Meruhanikan Kembali Pesan Moral Al Quran

Oleh : Imron Supriyadi, S.Ag, M. Hum,

Imron Supriyadi S Ag M Hum

Di negeri yang setiap sudut jalannya dihiasi kaligrafi dan setiap tikungan lampu merahnya disapa Asmaul Husna, kita tumbuh sebagai bangsa yang akrab dengan lafaz, tetapi asing dengan makna.

Al-Qur’an kita baca dengan tartil, kita lombakan dengan merdu, kita pajang di ruang tamu dengan bingkai keemasan.

Namun sering kali ia berhenti sebagai ayat, belum menjelma menjadi ruh.
Setiap tahun kita merayakan Nuzulul Qur’an dengan gegap gempita.

MTQ digelar megah, pejabat bangga memamerkan piala juara umum. Anak-anak dilatih tajwid sejak dini, suara mereka melengking indah membelah udara malam.

Tetapi di sela-sela kemeriahan itu, kita jarang bertanya: apakah Al-Qur’an sudah menetes ke dalam perilaku? Ataukah ia masih mengambang di bibir, belum meresap ke jantung kesadaran?

Ironi itu pernah saya saksikan di sebuah desa. Dalam satu acara resmi, pembawa acara dengan penuh semangat mengumumkan: “Kepada petugas pembaca Al-Qur’an dipersilakan bersiap.”

Panitia mendadak panik. Mushaf tak ditemukan. Mereka berlarian ke masjid terdekat, karena di rumah-rumah sekitar, Al-Qur’an tersimpan di lemari—terhormat, tetapi berdebu.

Ia dikeluarkan hanya saat yasinan, itupun sambil dilap pelan-pelan, seperti membangunkan tamu yang lama tertidur.

Kita ini bangsa yang pandai menyimpan Al-Qur’an, tetapi belum tentu pandai menyimpannya dalam dada.

Banyak rumah megah berdiri, tetapi tidak setiap rumah memiliki mushaf yang hidup. Kalau pun ada, ia lebih sering menjadi pajangan daripada pedoman. Dibingkai, ditempel, dihias—namun jarang diajak berdialog.

Padahal Al-Qur’an bukan sekadar teks. Ia adalah petunjuk hidup, peta perjalanan ruhani. Ketika ia gagal membentuk watak, berarti ada yang keliru dalam cara kita memperlakukannya.

Pendidikan kita terlalu tekun membangun otak, tetapi lalai membangun akhlak. Kita mencetak generasi yang cerdas berhitung, tetapi gagap berbuat ihsan.

Kita hafal ayat tentang kejujuran, tetapi masih mudah tergoda pada peluang korupsi. Kita hafal ayat tentang keadilan, tetapi tak segan menindas yang lemah.

Di sinilah persoalannya: Al-Qur’an kita perlakukan sebagai simbol, bukan sebagai sistem nilai.

Ia menjadi ornamen sosial dan politik. Ia hadir di panggung, tetapi absen di ruang rapat.

Ia terdengar dalam seremoni, tetapi sunyi dalam keputusan.

Kita bangga sebagai negeri mayoritas Muslim, tetapi perilaku sosial, politik, dan kebudayaan kita belum sepenuhnya memancarkan cahaya Qur’ani.

Satirnya begini: kita bisa menghafal tiga puluh juz, tetapi belum tentu hafal cara menahan amarah.

Kita bisa fasih melafalkan hukum waris, tetapi masih kikuk berbagi rezeki.

Kita hafal ayat tentang amanah, tetapi lupa mengembalikan jabatan sebagai titipan.

Seolah-olah Al-Qur’an menjadi lencana identitas, bukan energi transformasi.

Padahal dalam tradisi Islam, akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an yang berjalan.

Ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Nabi, ia menjawab singkat: “Akhlaknya adalah Al-Qur’an.”

Artinya, Al-Qur’an tidak berhenti sebagai bacaan, tetapi menjelma menjadi tindakan.

Ia mengalir dalam darah, berdenyut dalam keputusan, dan memancar dalam kasih sayang.

Maka pertanyaannya: bagaimana meruhanikan kembali Al-Qur’an dalam diri?

Pertama, kita perlu menggeser orientasi dari sekadar tilawah menuju tadabbur.

