Jakarta | Selama bertahun-tahun, lini Samsung Galaxy S dikenal sebagai simbol ponsel flagship Android. Seri ini identik dengan teknologi premium, kamera terbaik, layar AMOLED berkualitas tinggi, dan performa yang selalu berada di jajaran teratas.
Namun, perkembangan teknologi yang begitu cepat membuat tidak semua perangkat flagship mampu bertahan relevan dalam jangka panjang.
Memasuki 2026, sejumlah model lama Samsung Galaxy S mulai dianggap kurang layak dipilih, terutama untuk penggunaan utama sehari-hari.
Masalah usia perangkat, berhentinya pembaruan software, penurunan performa, hingga risiko kerusakan hardware menjadi alasan utama mengapa beberapa seri kini sebaiknya dihindari.
Salah satu yang paling sering dibicarakan adalah Samsung Galaxy S20 series. Ketika pertama kali dirilis pada 2020, seri ini menjadi salah satu flagship paling inovatif milik Samsung.
Kamera canggih, refresh rate tinggi, dan desain premium membuatnya sangat diminati. Namun, setelah lima tahun penggunaan, berbagai masalah mulai bermunculan, terutama pada layar AMOLED.
Kasus green line, green screen, hingga layar berkedip menjadi keluhan yang banyak ditemukan pada unit bekas Galaxy S20.
Kerusakan ini umumnya muncul akibat usia panel AMOLED yang mulai menurun. Ironisnya, biaya penggantian layar flagship Samsung terkenal mahal dan bisa mencapai jutaan rupiah. Akibatnya, membeli Galaxy S20 bekas di 2026 menjadi langkah yang cukup berisiko.
Nasib serupa juga mulai dialami Samsung Galaxy S21 Ultra dan lini Galaxy S21 lainnya. Meski performanya masih tergolong cepat, tantangan utamanya kini terletak pada dukungan software.
Samsung mulai menghentikan pembaruan sistem operasi dan keamanan untuk sebagian besar seri tersebut.
Di era digital modern, update software bukan lagi sekadar tambahan fitur. Pembaruan keamanan menjadi kebutuhan penting untuk melindungi data pengguna dari ancaman malware dan kebocoran privasi.
Smartphone tanpa dukungan update jangka panjang otomatis menjadi kurang aman untuk digunakan sebagai perangkat utama.
Sementara itu, Samsung Galaxy S10 mulai terasa terlalu tua untuk standar penggunaan masa kini. Smartphone yang dirilis pada 2019 itu memang masih memiliki desain premium dan layar AMOLED berkualitas.
Namun, keterbatasan baterai, absennya dukungan jaringan 5G, dan software yang sudah usang membuat pengalaman pengguna terasa tertinggal dibanding ponsel kelas menengah terbaru.
Hal yang menarik, beberapa smartphone flagship lawas kini justru kalah kompetitif dibanding perangkat mid-range modern.
Di 2026, ponsel kelas menengah sudah menawarkan layar 120Hz, baterai besar, pengisian cepat, kamera stabil, dan dukungan software panjang dengan harga lebih terjangkau.
Kondisi yang lebih berat dialami Samsung Galaxy S9. Seri yang dirilis pada 2018 itu kini mulai kesulitan mengikuti kebutuhan aplikasi modern.
Chipset Exynos 9810 dan Snapdragon 845 yang dulu tergolong sangat kuat kini mulai menunjukkan keterbatasan ketika menjalankan aplikasi berat atau game terbaru.
Selain performa, ukuran layar 5,8 inci yang dulu dianggap ideal kini terasa kecil di tengah tren smartphone layar besar.
Bagi sebagian pengguna, mengetik, menonton video, atau multitasking di layar kecil menjadi kurang nyaman. Daya tahan baterainya juga sudah jauh tertinggal dibanding standar smartphone masa kini.
Menariknya, daftar perangkat yang dianggap kurang menarik tidak hanya diisi model lama. Samsung Galaxy S23 FE yang relatif baru juga masuk dalam sorotan.
Secara spesifikasi, ponsel ini sebenarnya cukup kuat dengan chipset Exynos 2200 dan layar Dynamic AMOLED 2X. Namun, kritik terbesar datang dari sisi desain.
Banyak pengguna menilai Galaxy S23 FE terlalu mirip dengan seri Galaxy A yang lebih murah. Desain tiga kamera vertikal, bezel cukup tebal, dan bentuk bodi yang tidak terlalu premium membuat identitas flagship-nya terasa kurang kuat.
Padahal, salah satu alasan orang membeli seri Galaxy S adalah kesan eksklusif yang berbeda dari lini menengah.
Fenomena ini memperlihatkan perubahan besar dalam industri smartphone. Konsumen kini semakin kritis dan realistis dalam memilih perangkat.
Status flagship saja tidak lagi cukup jika perangkat sudah kehilangan dukungan software, memiliki risiko hardware, atau kalah value dibanding ponsel baru yang lebih murah.
Meski demikian, bukan berarti semua perangkat tersebut sepenuhnya buruk. Sebagian masih layak digunakan sebagai ponsel kedua, perangkat multimedia ringan, atau koleksi nostalgia teknologi.
Namun untuk penggunaan utama di 2026, konsumen perlu mempertimbangkan usia perangkat, dukungan software, dan biaya perawatan jangka panjang.
Pada akhirnya, membeli smartphone bukan hanya soal spesifikasi tinggi, tetapi juga soal keberlanjutan penggunaan.
Di era teknologi yang bergerak sangat cepat, perangkat terbaik bukan selalu yang paling mahal atau paling terkenal, melainkan yang paling relevan dengan kebutuhan masa kini.
**












