NTT Jadi Provinsi dengan Minat Baca Tertinggi, Literasi Indonesia Timur Mulai Bersinar

JAKARTA – Selama bertahun-tahun, pembicaraan mengenai budaya literasi nasional kerap berpusat pada kota-kota besar di Pulau Jawa. Namun data terbaru justru menghadirkan kejutan besar.

Nusa Tenggara Timur (NTT) kini tercatat sebagai provinsi dengan tingkat kegemaran membaca tertinggi di Indonesia berdasarkan data Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Dengan skor 62,05, NTT berhasil melampaui seluruh provinsi lain di Tanah Air. Capaian tersebut sekaligus mematahkan anggapan lama bahwa daerah timur Indonesia tertinggal dalam budaya literasi.

Menariknya lagi, tidak ada satu pun provinsi di Pulau Jawa yang masuk dalam 10 besar wilayah dengan minat baca tertinggi. Posisi kedua ditempati Nusa Tenggara Barat (61,19), disusul Sumatera Selatan (60,86) dan Maluku Utara (60,66).

Hasil itu menjadi sinyal bahwa geliat literasi nasional kini tumbuh dari daerah-daerah yang sebelumnya jarang mendapat sorotan.

Di tengah keterbatasan infrastruktur dan akses pendidikan di beberapa wilayah timur Indonesia, budaya membaca justru berkembang dengan cara yang lebih organik dan berbasis komunitas.

Banyak pihak menilai keberhasilan NTT tidak hadir secara tiba-tiba. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai gerakan literasi tumbuh kuat di daerah tersebut.

Mulai dari perpustakaan keliling, taman baca masyarakat, komunitas membaca anak, hingga program literasi sekolah yang digerakkan guru dan relawan lokal.

Di sejumlah desa, budaya membaca bahkan mulai menjadi bagian dari aktivitas harian anak-anak dan remaja.

Kehadiran ruang baca sederhana di rumah ibadah, sekolah, hingga balai desa turut membantu memperluas akses masyarakat terhadap buku dan bahan bacaan.

Wabup Dorong Kecamatan Punya Pojok Baca

Mulai 2027, Bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran wajib untuk siswa kelas 3 SD

Indeks TGM sendiri mengukur kebiasaan membaca masyarakat berdasarkan beberapa indikator, seperti frekuensi membaca, durasi membaca, jumlah bahan bacaan yang diakses, hingga intensitas penggunaan informasi.

Capaian NTT menunjukkan bahwa literasi tidak selalu bergantung pada kemajuan kota besar atau kemewahan fasilitas pendidikan. Semangat belajar masyarakat, dukungan komunitas, dan konsistensi gerakan membaca ternyata mampu menciptakan perubahan besar.

Pengamat pendidikan menilai keberhasilan tersebut bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia. Literasi bukan hanya soal kemampuan membaca buku, tetapi juga kemampuan masyarakat memahami informasi, berpikir kritis, dan membangun kualitas sumber daya manusia.

Di era digital saat ini, kemampuan literasi menjadi sangat penting karena masyarakat dibanjiri arus informasi dari berbagai platform media sosial dan internet. Rendahnya budaya membaca dapat membuat masyarakat lebih mudah terpengaruh hoaks dan disinformasi.

Karena itu, keberhasilan NTT menjadi simbol bahwa pembangunan manusia tidak selalu dimulai dari kota besar. Dari wilayah timur Indonesia, semangat membaca justru tumbuh kuat dan memberi harapan baru bagi masa depan literasi nasional.

Kini, NTT tidak hanya dikenal karena keindahan alam dan kekayaan budayanya, tetapi juga sebagai daerah yang berhasil menyalakan semangat membaca di tengah masyarakat.

**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *