Diguyur Hujan, Bupati Muara Enim tetap Hadiri MILAD ke-7 Pesantren Laa Roiba

Kedatangan Bupati disambut langsung oleh Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren Laa Roiba

Di Tengah Hujan, Bupati Muara Enim, H Edison, Sh, M. Hum, Hadiri Laa Roiba dan Menyalakan Harapan Anak Yatim

MUARA ENIM – Hujan deras yang mengguyur sejak pagi tak menyurutkan langkah ratusan tamu menghadiri Milad ke-7 dan Haflatul Wada’ ke-5 Pondok Pesantren Laa Roiba Muara Enim, belum lama ini, Kamis (7/5/2026).

Acara yang digelar di halaman utama pondok pesantren itu berlangsung khidmat dan penuh nuansa religius.

Sejak pukul 06.30 WIB, tim panitia sudah sibuk melakukan berbagai persiapan. Namun pada pukul 08.18 WIB, hujan deras mengguyur kawasan pondok.

Tenda dan halaman utama yang telah dipenuhi tamu undangan sempat diguyur air hujan. Meski demikian, suasana tetap hangat dan penuh antusiasme.

Sekitar 500 lebih tamu undangan hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai kalangan.

Mulai dari unsur OPD Pemerintah Kabupaten Muara Enim, Drs. Andi Wijaya, M.M, Asisten Pemerintahan dan Kesra, Iskandar, S.Kom., M.M, Kabag Kesra Stda Kabupaten Muaraenim, Polres, Kodim, pimpinan BUMN dan BUMD, para ulama, pimpinan pondok pesantren, organisasi kemasyarakatan Islam, jamaah majelis taklim, para ketua pengurus masjid di Muara Enim, tokoh politik, Ketua BAZNAS Muaraenim, A Nizom, S.Ag, Ketua MUI Muaraenim, KH Dr Solehan, S.Ag, M.Pd.I, Ketua JATMAN Muaraenim, Kiai Mahfdud, para camat, kepala desa, hingga wali santri yang pada hari itu mengikuti prosesi wisuda santri Pondok Pesantren Laa Roiba.

penghormatan kegiatan dakwah

Bupati Muara Enim, H Edison, SH, M.Hum  hadir bersama istri, Hj. Heni Pertiwi Edison, S.Pd di tengah guyuran hujan deras. Kedatangan orang nomor satu di Kabupaten Muara Enim itu menjadi perhatian para tamu.

Dengan dipayungi ajudan, Edison bersama istri tetap berjalan menuju lokasi acara sebagai bentuk penghormatan terhadap kegiatan dakwah dan pendidikan agama tersebut.

Kedatangan Bupati disambut langsung oleh Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren Laa Roiba, KH Taufik Hidayat, S.Ag, M.I, Kom, bersama istri, Hj Tina Mardiana, SE dengan pengalungan sorban kepada Bupati dan istri sebagai simbol penghormatan dan silaturahmi.

Dai Cilik dan SQ

Suasana acara semakin khidmat dengan berbagai penampilan santri dan kelompok seni Islami. Salah satunya ceramah agama yang disampaikan dai cilik Musyafa, santri MI Laa Roiba, yang tampil percaya diri di hadapan ratusan tamu undangan.

Selain itu, Tim Marawis Al Hidayah Tanjung Jati turut memeriahkan acara dengan lantunan shalawat. Penampilan Syarhil Quran (SQ) santri Laa Roiba, yang menjadi juara MTQ ke-42 Kabupaten Muara Enim tahun 2026, juga mendapat apresiasi meriah dari hadirin.

dimulai sejak 2018

Dalam sambutannya, KH Taufik Hidayat mengisahkan perjalanan berdirinya Pondok Pesantren Laa Roiba yang dimulai sejak 2018. Meski usianya masih relatif muda, pondok tersebut didirikan dengan cita-cita besar untuk menjadi rumah pendidikan bagi anak-anak yatim dan dhuafa.

