JAKARTA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengungkapkan tiga faktor utama yang menyebabkan banyak Sekolah Dasar (SD) Negeri mengalami kekurangan murid pada tahun ajaran 2026/2027.
Hasil pendataan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan masih terdapat sejumlah SD dan SMP yang memiliki jumlah peserta didik di bawah 60 hingga 100 siswa.
Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta, Selasa (4/8/2026). Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah karena berkaitan langsung dengan efektivitas penyelenggaraan pendidikan dasar di berbagai daerah.
Mu’ti menjelaskan, penyebab pertama adalah menurunnya jumlah anak usia sekolah dasar di sejumlah wilayah. Berdasarkan hasil pengamatan Kementerian Dikdasmen, jumlah anak yang memasuki usia sekolah tidak lagi sebanyak beberapa tahun sebelumnya.
Ia mengakui bahwa faktor penyebab penurunan jumlah anak usia sekolah sangat kompleks dan dipengaruhi berbagai aspek, mulai dari perubahan demografi hingga dinamika sosial masyarakat.
Meski demikian, pemerintah masih terus melakukan kajian untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai fenomena tersebut.
“Penyebabnya tentu sangat kompleks, tetapi pada dasarnya jumlah anak usia sekolah memang semakin terbatas,” ujarnya.
Faktor kedua berkaitan dengan banyaknya jumlah SD Negeri yang tersebar di berbagai daerah. Menurut Mu’ti, kondisi ini merupakan dampak dari kebijakan pembangunan SD Inpres pada era Presiden ke-2 RI Soeharto yang bertujuan memperluas akses pendidikan dasar sekaligus memberantas buta huruf.
Kala itu, pemerintah membangun sekolah dasar hingga ke pelosok desa agar masyarakat memperoleh akses pendidikan yang lebih mudah. Akibatnya, hampir setiap desa memiliki sedikitnya satu SD Negeri, bahkan di beberapa wilayah terdapat lebih dari satu sekolah dasar dalam satu desa.
Kebijakan tersebut dinilai berhasil meningkatkan angka partisipasi pendidikan pada masanya. Namun, seiring berubahnya kondisi demografi dan menurunnya jumlah anak usia sekolah, keberadaan sekolah yang sangat banyak kini menyebabkan jumlah siswa tersebar sehingga sebagian sekolah mengalami kekurangan peserta didik.
“Pembangunan SD Inpres pada masa lalu merupakan langkah penting untuk pemerataan pendidikan. Namun saat ini, jumlah sekolah yang sangat banyak tidak lagi sebanding dengan jumlah anak usia sekolah di sejumlah daerah,” jelasnya.
Penyebab ketiga adalah meningkatnya minat masyarakat, khususnya keluarga muda dari kalangan menengah, untuk menyekolahkan anak di sekolah swasta. Menurut Mu’ti, tren tersebut terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Kemendiktisaintek Buka PKL Batch 2 2026, Kesempatan Emas Mahasiswa Asah Kompetensi
Prabowo Percepat Revitalisasi 71 Ribu Sekolah Diproyeksikan Serap 1,1 Juta Tenaga Kerja
Sejumlah orang tua kini mempertimbangkan berbagai faktor ketika memilih sekolah bagi anak, seperti kualitas layanan pendidikan, program pembelajaran, fasilitas, hingga kegiatan pengembangan karakter. Kondisi itu membuat sebagian sekolah swasta menjadi pilihan utama bagi keluarga muda.
Perubahan preferensi masyarakat tersebut berdampak pada berkurangnya jumlah pendaftar di SD Negeri, terutama di wilayah perkotaan dan daerah yang memiliki banyak pilihan sekolah swasta.
Pemerintah, lanjut Mu’ti, tengah melakukan pemetaan terhadap sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan murid sebagai dasar penyusunan kebijakan pendidikan ke depan.
Langkah tersebut bertujuan memastikan penyelenggaraan pendidikan tetap efektif, efisien, dan mampu memberikan layanan terbaik kepada peserta didik.
Evaluasi yang dilakukan juga akan mempertimbangkan kondisi geografis, jumlah penduduk usia sekolah, hingga kebutuhan layanan pendidikan di masing-masing daerah.
Pemerintah menegaskan bahwa setiap kebijakan yang diambil nantinya akan tetap mengutamakan hak masyarakat untuk memperoleh akses pendidikan yang berkualitas.
Selain itu, Kementerian Dikdasmen akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah guna merumuskan solusi jangka panjang terhadap fenomena berkurangnya jumlah murid di sekolah negeri.
Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga pemerataan layanan pendidikan sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah negeri.
Fenomena menurunnya jumlah peserta didik di SD Negeri menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan nasional. Pemerintah menilai diperlukan strategi yang adaptif terhadap perubahan demografi dan preferensi masyarakat agar sistem pendidikan dasar tetap mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa mengurangi kualitas layanan bagi seluruh peserta didik.
**












