Yogyakarta| Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu kampus paling bergengsi di Indonesia pada tahun ajaran 2026/2027.
Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) menjadi salah satu primadona yang terus diburu calon mahasiswa karena reputasi akademik yang kuat dan pengakuan internasional.
Namun, di balik kualitas pendidikan kelas dunia tersebut, muncul satu pertanyaan krusial yang kerap menghantui calon mahasiswa dan orang tua: seberapa besar biaya kuliah yang harus disiapkan?
Sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH), UGM memiliki kewenangan untuk mengatur biaya pendidikan secara mandiri.
Hal ini membuat struktur biaya kuliah menjadi lebih fleksibel, namun juga berpotensi tinggi, terutama di fakultas favorit seperti FEB.
Sistem UKT: Disesuaikan, Tapi Tetap Tinggi
UGM menerapkan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang disesuaikan dengan kondisi ekonomi mahasiswa.
Secara konsep, sistem ini dirancang untuk menciptakan keadilan akses pendidikan.
Namun pada praktiknya, untuk program studi seperti Akuntansi, Manajemen, dan Ilmu Ekonomi, UKT tertinggi diperkirakan mencapai Rp12 juta hingga Rp15 juta per semester.
Dalam durasi studi normal selama 8 semester, total biaya UKT saja bisa menyentuh angka Rp96 juta hingga Rp120 juta.
Jalur Mandiri: Ada Biaya Tambahan
Bagi mahasiswa yang masuk melalui jalur mandiri, biaya tidak berhenti pada UKT.
Terdapat tambahan berupa Iuran Pengembangan Institusi (IPI) yang dibayarkan satu kali di awal kuliah.
Berdasarkan tren tahun-tahun sebelumnya, IPI FEB UGM diperkirakan berada di kisaran Rp20 juta hingga Rp30 juta.
BACA JUGA:
7 Kampus Indonesia Tembus QS WUR by Subject 2026 Bidang Kedokteran, UI Terdepan
Ini berarti total biaya awal yang harus disiapkan menjadi jauh lebih besar.
Kelas Internasional: Biaya Melonjak Tajam
Pilihan kelas internasional atau International Undergraduate Program (IUP) menawarkan pengalaman global, mulai dari kurikulum berstandar internasional hingga peluang pertukaran pelajar.
Namun, konsekuensinya adalah biaya yang jauh lebih tinggi.
Estimasi biaya per semester berkisar antara Rp27,5 juta hingga Rp35 juta.
Jika diakumulasikan selama 4 tahun, total biaya bisa mencapai Rp240 juta hingga Rp280 juta.
Biaya Tambahan yang Sering Terlupakan
Selain biaya utama, mahasiswa juga perlu mempertimbangkan pengeluaran lain seperti buku, kegiatan akademik, KKN, hingga wisuda.
Meski terlihat kecil, total biaya tambahan ini bisa mencapai Rp10 juta hingga Rp15 juta selama masa studi.
Total Biaya: Bisa Capai Rp170 Juta
Jika dihitung secara keseluruhan, mahasiswa jalur mandiri di FEB UGM berpotensi mengeluarkan biaya hingga Rp165 juta hingga Rp170 juta.
Angka ini mencakup UKT tertinggi, IPI, serta berbagai biaya tambahan lainnya.
Setara Harga Mobil Baru?
Menariknya, total biaya tersebut kerap dibandingkan dengan harga kendaraan.
Untuk kelas reguler, nominalnya mendekati setengah harga mobil keluarga baru.
Sementara untuk kelas internasional, biayanya bahkan bisa setara dengan satu unit mobil baru.
Perbandingan ini membuat biaya kuliah terasa lebih “nyata” dan memancing diskusi publik soal mahalnya pendidikan tinggi.
Investasi atau Beban?
Meski nominalnya besar, pendidikan tetap memiliki karakter berbeda dibandingkan aset seperti kendaraan.
Nilai mobil akan menyusut seiring waktu, sementara pendidikan justru berpotensi memberikan imbal hasil jangka panjang dalam bentuk karier, jaringan, dan peningkatan kualitas hidup.
UGM sendiri tetap membuka akses melalui berbagai program bantuan, mulai dari UKT bersubsidi hingga beasiswa penuh bagi mahasiswa berprestasi maupun kurang mampu.
Pada akhirnya, keputusan untuk menempuh pendidikan di FEB UGM bukan hanya soal angka, melainkan tentang bagaimana melihat pendidikan sebagai investasi masa depan. **












