Jakarta | Hubungan Indonesia dan Prancis memasuki babak baru yang lebih erat, khususnya di sektor pangan dan perdagangan internasional.
Dalam pertemuan bilateral yang berlangsung di Paris, Presiden Prancis Emmanuel Macron secara terbuka menyampaikan rasa senangnya setelah Indonesia resmi membuka pasar bagi produk susu dan daging sapi asal Prancis.
Pernyataan itu disampaikan langsung di hadapan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam suasana diplomatik yang hangat.
Momentum tersebut menjadi simbol semakin kuatnya kerja sama ekonomi kedua negara di tengah tantangan global terkait pangan dan energi.
Macron menilai keputusan Indonesia membuka akses impor susu dan daging sapi dari Prancis sejalan dengan strategi besar pemerintah Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya menguntungkan sektor pertanian Prancis, tetapi juga mendukung upaya Indonesia meningkatkan kualitas konsumsi masyarakat.
“Saya sangat senang pasar Indonesia kini terbuka untuk sektor susu dan daging sapi kami,” ujar Macron dalam keterangannya.
Ucapan tersebut mencerminkan optimisme Prancis terhadap peluang pasar Indonesia yang sangat besar.
Dengan jumlah penduduk yang terus bertambah dan kebutuhan pangan berkualitas yang meningkat, Indonesia dipandang sebagai mitra strategis bagi ekspor produk agrikultur Eropa.
Tiga Kali ke Perancis dalam Lima Bulan, Ada Apa di Balik Intensitas Diplomasi Prabowo?
Prabowo mengalokasikan sekitar Rp100 miliar dari APBN untuk pengadaan 1.098 sapi kurban
Di sisi lain, langkah Indonesia membuka keran impor pangan dari Prancis juga memperlihatkan pendekatan pragmatis pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan dan kualitas bahan pangan nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, isu ketahanan pangan menjadi salah satu fokus utama pemerintahan Prabowo, terutama menghadapi ketidakpastian geopolitik dan perubahan iklim global.
Selain membahas sektor pangan, Macron juga menyinggung pentingnya percepatan implementasi perjanjian dagang Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).
Menurutnya, kesepakatan tersebut akan membuka peluang perdagangan yang lebih luas antara Indonesia dan negara-negara Uni Eropa.
Macron menegaskan bahwa Indonesia dan Uni Eropa memiliki hubungan ekonomi yang saling melengkapi.
Karena itu, penghapusan hambatan perdagangan dan investasi dianggap penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kedua belah pihak.
Pertemuan bilateral tersebut juga menjadi panggung diplomasi investasi. Macron menyambut baik minat Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk memperluas investasi di Prancis.
Langkah itu menunjukkan bahwa hubungan ekonomi kedua negara tidak lagi hanya berfokus pada perdagangan barang, tetapi juga investasi jangka panjang.
Bagi Indonesia, kerja sama dengan Prancis dapat membuka akses teknologi, pengembangan industri pangan modern, hingga transfer pengetahuan di sektor peternakan dan pengolahan susu.
Sementara bagi Prancis, Indonesia merupakan pasar potensial sekaligus mitra penting di kawasan Asia Tenggara.
Kehangatan hubungan Prabowo dan Macron dalam pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa diplomasi ekonomi kini menjadi instrumen utama dalam memperkuat posisi negara di tengah persaingan global.
Di saat banyak negara menghadapi tekanan ekonomi dan krisis pangan, kolaborasi lintas negara menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan.
Kerja sama Indonesia dan Prancis pun diprediksi akan terus berkembang, tidak hanya dalam sektor pangan, tetapi juga energi, pertahanan, investasi, dan teknologi industri masa depan.
**












