Pagar Alam | Gunung Dempo yang berada di Kota Pagar Alam kembali mengalami erupsi pada Rabu (15/4/2026) sekitar pukul 11.45 WIB. Letusan kali ini menghasilkan kolom abu vulkanik setinggi ±3.500 meter di atas puncak atau sekitar ±6.673 meter di atas permukaan laut.
Informasi tersebut disampaikan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui laporan resmi yang dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa kolom abu teramati berwarna putih dengan intensitas sedang dan condong ke arah timur laut.
Secara instrumental, erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 30 mm dan durasi sekitar 13 menit 49 detik. Durasi yang cukup panjang ini menunjukkan adanya pelepasan energi yang signifikan dari aktivitas vulkanik Gunung Dempo.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam keterangan tertulisnya menjelaskan bahwa aktivitas erupsi terjadi di Kawah Marapi Gunung Dempo. Secara visual, kolom erupsi tampak tebal dengan arah sebaran menuju timur laut.
Ia juga memaparkan bahwa berdasarkan pemantauan kegempaan dalam periode 1 hingga 14 April 2026, tercatat beragam aktivitas seismik. Aktivitas tersebut meliputi gempa erupsi, gempa frekuensi rendah, gempa vulkanik dangkal dan dalam, hingga gempa tektonik lokal dan jauh. Selain itu, juga terdeteksi tremor menerus dengan amplitudo rendah yang menjadi indikator adanya dinamika di dalam tubuh gunung api.
Dari sisi deformasi, hasil pengamatan menggunakan tiltmeter di Stasiun Tugu Rimau menunjukkan adanya tren inflasi atau penggembungan sebelum erupsi pada 2 April 2026. Namun, tidak ditemukan perubahan deformasi yang signifikan menjelang erupsi pada 15 April.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan di bawah permukaan Gunung Dempo masih belum stabil. Akibatnya, erupsi berpotensi terjadi secara tiba-tiba tanpa didahului oleh tanda-tanda yang jelas di permukaan.
“Hal ini menunjukkan kondisi bawah permukaan gunung yang belum stabil, sehingga erupsi dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa gejala yang jelas,” ungkap Lana.
Secara visual, selama periode awal April, Gunung Dempo terlihat cukup jelas meski sesekali tertutup kabut. Kondisi cuaca di sekitar gunung bervariasi, mulai dari cerah hingga hujan, dengan suhu udara berkisar antara 18 hingga 28 derajat Celsius.
Karakter erupsi Gunung Dempo sendiri diketahui bertipe freatik, yaitu erupsi yang dipicu oleh tekanan uap air panas tanpa melibatkan magma secara langsung ke permukaan. Tipe erupsi ini dikenal sulit diprediksi karena dapat terjadi secara mendadak.
Saat ini, status aktivitas Gunung Dempo masih berada pada Level II (Waspada). Status ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik di atas kondisi normal, namun belum sampai pada tahap yang mengharuskan evakuasi besar-besaran.
Meski demikian, pihak berwenang mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat, pengunjung, dan wisatawan untuk tidak mendekati pusat aktivitas, khususnya di Kawah Marapi. Area tersebut dinilai berbahaya karena berpotensi terjadi lontaran material vulkanik serta paparan gas beracun.
Selain itu, masyarakat yang tinggal di sekitar lereng gunung juga diminta untuk tetap waspada terhadap kemungkinan hujan abu, terutama di wilayah yang berada di arah sebaran angin.
Peristiwa erupsi ini kembali menjadi pengingat bahwa aktivitas vulkanik di wilayah Sumatera Selatan masih terus berlangsung dan membutuhkan kewaspadaan bersama. Pemerintah melalui PVMBG akan terus melakukan pemantauan intensif guna memberikan informasi terkini kepada masyarakat.
Dengan kondisi yang masih dinamis, masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti perkembangan informasi resmi serta tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. Kesiapsiagaan dan kewaspadaan menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi bencana vulkanik yang dapat terjadi sewaktu-waktu. **












