Sebelum Ramadhan Pergi, Saatnya Kita Menghisab Diri

Ramadhan itu seperti tamu agung. Ia datang membawa rahmat. Ia datang membawa ampunan.

Ilustrasi : Google Image
Oleh KH. Taufik Hidayat, S.Ag, M.I.Kom, Pendiri dan Pimpinan PP Laa Roiba Muaraenim

Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah…
Ada satu kebiasaan para ulama yang sering kita lupakan di zaman ini. Kebiasaan itu sederhana, tetapi sangat dalam: muhasabah, menghisab diri.

Sebelum Ramadhan benar-benar meninggalkan kita, marilah kita berhenti sejenak bersama diri kita sendiri.

Duduklah dalam kesunyian hati. Tidak perlu ramai, tidak perlu banyak orang. Cukup engkau, hatimu, dan Allah yang Maha Mengetahui isi dadamu.

Lalu tanyakan kepada dirimu sendiri dengan jujur: “Wahai diriku… jika aku mati saat ini, di manakah aku akan berada?
Apakah aku sedang berjalan menuju surga, atau justru sedang melangkah menuju neraka?”

Pertanyaan ini bukan untuk menakut-nakuti diri. Pertanyaan ini adalah cara orang beriman menjaga arah hidupnya.

Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Perhatikan kata-kata “li-ghadin”untuk hari esok.
Para mufassir menjelaskan, “hari esok” di ayat ini bukan besok pagi, bukan besok siang. Hari esok yang dimaksud adalah hari akhirat.

Artinya, setiap hari kita diminta untuk melihat kembali: Apa yang sudah kita siapkan untuk kehidupan setelah kematian?

Ramadhan: Madrasah Muhasabah

Saudara-saudaraku…

Ramadhan bukan sekadar bulan puasa. Ramadhan adalah madrasah muhasabah, sekolah untuk mengevaluasi diri. Selama sebulan kita diajak berlatih: menahan lapar, menahan amarah, menahan keinginan, dan menahan dosa.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberi harapan yang luar biasa.
Bayangkan, dosa bertahun-tahun bisa diampuni dalam satu Ramadhan. Tetapi hadis ini juga mengandung pertanyaan yang sangat serius :

Apakah kita termasuk orang yang diampuni… atau justru orang yang gagal di bulan yang penuh ampunan ini?

Rasulullah bahkan pernah naik mimbar, lalu beliau berkata tiga kali: “Amin.” Para sahabat bertanya, “Mengapa engkau berkata amin wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab: “Jibril datang kepadaku dan berkata: Celakalah seseorang yang mendapati Ramadhan tetapi tidak diampuni dosanya.” (HR. Tirmidzi)

 

 Bayangkan…
Ramadhan itu seperti hujan rahmat yang turun deras. Kalau masih ada orang yang tidak kebasahan oleh rahmat itu, berarti ada yang salah pada dirinya.

Dialog dengan Diri Sendiri

Karena itu, sebelum Ramadhan pergi, mari kita berbicara kepada diri kita sendiri. Katakan kepada diri kita:

“Wahai diri… Apakah shalatku di Ramadhan ini lebih khusyuk dari sebelumnya? Apakah Al-Qur’anku lebih sering kubaca? Apakah lidahku lebih bersih dari ghibah? Apakah hatiku lebih lembut kepada sesama?”

Kalau jawabannya ya, bersyukurlah. Tetapi jangan merasa cukup. Karena sesungguhnya amal kita kepada Allah selalu terlalu kecil dibanding nikmat-Nya.

Umar bin Khattab: Takut Meski Dijamin Surga

Saudara-saudaraku…

Ada sebuah kisah yang sering diceritakan para ulama tentang seorang sahabat yang dijamin masuk surga: Umar bin Khattab.

Suatu hari Umar berkata kepada sahabatnya, Hudzaifah bin al-Yaman, yang dikenal sebagai sahabat yang mengetahui nama-nama orang munafik.

Umar bertanya dengan suara bergetar: “Wahai Hudzaifah… apakah Rasulullah pernah menyebut namaku di antara orang-orang munafik?”

 Bayangkan…
Ini Umar. Sahabat besar. Khalifah. Orang yang dijamin surga. Tetapi ia masih takut hatinya tidak diterima oleh Allah. Inilah : muhasabah para salihin. Mereka tidak pernah merasa aman dari dosa.

Jika Engkau Baik, Tambahkan Amal

Saudara-saudaraku…

Jika setelah kita menghisab diri kita merasa telah berbuat baik di Ramadhan ini, maka tambahkanlah amal. Karena sesungguhnya apa yang kita lakukan masih sedikit.

Allah berfirman: “Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (QS. Ali Imran: 133)

Perhatikan kata “wasāri‘ū” — bersegeralah.

Artinya, dalam kebaikan kita tidak boleh berjalan pelan. Dalam ibadah kita tidak boleh santai. Orang yang mencintai Allah selalu merasa waktunya terlalu sedikit untuk beramal.

Jika Engkau Lalai, Pintu Masih Terbuka. Tetapi jika dalam muhasabah kita menemukan kenyataan pahit…

Bahwa Ramadhan kita penuh kelalaian. Tarawih yang bolong-bolong. Al-Qur’an yang jarang dibaca. Doa yang hanya sesekali. Jangan putus asa. Karena pintu Allah masih terbuka.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari.” (HR. Muslim)

Selama kita masih hidup, pintu taubat tidak pernah tertutup. Apalagi di malam-malam terakhir Ramadhan.

Kisah Seorang Pendosa yang Diampuni

Dalam sebuah hadis yang sangat terkenal, Rasulullah menceritakan kisah seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang.

Ia datang kepada seorang alim dan bertanya:

“Apakah masih ada taubat bagiku?”

Sang alim menjawab: “Ada.”

Lelaki itu kemudian berangkat menuju tempat orang-orang saleh untuk memperbaiki hidupnya. Di tengah perjalanan ia meninggal. Malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih tentang nasibnya. Akhirnya Allah memutuskan ia termasuk orang yang diampuni.

Hadis ini diriwayatkan oleh Nabi Muhammad dalam Shahih Muslim.

Apa pelajarannya?

Jika pembunuh 99 orang saja masih punya kesempatan kembali kepada Allah… Apalagi kita yang dosanya tidak sebanyak itu.

Kesempatan Terakhir

Saudara-saudaraku…

Di ujung Ramadhan ada malam yang sangat istimewa: Lailatul Qadar.

Allah berfirman: “Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.”(QS. Al-Qadr: 3)

Seribu bulan itu kira-kira 83 tahun ibadah.

Bayangkan…
Satu malam bisa bernilai seperti ibadah sepanjang umur manusia. Karena itu Rasulullah SAW pada sepuluh malam terakhir Ramadhan: mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam, dan membangunkan keluarganya. Beliau tidak mau melewatkan kesempatan terakhir ini.

Jangan Biarkan Ramadhan Pergi Tanpa Bekas

Saudara-saudaraku…

Ramadhan itu seperti tamu agung. Ia datang membawa rahmat. Ia datang membawa ampunan. Tetapi tamu ini tidak tinggal lama. Sebentar lagi ia akan pergi.

Pertanyaannya bukan: “Apakah Ramadhan akan pergi?” Itu pasti.

Pertanyaannya adalah: “Apakah Ramadhan meninggalkan perubahan dalam diri kita?”

Jika setelah Ramadhan: shalat kita tetap malas, Al-Qur’an kembali ditinggalkan, lidah kembali suka menyakiti, maka Ramadhan hanya lewat di kalender, tetapi tidak pernah masuk ke hati kita.

Nasihat Imam Hasan Al-Bashri

Seorang ulama besar, Hasan al-Basri, pernah berkata: “Wahai anak Adam. Engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka sebagian dirimu telah pergi.”

 Artinya, umur kita sebenarnya sedang berkurang setiap hari. Ramadhan yang pergi bukan hanya Ramadhan yang hilang. Tetapi juga sebagian umur kita yang tidak akan kembali lagi.

Seruan kepada Diri

Karena itu, sebelum Ramadhan benar-benar meninggalkan kita, marilah kita berkata kepada diri kita sendiri:  “Wahai diriku. Jika engkau telah berbuat baik, maka tambahkanlah amalmu. Karena apa yang kau kumpulkan masih sedikit.”

 “Dan jika engkau telah lalai, maka bangunlah sekarang. Karena pintu Allah masih terbuka.”

Jangan tunggu Ramadhan tahun depan. Tidak ada yang bisa menjamin kita masih hidup sampai saat itu. Bisa jadi ini Ramadhan terakhir kita.

Maka mari kita akhiri Ramadhan ini dengan: taubat yang sungguh-sungguh, doa yang tulus, dan hati yang kembali kepada Allah. Semoga ketika Ramadhan pergi, tidak meninggalkan kita dalam keadaan rugi. Tetapi meninggalkan kita sebagai hamba yang telah diampuni dosa-dosanya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

TH. Pojok Kecil Laa-Roiba-Muaraenim, 14 Maret 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *