Lombok Barat | Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, kekhawatiran terhadap stabilitas pangan global kembali mencuat.
Konflik yang terjadi di wilayah tersebut berpotensi memengaruhi rantai pasok dunia, termasuk distribusi bahan pangan.
Namun, pemerintah Indonesia memastikan kondisi dalam negeri tetap aman dan terkendali.
Menteri Koordinator Bidang Pangan “Zulkifli Hasan” menegaskan bahwa ketersediaan pangan nasional berada dalam kondisi stabil.
Pernyataan ini disampaikan saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun ke-68 Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat Ia menyebut bahwa produksi beras nasional mengalami peningkatan signifikan, sehingga Indonesia tidak lagi bergantung pada impor.
Menurutnya, lonjakan produksi beras mencapai lebih dari 4 juta ton pada tahun 2025 menjadi bukti bahwa sektor pertanian nasional semakin kuat.
Kondisi ini tidak terlepas dari strategi jangka panjang pemerintah, termasuk program swasembada pangan yang didorong oleh Presiden Prabowo Subianto
Selain beras, pemerintah juga memastikan ketersediaan komoditas lain seperti jagung, telur, ikan, ayam, dan sayuran dalam jumlah mencukupi.
Peningkatan produksi ini didukung oleh distribusi pupuk yang lebih optimal.
Jika sebelumnya pasokan pupuk berada di angka enam juta ton, kini meningkat menjadi sebelas juta ton dengan distribusi yang lebih tepat waktu.
Langkah ini menjadi kunci dalam menjaga produktivitas petani di tengah tantangan global.
Dengan dukungan sarana produksi yang memadai, sektor pertanian mampu menjadi penopang utama ketahanan pangan nasional.
Di tengah ketidakpastian dunia, Indonesia berupaya memperkuat fondasi dalam negeri.
Ketahanan pangan tidak hanya soal ketersediaan, tetapi juga kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan krisis global.
Dari sawah hingga meja makan, upaya menjaga stabilitas pangan kini menjadi prioritas strategis negara.
**