Foto Berssma usai acara MILAD ke-7 PP Laa Roiba, Bupati Muaraenim, H Edison, SH, M.Hum dan Isteri, serta KH Taufik Hidayat, S.Ag, M.I, Kom beserta isteri dan para undangan lainnya., Kamis, 7 Mei 2026
Foto Berssma usai acara MILAD ke-7 PP Laa Roiba, Bupati Muaraenim, H Edison, SH, M.Hum dan Isteri, serta KH Taufik Hidayat, S.Ag, M.I, Kom beserta isteri dan para undangan lainnya., Kamis, 7 Mei 2026

“Pondok ini kami dirikan khusus untuk anak-anak yatim dan dhuafa. Karena sejak SMA sampai kuliah saya banyak bersentuhan langsung dengan kehidupan mereka,” ujarnya.

Ia mengaku pernah berjualan roti di sekitar rumah susun di Palembang, berjualan sapu hingga mainan anak-anak di pasar. Dari pengalaman itulah ia menyaksikan banyak anak yang seharusnya sekolah justru harus membantu orang tua, bahkan ada yang hidup tanpa orang tua.

“Kegelisahan itu kemudian saya tuangkan dalam skripsi berjudul Islam Pembebas Kaum Mustadhafin, terinspirasi dari pemikiran Ali Syariati,” katanya.

tidak ada keraguan

Dari kegelisahan tersebut lahirlah keyakinan untuk mendirikan Pondok Pesantren Laa Roiba. Nama “Laa Roiba” sendiri diambil dari Surah Al-Baqarah yang berarti “tidak ada keraguan”.

“Tidak ragu membela yatim. Tidak ragu memperjuangkan dhuafa,” tegasnya.

KH Taufik menegaskan seluruh santri di pondok tersebut belajar secara gratis. Namun proses penerimaan dilakukan sangat selektif melalui survei langsung ke lapangan.

“Kami tidak hanya melihat berkas. Kami cek langsung kondisi keluarga, bahkan bertanya kepada tetangga sekitar. Kadang yang mendaftar seratus orang, setelah diverifikasi hanya lima puluh yang benar-benar layak disebut yatim dan dhuafa,” ujarnya.

amanat konstitusi

Ia menyebut perjuangan yang dilakukan Pondok Pesantren Laa Roiba juga menjadi bagian dari amanat konstitusi sebagaimana tertuang dalam UUD 1945 Pasal 34 ayat 1, bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Selain itu, nilai-nilai Surah Al-Ma’un menjadi dasar perjuangan pondok dalam membela kaum dhuafa dan anak yatim.

memiliki nilai yang sangat penting

Sementara itu, Bupati Muara Enim Edison dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap perjuangan Pondok Pesantren Laa Roiba dalam membangun pendidikan agama di Kabupaten Muara Enim.

Menurut Edison, kegiatan keagamaan seperti ini memiliki nilai yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat dan layak mendapat perhatian bersama. Ia mengaku sengaja hadir bersama istri sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan dakwah dan pendidikan Islam.

“Bukan berarti kegiatan lain tidak penting, tetapi kegiatan yang berkaitan dengan dakwah dan pendidikan agama memiliki nilai yang besar bagi kehidupan masyarakat,” ujarnya.

menjadi amal jariyah

Edison juga mengajak masyarakat untuk ikut membersamai perjuangan pondok pesantren, baik melalui dukungan moral maupun sedekah untuk pendidikan umat. Ia menyebut bantuan untuk pembangunan pendidikan agama akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

Dalam kesempatan itu, Edison juga meminta jajaran terkait mencatat kondisi jalan menuju pondok pesantren yang mulai rusak agar segera dilakukan pemeliharaan. Menurutnya, akses menuju pondok perlu diperbaiki agar aktivitas santri dan masyarakat tidak terganggu, terutama saat musim hujan.

Muara Enim cukup baik

Selain itu, Edison mengingatkan masyarakat agar tetap bersyukur di tengah kondisi efisiensi anggaran yang terjadi hampir di seluruh Indonesia.

Menurutnya, Muara Enim masih berada dalam kondisi yang cukup baik dibanding sejumlah daerah lain yang mengalami keterlambatan pembayaran hak pegawai.

“Kita harus tetap optimistis dan bersyukur kepada Allah SWT. Apa pun keadaannya, mari tetap fokus bekerja dan membangun daerah,” katanya.

Di akhir sambutannya, Edison bersama istri juga menyerahkan bantuan sebagai bentuk perhatian kepada keluarga besar Pondok Pesantren Laa Roiba. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan prosesi Haflatul Wada’ santri yang berlangsung penuh haru.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *