Tiga Kali ke Perancis dalam Lima Bulan, Ada Apa di Balik Intensitas Diplomasi Prabowo?

Foto ist

Jakarta | Hubungan Indonesia dan Perancis tampaknya memasuki babak baru di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dalam kurun waktu kurang dari lima bulan sepanjang 2026, Prabowo tercatat sudah tiga kali mengunjungi Perancis.

Intensitas kunjungan tersebut sontak menarik perhatian publik dan memunculkan berbagai pertanyaan mengenai arah diplomasi luar negeri Indonesia di bawah kepemimpinannya.

Kunjungan pertama dilakukan pada Januari 2026 setelah Prabowo menyelesaikan agenda internasional di Davos, Swiss.

Selanjutnya, kunjungan kedua berlangsung pada April 2026 usai bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskwa.

Terbaru, Prabowo kembali menginjakkan kaki di Paris pada 27 Mei 2026 dalam rangka memenuhi undangan Presiden Perancis Emmanuel Macron.

Frekuensi kunjungan yang cukup tinggi ini dinilai bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari strategi diplomasi aktif Indonesia dalam memperkuat posisi geopolitik dan ekonomi di tengah dinamika global yang terus berubah.

Perancis selama ini dikenal sebagai salah satu kekuatan utama Eropa, baik dalam sektor pertahanan, ekonomi, teknologi, hingga diplomasi internasional.

Di mata Indonesia, hubungan dengan Perancis menjadi semakin strategis karena kedua negara memiliki kepentingan besar dalam menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik.

Pada kunjungan perdananya di Januari 2026, Prabowo melakukan jamuan santap malam pribadi bersama Emmanuel Macron di Istana Élysée, Paris.

Prabowo mengalokasikan sekitar Rp100 miliar dari APBN untuk pengadaan 1.098 sapi kurban

Prabowo pilih ciptakan lapangan kerja ketimbang bangun perkantoran baru

Pertemuan tersebut disebut menjadi momentum penting untuk membahas penguatan kerja sama bilateral di berbagai sektor strategis.

Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas kemitraan strategis dengan negara-negara Eropa sekaligus memperkuat kepercayaan internasional terhadap Indonesia.

Tidak berhenti di situ, kunjungan kedua pada April 2026 memperlihatkan pola diplomasi yang semakin aktif. Setelah menggelar pertemuan panjang bersama Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin, Prabowo langsung terbang ke Paris untuk bertemu Macron.

Langkah itu dianggap mencerminkan posisi Indonesia yang ingin tetap menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai kekuatan dunia tanpa terjebak dalam blok geopolitik tertentu.

Indonesia berusaha mempertahankan prinsip politik luar negeri bebas aktif di tengah meningkatnya tensi global.

Dalam pertemuan empat mata bersama Macron, Prabowo tidak hanya membahas kerja sama bilateral, tetapi juga menyampaikan posisi Indonesia terkait perdamaian dunia dan stabilitas internasional.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia ingin tampil sebagai negara yang aktif mendorong dialog dan kerja sama global, bukan sekadar menjadi pengamat dalam percaturan geopolitik internasional.

Kunjungan terbaru pada Mei 2026 juga memiliki makna tersendiri. Menteri Luar Negeri Sugiono menjelaskan bahwa kedatangan Prabowo kali ini merupakan pemenuhan undangan Emmanuel Macron yang sempat tertunda karena jadwal kedua pemimpin yang tidak sinkron.

Namun di balik alasan formal tersebut, banyak pengamat menilai hubungan personal antara Prabowo dan Macron mulai berkembang menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat hubungan kedua negara.

Diplomasi personal antar kepala negara memang sering kali menjadi kunci lahirnya kerja sama besar, mulai dari investasi, pertahanan, teknologi, hingga perdagangan internasional.

Perancis sendiri memiliki kepentingan besar di kawasan Asia Tenggara, khususnya terkait stabilitas Indo-Pasifik dan penguatan ekonomi global.

Sementara Indonesia membutuhkan mitra strategis yang mampu mendukung transformasi industri, modernisasi pertahanan, dan peningkatan investasi.

Karena itu, hubungan Indonesia–Perancis tidak lagi sekadar hubungan bilateral biasa, melainkan mulai bergerak menuju kemitraan strategis jangka panjang.

Di sektor pertahanan, Perancis menjadi salah satu negara yang cukup intens menjalin kerja sama dengan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Selain itu, potensi kerja sama di bidang energi hijau, teknologi digital, pendidikan, dan infrastruktur juga terus berkembang.

Bagi Prabowo, diplomasi internasional tampaknya menjadi salah satu instrumen utama untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai negara dengan pengaruh besar di kawasan Asia.

Kunjungan berulang ke Perancis juga mengirimkan sinyal bahwa pemerintah Indonesia ingin membangun jaringan kerja sama global yang lebih luas di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Di sisi lain, intensitas diplomasi ini menunjukkan bahwa Prabowo tidak hanya fokus pada agenda domestik, tetapi juga berupaya meningkatkan posisi tawar Indonesia dalam percaturan internasional.

Publik kini menunggu hasil konkret dari serangkaian pertemuan tersebut, apakah akan bermuara pada peningkatan investasi, kerja sama teknologi, penguatan pertahanan, atau bahkan pembukaan peluang ekonomi baru bagi Indonesia.

Yang jelas, tiga kali kunjungan ke Perancis dalam waktu singkat bukanlah agenda biasa. Ada kepentingan strategis besar yang sedang dibangun di balik hubungan erat Jakarta dan Paris.

**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *