hati agar tetap hidup di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin bising oleh urusan materi.
Menyelami Hati, Bukan Sekadar Menghafal Hukum
Malam itu, jamaah kembali dipandu oleh KH Mursyidi, Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Putak, Gelumbang.
Sebagaimana gaya beliau yang telah dikenal jamaah, pengajian berlangsung santai dan dialogis. Tidak ada ceramah panjang yang menggurui. KH Mursyidi membagikan selembar materi, lalu mengajak jamaah membacanya bersama sebelum perlahan mengurai makna setiap kalimat.
Tema yang diangkat malam itu adalah “Tazkiyatul Qulūb lil-A’ mal”—Menyucikan Hati dalam Beramal.
Tema ini seolah mengingatkan bahwa inti ibadah bukan hanya banyaknya amal, melainkan kebeningan hati yang melahirkan amal tersebut.
“Orang bisa rajin shalat, rajin puasa, rajin bersedekah. Tetapi apakah hatinya sudah bersih ketika melakukan semua itu? Di situlah letak pentingnya tasawuf,” tutur KH Mursyidi.
Baginya, syariat dan tasawuf bukan dua kutub yang dipertentangkan.
Syariat mengajarkan bagaimana ibadah dilakukan dengan benar.
Tasawuf mengajarkan mengapa ibadah itu dilakukan dan bagaimana menjaga hati agar tetap ikhlas ketika melakukannya.
Belajar dari Kemarahan Diri Sendiri
Untuk menjelaskan pentingnya penyucian hati, KH Mursyidi tidak memulai dari teori.
Ia justru berkisah tentang dirinya sendiri.
Saat menjadi pengasuh pesantren, ia mengaku pernah diliputi kemarahan ketika menghadapi santri yang melanggar aturan.
“Ada masanya saya marah kepada santri. Setelah itu saya bertanya kepada diri sendiri, mengapa kemarahan itu masih muncul?”
Pertanyaan itu kemudian membawanya berkeliling menemui para kiai sepuh di Pulau Jawa.
Jawaban yang diterimanya sederhana, tetapi mengubah arah pencariannya.
“Guru saya berkata, ‘Kajianmu masih fikih. Yang kau lihat masih yang lahir. Padahal marah, dengki, riya, ujub, semua berada di dalam hati. Obatnya ada pada ilmu tasawuf.’“
Sejak saat itu, ia semakin tekun mempelajari kitab-kitab tasawuf.
Menurutnya, fikih mengajarkan tata cara shalat, puasa, zakat, dan haji. Semua tampak oleh mata.
Namun penyakit hati tidak terlihat.
Ia hanya dapat dikenali melalui proses tazkiyah—penyucian jiwa.
“Karena itu, tasawuf tidak menggantikan syariat. Tasawuf justru menyempurnakan syariat.”
Menghidupkan Tauhid Melalui Tarekat
KH Mursyidi juga mengajak jamaah untuk tidak lagi memandang tarekat sebagai sesuatu yang asing.
Menurutnya, tarekat adalah jalan pendidikan ruhani agar kalimat Lā ilāha illallāh tidak berhenti di lisan, melainkan meresap hingga ke dalam hati.
Ia menjelaskan bahwa tarekat yang diikuti hendaknya merupakan tarekat muktabarah, yakni tarekat yang memiliki sanad keilmuan yang bersambung secara sah hingga Rasulullah SAW melalui mata rantai para mursyid.
Untuk memudahkan pemahaman jamaah, ia menghadirkan analogi yang sederhana.
“Motor tanpa STNK tentu berbeda dengan motor yang memiliki surat-surat lengkap. Begitu pula perjalanan ruhani. Sanad adalah jaminan bahwa ilmu itu diwariskan melalui jalan yang benar.”
Perumpamaan itu mengundang senyum jamaah. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan pesan penting tentang otentisitas ilmu dalam tradisi tasawuf.
Rayap Mengajarkan Keikhlasan
Menjelang akhir pengajian, KH Mursyidi kembali mengangkat filosofi yang telah menjadi ciri khas dakwahnya: rayap.
Rayap tidak pernah membangun rumah dengan tergesa-gesa.
Ia mengangkut butiran tanah sedikit demi sedikit.
Tidak saling mendahului.
Tidak saling menyalahkan.
Tidak mencari pujian.
Tetapi hasil akhirnya adalah bangunan yang kokoh.
“Itulah dakwah. Jangan menunggu mampu berbuat besar. Mulailah dari yang kecil, tetapi istiqamah.”
Filosofi itu kemudian diwujudkan melalui Gerakan Kaleng Koin JATMAN.
Setiap jamaah membawa sebuah kaleng kecil untuk diisi uang receh sesuai kemampuan. Nilainya mungkin tidak besar. Namun bila dilakukan secara bersama dan terus-menerus, ia akan menjadi kekuatan yang menopang dakwah tanpa bergantung kepada siapa pun.
Membersihkan Hati Sebelum Memperbanyak Amal
Sekitar dua jam majelis berlangsung.
Doa dipanjatkan.
Hidangan sederhana tersaji.
Suasana penuh keakraban menyelimuti rumah kecil yang malam itu berubah menjadi taman ruhani.
Sebelum jamaah beranjak pulang, KH Mahfudz menyampaikan bahwa estafet pengajian tasawuf akan terus berlanjut. Majelis berikutnya direncanakan digelar di kawasan Unit 8, Kabupaten Muara Enim.
Malam semakin larut.
Jamaah pulang membawa lembar materi kajian.
Namun sesungguhnya, yang mereka bawa jauh lebih berharga daripada sekadar selembar kertas.
Mereka membawa satu pelajaran yang menjadi inti perjalanan seorang salik: amal yang banyak belum tentu bernilai jika hati masih dipenuhi riya, ujub, amarah, dan kesombongan. Sebaliknya, amal yang sederhana dapat menjadi sangat agung di sisi Allah apabila lahir dari hati yang telah disucikan.
Barangkali di situlah makna terdalam Tazkiyatul Qulūb lil-‘Amal: bukan mengejar banyaknya amal, melainkan membersihkan hati agar setiap amal menjadi jalan menuju ridha Allah. (imr)












