PALEMBANG — Sebuah batu mungkin tampak sederhana. Ia hanya benda yang diambil dari bumi, diletakkan di atas tanah, lalu menjadi bagian dari pondasi sebuah bangunan. Namun, ketika batu itu diletakkan untuk memulai pembangunan rumah Allah, maknanya tidak lagi sekadar urusan konstruksi.
Di atas sebidang tanah seluas 2.500 meter persegi di Kelurahan Talang Kelapa, Kecamatan Alang-Alang Lebar, sebuah ikhtiar baru dimulai.
Selasa, 25 Agustus 2026, masyarakat menyaksikan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Sahabat Kebaikan. Kelak, di atas lahan tersebut akan berdiri bangunan masjid dengan luas sekitar 300 meter persegi.
Namun, pembangunan Masjid Sahabat Kebaikan diharapkan tidak berhenti pada berdirinya sebuah bangunan fisik.
Ada gagasan yang lebih besar yang ingin ditanamkan sejak awal: menjadikan masjid sebagai pusat ibadah sekaligus pusat pendidikan umat untuk merawat kehidupan dan menjaga lingkungan.
Prosesi peletakan batu pertama itu dihadiri oleh Ketua MUI Kota Palembang, Camat Alang-Alang Lebar, Lurah Talang Kelapa, wakif, panitia pembangunan masjid, tokoh agama, serta tokoh masyarakat.
Kehadiran berbagai unsur masyarakat tersebut menjadi penanda bahwa membangun masjid bukan hanya pekerjaan panitia atau wakif semata. Masjid, sejak awal sejarah Islam, adalah milik umat. Ia tumbuh dari kebersamaan dan kelak harus kembali memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Alang-Alang Lebar, Zulfikar Ali Fajri, mengajak agar pembangunan dan pengelolaan Masjid Sahabat Kebaikan mengedepankan konsep ekoteologi.

Konsep ini merupakan salah satu program prioritas Kementerian Agama, yang mendorong tumbuhnya kesadaran bahwa kehidupan beragama tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab manusia terhadap lingkungan.
Bagi Zulfikar, masjid tidak boleh dipahami hanya sebagai bangunan tempat manusia datang untuk menunaikan shalat, lalu meninggalkannya setelah ibadah selesai.
Masjid harus hidup.
Masjid harus mendidik.
Masjid harus memberi teladan.
Dan masjid harus ikut menjawab persoalan kehidupan yang dihadapi umat.
“Masjid hendaknya tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan keteladanan dalam menjaga lingkungan. Konsep ekoteologi perlu diterapkan sejak proses pembangunan hingga pengelolaan masjid nantinya,” ujarnya.
Pesan itu mengingatkan bahwa ajaran Islam sesungguhnya tidak pernah memisahkan antara kesalehan spiritual dan kesalehan sosial.
Seseorang tidak cukup hanya rajin mendirikan shalat, tetapi pada saat yang sama membiarkan lingkungan di sekitarnya rusak. Tidak pula cukup berbicara tentang kebersihan sebagai bagian dari kehidupan beragama, sementara ruang-ruang kehidupan umat dibiarkan dipenuhi sampah dan kerusakan.
Islam mengajarkan manusia untuk menjaga keseimbangan.
Manusia diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi. Amanah itu bukan hanya hak untuk memanfaatkan alam, tetapi juga kewajiban untuk menjaga dan merawatnya.
Karena itulah, gagasan ekoteologi menemukan ruang yang sangat tepat untuk dikembangkan melalui masjid.
Rumah Allah bukan hanya tempat manusia menengadahkan tangan dan memohon keberkahan. Masjid juga dapat menjadi tempat umat belajar bagaimana keberkahan itu dijaga.
Dari masjid, kesadaran tentang kebersihan dapat dimulai.
Dari masjid, gerakan penghijauan dapat digerakkan.
Dari masjid pula, masyarakat dapat belajar menggunakan air secara bijak, menghemat energi, mengelola sampah, serta menjaga ruang hidup agar tetap bersih dan sehat.
Zulfikar berharap luas lahan yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menghadirkan lingkungan masjid yang hijau dan asri.
Lahan seluas 2.500 meter persegi tersebut, menurut gagasan yang disampaikan, bukan hanya ruang bagi bangunan utama. Lingkungan di sekitar masjid dapat dikembangkan menjadi ruang terbuka yang menghadirkan kesejukan.
Pepohonan dapat menjadi bagian dari wajah masjid.
Taman dapat menjadi ruang perjumpaan masyarakat.
Ruang terbuka dapat menghadirkan udara yang lebih sehat bagi jamaah.
Pengelolaan air dan energi secara bijak juga dapat menjadi bagian dari sistem kehidupan masjid. Demikian pula penghijauan, penyediaan ruang terbuka, hingga pengelolaan sampah.
Semua itu merupakan langkah-langkah yang dapat dikembangkan dalam mewujudkan sebuah masjid ramah lingkungan.
