Jakarta | Di tengah gegap gempita revolusi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), Samsung Electronics menghadapi situasi yang ironis sekaligus penuh tantangan.
Perusahaan yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai raksasa smartphone dunia kini justru berhadapan dengan ancaman kerugian di lini bisnis ponselnya sendiri.
Di satu sisi, divisi semikonduktor Samsung menikmati lonjakan keuntungan berkat tingginya permintaan chip memori untuk server AI global.
Namun di sisi lain, divisi mobile yang menjadi wajah utama perusahaan menghadapi tekanan biaya yang semakin berat akibat kelangkaan komponen memori.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana AI tidak hanya menciptakan peluang ekonomi baru, tetapi juga mengubah keseimbangan industri teknologi secara drastis.
Peringatan internal yang disampaikan TM Roh, pimpinan divisi mobile Samsung, menjadi sinyal bahwa tahun 2026 bisa menjadi periode yang sulit bagi bisnis smartphone perusahaan tersebut.
Bahkan, ada kekhawatiran bahwa lini ponsel Samsung berpotensi mencatat kerugian tahunan sesuatu yang sebelumnya hampir tak pernah dibayangkan pada perusahaan sebesar Samsung.
Pusat persoalan berada pada chip memori LPDDR, komponen penting yang selama ini menjadi tulang punggung smartphone modern.
Chip ini digunakan untuk mendukung performa multitasking, efisiensi daya, hingga kemampuan fotografi berbasis AI pada perangkat premium.Namun kini, kebutuhan industri berubah.
Samsung Galaxy A37 5G Hadir untuk Generasi Kreator Digital Indonesia
Samsung Galaxy S27 Ultra, Saat Inovasi Kamera Mengambil Arah Berbeda
Ledakan pengembangan pusat data AI membuat permintaan terhadap chip memori melonjak tajam. Server AI membutuhkan memori dengan efisiensi daya tinggi dan performa cepat untuk menjalankan model-model kecerdasan buatan generatif.
Dalam kondisi seperti itu, LPDDR yang sebelumnya identik dengan smartphone kini menjadi rebutan industri data center.
Akibatnya, pasokan untuk industri mobile mulai menyusut.
Samsung sebagai produsen chip memori terbesar di dunia memilih langkah yang secara bisnis sangat rasional: memprioritaskan sektor yang memberikan keuntungan lebih besar.
Produksi LPDDR4 mulai dihentikan, sementara kapasitas manufaktur dialihkan ke LPDDR5 yang lebih dibutuhkan pasar AI.
Strategi ini memang memperkuat posisi Samsung di industri semikonduktor global. Namun konsekuensinya tidak kecil.
Divisi mobile Samsung harus membeli komponen dengan harga lebih tinggi di tengah tekanan pasar smartphone yang sebenarnya sedang melambat.
Ironi inilah yang kini menjadi dilema utama Samsung: ketika satu divisi tumbuh pesat, divisi lain justru menanggung bebannya.
Dalam beberapa tahun terakhir, pasar smartphone global memang tidak lagi seagresif era sebelumnya.
Konsumen kini lebih lama mengganti perangkat karena inovasi yang dianggap tidak terlalu revolusioner. Di saat bersamaan, biaya produksi terus meningkat.
Menurut sejumlah laporan industri, komponen memori kini menyumbang porsi signifikan dalam kenaikan biaya perangkat premium.
DRAM dan penyimpanan internal bahkan disebut berkontribusi besar terhadap lonjakan harga smartphone flagship.
Tidak heran jika harga ponsel premium terus merangkak naik.
Produk-produk seperti Samsung Galaxy S26 dan Samsung Galaxy Z Flip 7 memang masih mencatat angka pemesanan awal yang cukup kuat. Namun kenaikan harga membuat pasar semakin sensitif.
Bagi banyak konsumen, smartphone premium kini mulai dianggap sebagai barang mewah, bukan kebutuhan rutin.
Situasi ini menciptakan lingkaran tekanan yang rumit. Ketika biaya produksi naik, perusahaan harus menaikkan harga jual.
Namun harga yang lebih mahal justru berpotensi menurunkan permintaan. Akibatnya, margin keuntungan menjadi semakin tipis.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, Samsung juga menghadapi tantangan internal. Serikat pekerja di sektor semikonduktor dan manufaktur dikabarkan mulai menuntut kenaikan bonus dan kesejahteraan yang lebih besar, seiring melonjaknya keuntungan perusahaan dari bisnis chip AI.
Jika tuntutan ini berkembang menjadi aksi mogok kerja berkepanjangan, dampaknya bisa sangat serius. Gangguan produksi chip akan memperparah ketegangan rantai pasok yang saat ini sudah rapuh.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa era AI tidak hanya menghadirkan kompetisi teknologi, tetapi juga perebutan sumber daya industri.
Dulu, industri smartphone menjadi pusat utama inovasi teknologi global. Kini posisi itu mulai bergeser ke AI dan pusat data.
Perusahaan-perusahaan teknologi besar berlomba membangun infrastruktur AI, mulai dari server, GPU, hingga memori berkapasitas tinggi.
Perubahan ini membuat prioritas produksi chip ikut berubah.
Samsung bukan satu-satunya perusahaan yang menghadapi tekanan tersebut. Namun sebagai perusahaan yang memiliki bisnis smartphone sekaligus semikonduktor dalam skala besar, dampaknya terasa jauh lebih kompleks.
Di satu sisi, Samsung memperoleh keuntungan besar dari ledakan AI. Di sisi lain, AI juga menjadi faktor yang “memakan” bisnis smartphone mereka sendiri.
Fenomena ini menunjukkan bahwa revolusi teknologi sering kali melahirkan paradoks. Teknologi yang menciptakan pertumbuhan baru juga bisa menggeser bisnis lama yang sebelumnya dominan.
Bayangan kekurangan pasokan DRAM hingga 40 persen pada 2027 semakin mempertegas kekhawatiran tersebut.
Jika prediksi itu benar terjadi, maka industri smartphone global bisa memasuki fase baru dengan harga perangkat yang jauh lebih mahal dan persaingan yang semakin ketat.
Perusahaan yang gagal mengelola rantai pasok kemungkinan akan kehilangan daya saing.
Bagi Samsung, tantangan terbesar bukan hanya menciptakan smartphone inovatif, tetapi menjaga keseimbangan antar divisi bisnisnya sendiri.
Strategi perusahaan ke depan akan sangat menentukan apakah mereka mampu mempertahankan dominasi di pasar mobile atau justru kehilangan momentum akibat perubahan industri.
Dalam jangka panjang, Samsung mungkin harus memikirkan ulang model bisnisnya. Ketergantungan besar terhadap komponen memori membuat divisi mobile rentan terhadap gejolak industri semikonduktor.
Karena itu, efisiensi produksi, diversifikasi rantai pasok, hingga optimalisasi teknologi AI langsung di perangkat kemungkinan akan menjadi fokus utama perusahaan beberapa tahun mendatang.
Di tengah perubahan cepat dunia teknologi, satu hal menjadi semakin jelas: AI bukan lagi sekadar fitur tambahan dalam smartphone.
AI kini telah menjadi kekuatan utama yang mengubah arah industri global, menentukan siapa yang bertahan dan siapa yang tertinggal.
Dan bagi Samsung, pertarungan sesungguhnya mungkin bukan melawan kompetitor lain, melainkan menghadapi dampak revolusi teknologi yang mereka bantu ciptakan sendiri.
**