Membaca itu penting, tetapi merenungi jauh lebih penting. Ayat tidak sekadar dilafalkan, tetapi ditanyakan kepada diri:
“Sudahkah aku mengamalkan ini?” Setiap ayat adalah cermin.

Jika ia hanya dibaca tanpa bercermin, maka kita hanya menikmati bunyinya, bukan pesannya.

BACA JUGA :

Cara bersedekah Menjadi Lebih Istimewa di bulan Ramadan ; Simak Ini Penjelasannya !

Ketika Puasa Diremehkan: Azab Berat di Balik Berbuka Sengaja di Bulan Ramadan

Kedua, pendidikan harus berani mengembalikan ruh. Sekolah dan pesantren jangan hanya mengejar nilai ujian, tetapi nilai kehidupan.

Anak-anak jangan hanya dilatih menghafal, tetapi juga dilatih jujur, disiplin, dan peduli. Al-Qur’an harus menjadi napas kurikulum, bukan sekadar mata pelajaran.

Ketiga, para pemimpin mesti memberi teladan. Sebab sehebat apa pun program Qur’ani, jika elitnya tidak Qur’ani, maka rakyat akan membaca kontradiksi.

Al-Qur’an berbicara tentang keadilan dan amanah. Jika pemimpin melanggarnya, maka ayat-ayat itu terasa seperti slogan kosong.

Keempat, keluarga harus menjadi madrasah ruhani. Jangan sampai Al-Qur’an hanya terdengar di masjid, tetapi sunyi di ruang makan.

Orang tua perlu menghadirkan Al-Qur’an dalam percakapan sehari-hari—bukan dengan ceramah panjang, melainkan dengan keteladanan sederhana: menepati janji, berkata jujur, menghormati tetangga.

Momentum Nuzulul Qur’an di bulan Ramadan semestinya menjadi titik balik. Ramadan bukan hanya bulan tilawah, tetapi bulan tazkiyah—penyucian diri.

Kita diajak menahan lapar agar peka terhadap sesama, menahan amarah agar lembut dalam berinteraksi.

Semua itu adalah implementasi nilai Qur’ani. Kalau Al-Qur’an hanya dipajang, ia akan menjadi benda mati.

Kalau ia hanya dilombakan demi prestise, ia akan menjadi alat kebanggaan kosong. Tetapi jika ia diruhanikan—dihidupkan dalam niat, ucapan, dan tindakan—maka ia akan menjadi cahaya yang membimbing.

Meruhanikan Al-Qur’an berarti menjadikannya darah, bukan sekadar dekorasi.

Ia mengalir dalam keputusan bisnis, dalam pilihan politik, dalam ekspresi budaya. Ia menjadi standar etika, bukan sekadar hiasan retorika.

Kita mungkin belum mampu mengamalkan seluruh ajarannya secara sempurna.

Tetapi kita bisa mulai dari kesadaran bahwa Al-Qur’an bukan milik rak lemari. Ia milik hati yang siap dibersihkan.

Ia milik tangan yang siap berbuat adil. Ia milik lisan yang siap berkata benar.
Akhirnya, meruhanikan kembali Al-Qur’an adalah perjalanan panjang.

Ia menuntut kejujuran pada diri sendiri. Bahwa selama ini mungkin kita terlalu sibuk melafalkan, tetapi lupa meresapkan.

Terlalu bangga menghafal, tetapi lalai mengamalkan.

Semoga Ramadan dan peringatan Nuzulul Qur’an menjadi momentum untuk mengubah relasi kita dengan Kitab Suci.

Dari sekadar pembaca menjadi pelaku. Dari sekadar penghafal menjadi pengamal. Dari sekadar penikmat bunyi menjadi penjaga makna.

Sebab jika Al-Qur’an benar-benar hidup dalam diri, ia tidak hanya terdengar di masjid atau panggung lomba.

Ia akan tampak dalam cara kita berpolitik, berdagang, berkeluarga, dan bermasyarakat.

Dan ketika itu terjadi, mungkin barulah kita bisa berkata dengan jujur: Al-Qur’an tidak lagi hanya dibaca, tetapi benar-benar meruhanikan bangsa.**

PP Laa Roiba – Muaraenim, 04 Maret 2026


Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Laa Roiba dan Sekretaris JATMAN Kab. Muaraenim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *