HARLAH GP ANSOR 92, Hijaukan Bumi dan Perkuat Kesolidan Kader ANSOR-BANSER

Oleh : Aditya Chandra Utama S Kom I

Aditya Chandra Utama S Kom I

KOTA BENGKULU – Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) merupakan organisasi kepemudaan yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama (NU), dengan tujuan utama untuk membina dan memberdayakan pemuda Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Sejarah berdirinya GP Ansor tidak dapat dilepaskan dari dinamika sosial-politik bangsa Indonesia serta kebutuhan untuk menghadirkan pemuda Islam yang militan, berakhlak mulia, dan memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi.

Cikal bakal GP Ansor bermula pada tahun 1924 dengan berdirinya Syubbanul Wathan, sebuah organisasi pemuda Islam yang aktif dalam kegiatan keagamaan dan kebangsaan.

Organisasi ini dipelopori oleh tokoh muda Nahdliyin seperti KH. Abdul Wahab Chasbullah dan kawan-kawan (dkk).

Mereka merasa perlu membentuk wadah kaderisasi pemuda yang mampu menjawab tantangan zaman dan membela agama serta bangsa.

Pada 24 April 1934, Syubbanul Wathan meleburkan diri ke dalam organisasi baru bernama Ansor Nahdlatul Oelama (ANO) yang lebih terorganisir dan secara resmi menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama.

ANO menjadi fondasi penting dalam pergerakan pemuda NU, dan pada masa itu telah banyak melakukan konsolidasi dan pendidikan kader untuk menghadapi tantangan kolonialisme dan arus modernisasi yang tidak sejalan dengan nilai-nilai keislaman tradisional.

Namun karena dinamika organisasi dan politik pada masa penjajahan, aktivitas ANO sempat mengalami penurunan.

Baru setelah kemerdekaan Republik Indonesia, pada tahun 1949, organisasi ini direvitalisasi dan diresmikan kembali dengan nama Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor).

Sejak saat itulah, GP Ansor menjadi organisasi resmi di bawah payung Nadhlatul Ulama (NU) yang berfokus pada kaderisasi dan penguatan peran pemuda dalam kehidupan keagamaan, kebangsaan, dan sosial.

Peran GP Ansor semakin menonjol ketika organisasi ini membentuk Barisan Ansor Serbaguna (BANSER), yang awalnya merupakan bagian dari laskar perjuangan pada masa revolusi kemerdekaan.

BANSER kemudian berkembang menjadi satuan pengamanan dan sosial GP Ansor yang dikenal karena kedisiplinannya, keterlibatannya dalam bantuan bencana, serta pengamanan kegiatan keagamaan.

Memasuki era Reformasi, GP Ansor bangkit sebagai kekuatan muda NU yang lebih progresif.

Organisasi ini mulai terlibat lebih aktif dalam wacana demokrasi, pluralisme, toleransi antar ummat beragama, serta perlawanan terhadap radikalisme.

Sejumlah program kaderisasi ANSOR dan juga BANSER seperti PKD (Pelatihan Kepemimpinan Dasar) atau DTD (Diklat Terpadu Dasar ANSOR – BANSER.

Selanjutnya, PKL (Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan) ANSOR, Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) ANSOR hingga Susbalan (Khusus BANSER Lanjutan) dan Susbanpim (Khusus BANSER Pimpinan) menjadi program unggulan dalam mencetak kader-kader ANSOR – BANSER yang militan, cerdas, berakhlak mulia dan visioner.

GP Ansor juga menjadi pelopor dalam gerakan Islam Nusantara, sebuah pendekatan dakwah Islam yang ramah, menghargai budaya lokal, dan menolak ekstremisme.

Pendekatan ini menjadikan GP Ansor sebagai salah satu benteng utama dalam menjaga keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan memperkuat wawasan kebangsaan generasi muda.

Hingga hari ini, GP Ansor terus berkembang dan memiliki cabang di hampir seluruh pelosok Indonesia.

Organisasi ini telah melahirkan banyak tokoh nasional dari berbagai bidang politik, keagamaan, Akademisi (Dosen), Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Komisioner Badan Pengawas PEMILU (BAWASLU).

BACA JUGA

BUMI MERAH PUTIH, MEWUJUDKAN BENGKULU MANDIRI BERBASIS MARITIM, AGRARIS DAN EKONOMI MASA DEPAN

GeberMas, Sucikan Hati, Jiwa dan Lingkungan Sambut Ramadhan 1447 H / 2026 M

Selain itu, Aparatur Sipil Negara (ASN) baik di Instansi Vertikal (Kementerian Pusat) dan Pemerintah Daerah (PEMDA) hingga pengusaha yang tetap berkomitmen pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah dan kebangsaan.

Dengan semangat “Bergerak Bersama Ummat”, GP Ansor terus meneguhkan dirinya sebagai organisasi pemuda yang tidak hanya berperan dalam dakwah dan sosial, tetapi juga menjadi garda depan dalam membela nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan keutuhan bangsa Indonesia.

Lalu, melalui momentum Hari Lahir (Harlah) Gerakan Pemuda Ansor yang ke-92 ini khususnya kader GP ANSOR Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu dalam rangka mensupport kebijakan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Dan terkhusus Menteri Agama Republik Indonesia untuk pelestarian alam dan lingkungan maka dilakukanlah penghijauan dengan cara membagikan bibit-bibit pohon unggulan seperti bibit pohon duren, kelengkeng, alvukat, rambutan, mangga dan bibit pohon lainnya guna mendorong pertumbuhan penghijauan lahan yang asri, sejuk dan bebas polusi udara.

Ekoteologi merupakan perpaduan antara pendekatan-pendekatan agama dengan isu-isu lingkungan, atau dengan bahasa lain, bagaimana kita menyelesaikan permasalahan-permasalahan lingkungan dengan pendekatan agama.

Penerapan ekoteologi ini menurut penulis sangat penting karena agama sejatinya mengajarkan umatnya untuk menghargai dan merawat bumi.

Konsep ekoteologi mengajak kita untuk tidak hanya menjaga hubungan dengan Tuhan, tetapi juga menjaga kelestarian bumi sebagai bagian dari tanggung jawab iman.

Dalam menghadapi krisis lingkungan global yang semakin parah, kita harus menyadari bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya masalah alam, tetapi juga masalah moral dan sosial.

Sebagai ummat beragama, kita harus memiliki kesadaran untuk menjaga alam sebagai bagian dari tanggung jawab kita terhadap ciptaan Tuhan.

Sejalan dengan pentingnya isu ini, Kementerian Agama Republik Indonesia juga telah mengeluarkan kebijakan baru yang mendorong penerapan prinsip-prinsip ekoteologi di lingkungan kerja Kementerian dan satuan kerja (satker) di seluruh Indonesia.

Kebijakan ini menekankan integrasi nilai-nilai keagamaan dalam upaya pelestarian lingkungan, termasuk anjuran untuk melakukan penanaman pohon, pengelolaan sampah berbasis lingkungan, serta penggunaan sumber daya secara bijaksana di setiap instansi Kemenag.

Ekoteologi memberikan dasar bagi ummat beragama untuk aktif terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan.

Jadi, ekoteologi bukan sekadar teori, tetapi tindakan nyata yang harus dimulai dari hal-hal kecil, seperti mengurangi penggunaan barang-barang konsumtif, beralih ke pola hidup hemat, serta ramah lingkungan.

Jika setiap individu berkomitmen untuk bertindak, dampaknya akan terasa tidak hanya di level pribadi, tetapi juga di masyarakat dan bahkan global.

Melalui peringatan HARLAH (Hari Lahir) Gerakan Pemuda ANSOR (GP ANSOR) ke-92 tahun 2026 ini mari kita perkuat kesolidan kader-kader ANSOR dan BANSER (Barisan ANSOR Serbaguna) diseluruh penjuru Nusantara dalam bingkai ukhuwah (persaudaraan) dibawah panji dakwah Ahlul Sunnah Wal jama’ah Nadhlatul Ulama (NU) ini.

Mari kita lestarikan alam dan lingkungan sekitar kita dengan program penghijauan lahan melalui pendekatan ekoteologi sehingga alam bisa bersahabat dengan kita dan kita juga bisa merasakan kesejukan, keasrian, kelestarian alam yang semakin bersahabat dengan Insan ciptaan Allah SWT berupa kita ini.

Sekali lagi kami ucapkan ‘Selamat HARLAH GP ANSOR Ke-92’!!!

Semoga di HARLAH GP ANSOR ke-92 tahun 2026 ini, Kader ANSOR – BANSER yang tersebar di seluruh penjuru INDONESIA ini, GP ANSOR semakin maju, semakin berdedikasi tinggi, semakin berkontribusi dan semakin tinggi upaya peningkatan ekoteologi dan pelestarian lingkungan sekitar sehingga alam Indonesia kita semakin sehat, asri, makmur dan bebas polusi udara.

Salam takzim dari kami Sahabat-Sahabat ANSOR – BANSER dari Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu untuk seluruh Kader ANSOR – BANSER diseluruh penjuru Nusantara dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini!!!


(Penulis ialah Anggota Gerakan Pemuda ANSOR Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu dan juga ASN Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kota Bengkulu)

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *