Menjaga Silaturahmi di Tengah Riuh Zaman Digital

Halal bi Halal MWC NU Lawang Kidul dan Potong Tumpeng Pengajian Tombo Ati

FOTO BERSAMA - Pengurus, Anggota dan sebagian Jemaah NU foto bersama, (Foto.Dok. MWC NU Lawang Kidul)

Tanjung Enim — Halaman rumah sesepuh NU Muaraenim, Kiai Abdul Majid di belakang Masjid Jami’ PTBA, Tanjung Enim, siang itu dipenuhi wajah-wajah yang datang dengan satu niat: merajut kembali yang sempat renggang. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Lawang Kidul menggelar halal bihalal yang dirangkai dengan syukuran Pengajian Tombo Ati, Sabtu (16/4/2026), pukul 14.00–17.00 WIB.

Hadir dalam kegiatan tersebut pengurus dan anggota MWC NU Lawang Kidul, Ketua MWC NU H Herli Cik Madan, badan otonom NU seperti Banser, jemaah Pengajian Tombo Ati, para kiai, serta warga Nahdliyin di Kecamatan Lawang Kidul.

Acara berlangsung sederhana, namun sarat makna. Di tengah suasana hangat itu, Kiai Abdul Majid, selaku tuan rumah sekaligus sesepuh NU Kabupaten Muaraenim, mengingatkan pentingnya memanfaatkan waktu hidup untuk saling memaafkan.

“Selagi kita masih diberi umur, di situlah kesempatan untuk saling memaafkan. Jika sudah meninggal, tidak ada lagi ruang untuk itu,” ujarnya dalam sambutan.

Ustadz Imron Supriyadi, S,Ag, M.Hum saat menyampaikan ceramah di acara Halal Bi Halal (Foto. Dok.MWCNU Lawang Kidul).

Alumnus IAIN Raden Fatah Palembang 1997 ini menegaskan, kesalahan kepada Allah dapat ditebus dengan istighfar, tetapi kesalahan kepada sesama hanya dapat diselesaikan dengan saling memaafkan. Momentum halal bihalal, menurut dia, menjadi jembatan sosial dan spiritual untuk membersihkan relasi antarmanusia.

Lebih jauh, ia menyinggung relasi suami-istri sebagai ruang paling dekat untuk mempraktikkan nilai itu. “Tidak perlu menunggu Lebaran. Jika ada salah, segera saling memaafkan. Menunda hanya akan memperpanjang jarak,” katanya.

Dengan gaya tutur khas kiai kampung yang renyah, ia juga menyentuh dinamika rumah tangga. Bahkan, dalam kelakar yang disambut tawa jemaah, ia menyebut “kecerewetan” sebagai salah satu jalan latihan kesabaran. “Bisa jadi itu cara Allah mendidik kita,” ujarnya.

Sementara itu, penceramah Imron Supriyadi, S.Ag., M.Hum., Sekretaris JATMAN Muaraenim dan dosen UIN Raden Fatah Palembang, mengajak jemaah melihat halal bihalal dalam perspektif sejarah dan kekinian.

Lebih lanjut, Alumni Pondok Pesantren Modern Islam (PPMIA) As-Salaam Sukoharjo Jawa Tengah ini menjelaskan, tradisi tersebut lahir di Indonesia, diprakarsai KH Wahab Hasbullah pada 1948, sebagai upaya meredakan ketegangan politik pascapemilu.

“Halal bihalal itu bukan sekadar tradisi, tetapi ruang silaturahmi, islah, dan mencari keberkahan,” tegas Pengasuh Pondok Pesantren Laa Roiba Muaraenim ini.

Dalam konteks kekinian, ia menyoroti perubahan pola silaturahmi di era digital. Relasi sosial, menurutnya, kini kerap diuji oleh hal-hal sepele yang diperbesar melalui media sosial.

“Jangan sampai silaturahmi putus hanya karena pesan singkat. Jangan mudah tersinggung di ruang digital,” katanya.

Ia mengibaratkan telepon genggam sebagai pisau bermata dua: dapat menjadi alat kebaikan, tetapi juga berpotensi melukai jika digunakan tanpa kendali. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga etika komunikasi, termasuk dalam menulis komentar.

Lebih tajam lagi, ia mengkritik kebiasaan bergunjing yang masih menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Dalam ajaran Islam, perbuatan itu diibaratkan seperti memakan bangkai saudara sendiri.

“Sering kali kita tidak sadar, obrolan ringan justru berisi gunjingan. Padahal itu merusak pahala dan memutus silaturahmi,” ujarnya.

Ia juga menyinggung fenomena serupa dalam dunia politik, di mana saling menjatuhkan menjadi hal lazim. Namun, melalui momentum halal bihalal, ia mengajak semua pihak untuk melakukan koreksi diri.

“Jangan sampai keseharian kita diisi dengan ‘lauk’ berupa gunjingan. Mari kita hentikan itu,” katanya.

Menurut Imron, halal bihalal bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang refleksi untuk menata kembali arah hidup. Ia mengutip pesan Al-Qur’an agar setiap manusia memperhatikan bekal yang dipersiapkan untuk masa depan, yakni kehidupan setelah kematian.

Acara ditutup dengan doa yang dipimpin Kiai Sobirin. Setelah itu, dilakukan pemotongan tumpeng oleh Kiai Abdul Majid sebagai simbol syukur atas keberlangsungan Pengajian Tombo Ati. Di tengah kebersamaan yang terjalin, halal bihalal itu menjadi lebih dari sekadar tradisi—ia menjelma menjadi ikhtiar merawat persaudaraan di tengah perubahan zaman.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *