Religi  

KH Taufik Hidayat : “GEMMA” Tak Harus Menunggu Pemerintah

Safari Subuh dalam program GEMMA ini bukan hanya satu kali datang

SAMBUTAN – H Maryadi, Ketua Pengurus Masjid As-Syariah Tanjung Enim, saat memberi sambutan dalam Safarai Subuh PP Laa Roiba, Jumat, 18 September 2026 (Foto.Dok.GEMMA/Ust Very)

TANJUNG ENIM — Gerakan Memakmurkan Masjid (GEMMA) PP Laa Roiba Muara Enim kembali menggelar Safari Subuh. Kali ini, kegiatan berlangsung di Masjid As-Syariah, Tanjung Enim, Jumat, 18 September 2026.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan salat Subuh berjamaah disertai sujud tilawah, kuliah Subuh, pengarahan pimpinan PP Laa Roiba, serta tanggapan pengurus masjid. Kegiatan berlanjut dengan salat Isyraq menjelang waktu dhuha.

SAFARI SUBUH – Suasana Gerakan Memakmurkan Masjid (GEMMA) Pondok Pesanytren Laa Roiba di Masjid As-Syariah, Jumat 18 September 2026 (Foto.Dok.GEMMA/Ust.Vwry)

Pendiri sekaligus Pimpinan PP Laa Roiba Muara Enim, KH Taufik Hidayat, S.Ag., M.I.Kom., mengatakan GEMMA dijalankan secara mandiri tanpa menunggu program pemerintah atau momentum tertentu.

Menurut Ustadz Taufik, upaya memakmurkan masjid tidak semestinya hanya bergerak ketika ada program atau agenda yang bersifat insidental.

“Gerakan Safari Subuh ini tugas bersama, terutama bagi kami pengelola pesantren. Jadi kami tidak menunggu ada program pemerintah dulu baru bergerak. Kalau menunggu, laju ndak bergerak. Sebab kalau melalui pemerintah sudah pasti menunggu anggaran, yang birokrasinya… ya begitulah prosedurnya,” kata Ustadz Taufik.

Mengapa Safari Subuh?

Pemilihan waktu Subuh, menurut Taufik, memiliki alasan tersendiri. Waktu tersebut memiliki tantangan karena berlangsung ketika sebagian orang masih beristirahat.

“Jamaah Subuh ini jamaahnya asli, Pak. Tidak bisa direkayasa, misalnya harus ada pengerahan massa karena ada pejabat pemerintah yang datang, atau pada masa Pileg, Pilkada,” ujarnya.

Menurut Ustadz Taufik, GEMMA memilih waktu Subuh untuk mendorong masyarakat kembali memakmurkan masjid, terutama pada waktu yang membutuhkan kedisiplinan dan kesungguhan.

Suasana Jamaah Shalat Subuh di Masjid As-Syariah Tanjung Enim, saat mendengarkan Kultum Santri PP Laa Roiba, Jumat 18 September 2026 (Foto.Dok.GEMMA/Ust.Very)

“Bukan berarti jamaah Magrib atau Isya tidak baik. Tetapi Subuh memang memiliki tantangan tersendiri, terutama bagi kami pengelola pondok dan juga bagi santri,” katanya.

Pilihan tersebut sekaligus menjadi alasan GEMMA tidak memusatkan kegiatan pada waktu salat yang secara umum lebih ramai.

Masjid sebagai Ruang Praktik Santri

Di balik Safari Subuh, kata Ustadz Taufik, terdapat tujuan lain: memberikan ruang praktik bagi santri agar terbiasa berinteraksi dengan masyarakat.

Ia mengibaratkan pendidikan santri dengan pendidikan kejuruan dan profesi lainnya. Siswa SMK membutuhkan tempat praktik sesuai bidangnya, sementara mahasiswa kedokteran membutuhkan rumah sakit untuk menguji pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah.

“Kalau calon dokter supaya tidak salah suntik, pasti belajarnya di rumah sakit. Kalau anak SMK, praktiknya di balai latihan kerja sesuai bagiannya. Kalau mesin, belajar mesin. Kalau listrik, belajar listrik,” kata dia.