Bukan mustahil, sebuah masjid kelak tidak hanya dikenal karena kemegahan kubah dan menaranya.
Ia juga dikenal karena kesejukannya.
Karena kebersihannya.
Karena pepohonan yang tumbuh di sekelilingnya.
Karena jamaahnya yang memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan.
Dan karena masjid tersebut benar-benar menjadi pusat lahirnya budaya hidup yang lebih bertanggung jawab terhadap alam.
Zulfikar menegaskan, menjaga lingkungan merupakan bagian dari pengamalan nilai-nilai agama.
Dalam pandangan Islam, bumi bukanlah milik manusia yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Alam adalah ciptaan Allah SWT yang harus dijaga keseimbangannya.
Karena itu, keberadaan Masjid Sahabat Kebaikan diharapkan tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas spiritual masyarakat, tetapi juga menjadi pusat pembinaan umat yang memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial dan lingkungan sekitar.
“Semoga Masjid Sahabat Kebaikan menjadi rumah ibadah yang memberikan manfaat secara spiritual, sosial, dan ekologis bagi masyarakat Kelurahan Talang Kelapa dan sekitarnya,” harapnya.
Harapan itu sesungguhnya membawa makna yang sangat luas.
Masjid yang memberikan manfaat spiritual berarti menjadi tempat manusia memperkuat hubungannya dengan Allah SWT.
Masjid yang memberikan manfaat sosial berarti menjadi tempat masyarakat bertemu, saling menguatkan, membangun kepedulian, dan menyelesaikan persoalan bersama.
Sementara masjid yang memberikan manfaat ekologis adalah masjid yang menghadirkan kesadaran bahwa menjaga bumi merupakan bagian dari ibadah dan tanggung jawab keagamaan.
Di sinilah Masjid Sahabat Kebaikan diharapkan menemukan identitasnya.
Bukan sekadar bangunan baru di tengah permukiman.
Bukan hanya tambahan tempat ibadah.
Melainkan sebuah ruang peradaban.
Dalam sejarah Islam, masjid memang memiliki posisi yang sangat strategis. Masjid menjadi pusat ibadah, pendidikan, musyawarah, pembinaan umat, hingga aktivitas sosial.
Dari masjid, umat membangun kekuatan moral.
Dari masjid, lahir kesadaran sosial.
Dan dari masjid pula, semestinya tumbuh kepedulian terhadap kehidupan.
Karena itu, pembangunan Masjid Sahabat Kebaikan dapat menjadi momentum untuk mengembalikan makna masjid sebagai pusat peradaban umat.
Peletakan batu pertama pada Selasa itu hanyalah awal.
Perjalanan sesungguhnya baru dimulai setelah batu-batu disusun menjadi pondasi, dinding-dinding ditegakkan, dan bangunan masjid akhirnya berdiri.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana menghidupkan masjid.
Bagaimana menjadikannya tempat yang tidak hanya ramai ketika azan berkumandang.
Bagaimana menjadikannya pusat pembinaan umat.
Bagaimana menjadikannya ruang kegiatan sosial.
Dan bagaimana menjadikannya contoh nyata bahwa ajaran Islam dapat hadir untuk menjawab persoalan kehidupan modern, termasuk persoalan lingkungan.
Masjid Sahabat Kebaikan diharapkan kelak menjadi tempat orang datang untuk bersujud, belajar, bermusyawarah, berbagi, dan membangun kepedulian.
Di dalamnya, manusia mengingat Allah.
Di sekitarnya, manusia belajar menjaga ciptaan Allah.
Sebab, kecintaan kepada Sang Pencipta semestinya juga melahirkan tanggung jawab terhadap apa yang telah Dia ciptakan.
Maka, batu pertama yang diletakkan di Kelurahan Talang Kelapa itu sesungguhnya membawa sebuah pesan.
Bahwa membangun masjid bukan sekadar membangun bangunan.
Membangun masjid berarti membangun manusia.
Membangun kesadaran.
Membangun kepedulian.
Dan membangun peradaban.
Dari tanah seluas 2.500 meter persegi itu, sebuah rumah Allah sedang dirintis.
Sebuah bangunan dengan luas sekitar 300 meter persegi kelak akan berdiri.
Namun, cita-cita yang ditanamkan jauh lebih luas daripada ukuran bangunannya.
Cita-cita untuk menghadirkan sebuah masjid yang memberi manfaat bagi manusia dan lingkungan.
Masjid yang menjadi pusat ibadah.
Pusat pembinaan umat.
Pusat kegiatan sosial.
Sekaligus contoh penerapan nilai-nilai ekoteologi di tengah masyarakat.
Sebuah masjid yang tidak hanya mengajak manusia menengadah ke langit dalam doa, tetapi juga mengingatkan manusia untuk menundukkan diri dengan penuh tanggung jawab kepada Allah SWT melalui kepedulian terhadap bumi tempat mereka berpijak.
Dari sebuah batu pertama, sebuah harapan tentang peradaban hijau mulai ditanam.**












