JAKARTA – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengungkapkan bahwa salah satu momen paling berat selama memimpin lembaga tersebut adalah ketika terjadi kasus dugaan keracunan yang menimpa anak-anak sekolah setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pernyataan itu disampaikan Sudaryono saat menjawab pertanyaan audiens mengenai keputusan paling berat yang pernah diambilnya selama menjabat sebagai Kepala BGN.
Ia mengatakan, selama menjalankan tugasnya, dirinya tidak merasa kesulitan dalam mengambil keputusan. Namun, situasinya berbeda ketika mendengar kabar anak-anak mengalami sakit yang diduga berkaitan dengan pelaksanaan program MBG.
“Selama saya menjadi Kepala Badan Gizi Nasional, tidak ada keputusan yang berat. Tapi ketika ada kasus keracunan anak-anak di sekolah karena MBG, di situ saya baper,” ujar Sudaryono.
Ia mengaku tidak tega melihat anak-anak jatuh sakit dalam program yang dipimpinnya. Menurutnya, kejadian tersebut menjadi beban emosional tersendiri karena MBG dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak-anak Indonesia.
Sudaryono juga menceritakan pengalamannya mendatangi sejumlah lokasi yang mengalami kasus keracunan, termasuk Karo dan Makassar. Ia mengaku turun langsung ke beberapa titik untuk melihat kondisi di lapangan.
“Saya enggak bisa lihat orang sakit karena MBG. Hancur hati saya. Saya keliling ke Karo, Makassar, saya datang ke beberapa titik tempat keracunan. Hancur hati saya,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa dirinya menjalankan tugas dengan melibatkan perasaan dan kepedulian terhadap masyarakat, khususnya anak-anak yang menjadi penerima manfaat program tersebut.
Sudaryono bahkan mengaku menangis ketika melihat anak-anak mengalami masalah kesehatan di tengah pelaksanaan program yang dipimpinnya.
“Saya kerja itu baper. Minta maaf, saya jadi Kepala BGN ini saya baper, saya menangis. Maksud saya, program yang saya pimpin terus orang bergelimpangan, bertumbangan, hancur hati saya,” tegasnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan sisi emosional Sudaryono dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai pimpinan BGN. Di tengah upaya pemerintah menjalankan program MBG, kasus dugaan keracunan menjadi persoalan serius yang menuntut perhatian terhadap keselamatan penerima manfaat.
Pelaksanaan program MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga harus didukung pengawasan kualitas makanan, kebersihan, serta keamanan pangan.
Karena itu, setiap kejadian yang menyebabkan penerima manfaat jatuh sakit perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan dan evaluasi agar penyebabnya dapat diketahui serta kejadian serupa dapat dicegah.
Bagi pemerintah, keberhasilan program MBG tidak cukup diukur dari jumlah makanan yang dibagikan, tetapi juga dari jaminan bahwa makanan tersebut aman dikonsumsi oleh anak-anak.
**