“Kalau santri, belajarnya di masyarakat, di antaranya di masjid dan musala. Tujuannya agar mereka terlatih menjadi jamaah masjid, bukan hanya masjid di pondok, tetapi juga masjid di tengah masyarakat,” lanjutnya.

Melalui GEMMA, santri tidak hanya mendapat kesempatan menjadi imam, muazin, pembawa acara, atau menyampaikan kultum. Mereka juga belajar berkomunikasi dengan jamaah, memahami situasi sosial, menjaga adab, dan memberikan pelayanan di lingkungan masjid.

“Melalui GEMMA ini sekaligus sebagai proses pembelajaran bagi santri agar mereka melihat dan praktik langsung. Kelak mereka menjadi anggota masyarakat yang bisa memberi manfaat, secara lahir dan batin, melalui masjid, musala, bahkan di sekolah yang membutuhkan,” ujar Ustadz Taufik

Menghidupkan Masjid, Bukan Menghitung Jamaah

Dalam kesempatan itu, Ustadz Taufik juga menyebut Muhammad Syafii Antonio dalam penjelasannya mengenai tingkat pelaksanaan salat dan jamaah Subuh di Indonesia.

Ustadz Taufik menyampaikan angka yang menurutnya berasal dari penelitian yang dikaitkannya dengan Syafii Antonio.

Angka tersebut ia gunakan untuk menggambarkan perbandingan jumlah orang yang melaksanakan salat dengan mereka yang mengikuti salat Subuh berjamaah di masjid.

“Hasil penelitian itu, jamaah hanya 20 persen yang salat. Kalau dihitung dari jumlah seratus, berarti yang benar-benar salat hanya dua puluh orang. Kalau dari dua puluh orang kemudian ada dua persen yang salat Subuh di masjid, berarti ada berapa orang yang jamaah Subuh?” kata Ustadz Taufik.

Menurut Ustadz Taufik, angka tersebut bukan menjadi ukuran utama bagi GEMMA. Program itu, kata dia, lebih diarahkan untuk menghidupkan masjid, terutama pada waktu Subuh ketika jumlah jamaah cenderung lebih sedikit.

Karena itu, Safari Subuh tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Santri terlibat dalam kegiatan masjid, berinteraksi dengan jamaah, kemudian membawa pengalaman tersebut kembali ke pesantren untuk dievaluasi.

Santri Dievaluasi Setelah Tampil

Dalam Safari Subuh di Masjid Asyariah, sebanyak delapan santri mengikuti kegiatan. Mereka didampingi Koordinator Program GEMMA, Ustadz Imron Supriyadi, S.Ag., M.Hum.

Ustadz Imron mengatakan tugasnya antara lain melakukan quality control terhadap penampilan dan keterlibatan santri selama kegiatan.

“Setiap kali santri tampil, akan kita evaluasi di pondok. Apa yang lebih dan apa yang kurang. Kami hanya sebagai quality control, mengevaluasi untuk perbaikan selanjutnya,” kata Ustadz Imron.

Evaluasi mencakup sejumlah aspek, mulai dari imam, azan, pembawa acara, doa, vokal, gestur, hingga adab dalam public speaking.

Dengan pola tersebut, kegiatan Safari Subuh tidak selesai ketika santri meninggalkan masjid. Pengalaman mereka di lapangan menjadi bahan evaluasi untuk kegiatan berikutnya.

Pengurus Masjid: Ini Sebuah Anugerah

Ketua Pengurus Masjid As-Syariah Tanjung Enim, H. Maryadi, menyambut positif kedatangan Tim GEMMA PP Laa Roiba.

Ia mengapresiasi kesediaan para santri datang dan terlibat dalam kegiatan Subuh bersama jamaah.

“Bagi kami, ini satu anugerah. Karena dari kunjungan ini kami juga diingatkan sekaligus belajar dengan santri, terutama Hari Jumat untuk sujud tilawah. Sebab tidak semua jamaah terbiasa salat Subuh dengan sujud tilawah,” kata H Maryadi.

Menurut H Maryadi, kehadiran Safari Subuh juga menjadi kesempatan bagi jamaah untuk mendapatkan pengalaman keagamaan dari para santri.

“Melalui adanya Safari Subuh ini, paling tidak memberi pembelajaran bagi kami, khususnya di masjid kami,” ujarnya.

Setelah kuliah Subuh, kegiatan dilanjutkan dengan Jumat Berkah. Pengurus Masjid

As-Syariah menyiapkan hidangan bagi jamaah yang akan melaksanakan salat Jumat pada siang harinya.

Buku Meneyami Cahaya Kata

Pada kesempatan yang sama, Taufik menyerahkan bukunya berjudul Menyemai Cahaya Kata kepada Maryadi.

Buku tersebut disebut sebagai panduan bagi umat Muslim dalam menjalankan ibadah kemasyarakatan.

Serah Trima Buku Karya KH Taufik Hidayat, S.Ag, M.I, Kom “”Menyemai Cahya Kata” kepada H Maryadi (kanan), Ketua Pengurus Masjid As-Syariah pada saat Safari Subuh, Jumat 18 September 2026.

Diantaranya, cara memimpin tahlil, memimpin yasinan, marhaba atau akikah, menjadi MC, sambutan di berbagai acara, dan khutbah jumat, khutbah Idul Adha serta Idul Fithri dan lainnya.

Penyerahan dilakukan secara simbolis. Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama.

Safari Subuh Berlanjut

Koordinator GEMMA PP Laa Roiba, Ustadz Imron Supriyadi, mengatakan Safari Subuh merupakan bagian dari rangkaian program yang akan terus dilaksanakan di sejumlah masjid.

Program tersebut membawa semangat “dari pesantren menuju masjid, kemudian dari masjid kembali kepada masyarakat.”

“Ilmu agama tidak berhenti di ruang kelas atau asrama. Ada saatnya pengetahuan itu hadir dalam bentuk pelayanan, keteladanan, komunikasi, dan kepedulian terhadap lingkungan,” kata Ustadz Imron.

Akan Hadir di Al Muhajirin dan At-Takwa

Setelah Masjid Asyariah, Tim GEMMA PP Laa Roiba dijadwalkan melanjutkan Safari Subuh di Masjid Al-Muhajirin BTN Karang Asam pada Ahad, 20 September 2026, kemudian di Masjid At-Takwa Muara Enim pada Jumat, 25 September 2026.

Ustadz Imron mengatakan masjid yang sebelumnya telah dikunjungi juga dapat kembali mengagendakan Safari Subuh pada kesempatan berikutnya.

“Safari Subuh dalam program GEMMA ini bukan hanya satu kali datang. Bagi masjid yang sudah dikunjungi, boleh menjadwalkan kembali untuk kita laksanakan Safari Subuh berikutnya,” ujarnya.

Bagi PP Laa Roiba, Safari Subuh menjadi bagian dari proses pembelajaran santri di luar lingkungan pesantren. Di masjid, mereka berlatih menjalankan peran keagamaan sekaligus berinteraksi langsung dengan masyarakat.

FOTO BERSAMA – Tim GEMMA PP Laa Roiba dan Pengurus Masjid As-Syariah Tanjung Enim, foto bersama, Jumat 18 September 2026 (Foto.Dok.GEMMA/Very)

Dalam Safari Subuh kali ini, para santri mendapat tugas masing-masing. Fadhillah Mahesya bertugas sebagai muazin, Ustadz Arvhey Zaid Siregar sebagai imam salat Subuh, Belan Yahya sebagai master of ceremony (MC), dan Dedi Nicho Azizwady memimpin doa penutup.

 Teks: Tim Media PP Laa Roiba

*Donasi dapat disalurkan melalui Rekening :
  • BSI No. Rekening : 734 4929 410 a.n. Ponpes La-Roiba
  • Bank Mandiri No. Rekening : 112 001 4069 921 a.n.      Yayasan Ummi Zahro QQ Ponpes Tahfidz dan Dakwah La Roiba
  • Bank Sumsel Babel No. Rekening : 147 0926 091 a.n. Pan Per Pes La-Roiba.
  • Bank BRI No. 0128-01-007759-53-9 a.n. Ponpes Tahfidz dan Dakwah La Roiba
Semoga menjadi jalan keberkahan serta mendapatkan Ridho Allah Swt
Konfirmasi melalui WA : 
1. 0823-5257-2578 (KH Taufik Hidayat)
2. 0853-8258-3936 (Ustadz Tegar Zamorano)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *