Malam di Palembang biasanya identik dengan dua wajah: sunyi yang berjarak, atau hiruk yang tak selalu terarah. Namun di Jalan Kolonel Atmo, Sabtu (18/4/2026), sebuah upaya baru diperkenalkan—menghadirkan malam yang hidup, tetapi tetap beradab; ramai, namun tidak kehilangan nilai.
PALEMBANG – Di bawah cahaya lampu yang tertata, Gubenur Sumsel H Herman Deru dan Wali Kota Ratu Dewa meresmikan Car Free Night (CFN), sebuah ruang sepanjang 325 meter yang dibuka untuk masyarakat. Tidak ada kendaraan, tidak ada kebisingan mesin. Yang ada adalah manusia—berjalan, berdagang, berbincang, dan merajut kebersamaan.
Gubernur H. Herman Deru (HD) berharap program ini dapat berjalan secara teratur dan berkelanjutan, sehingga para pelaku usaha, khususnya UMKM dan pedagang mikro, memiliki ruang yang lebih luas untuk bertransaksi dan meningkatkan pendapatan.
“Antusiasme warga yang hadir malam ini luar biasa. Saya melihat Wali Kota dan jajaran sangat kreatif. Ini semua untuk warga Kota Palembang. Karena itu saya langsung menyetujui Car Free Night ini. Bukan hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga menjadi ide besar untuk menggeliatkan pergerakan ekonomi,” ujar Herman Deru mengawali sambutannya.
Namun warga Palembang atau Sumsel yang mayoritas Muslim, ruang seperti ini bukan sekadar tempat berkumpul. Ia adalah ladang amal—tempat niat diuji, adab dijaga, dan keberkahan diikhtiarkan.
“Besar harapan kami, ini bisa membangkitkan UMKM kecil dan mikro,” ujar Ratu Dewa.
Harapan itu tidak hanya berbicara tentang ekonomi. Dalam perspektif Islam, menghidupkan usaha kecil adalah bagian dari menguatkan umat. Lebih dari 188.000 pelaku UMKM di Palembang bukan sekadar angka, tetapi wajah-wajah ikhtiar—orang-orang yang mencari rezeki halal, yang setiap transaksinya mengandung nilai ibadah.
Di sinilah CFN menemukan makna spiritualnya.
Faiz Nur Fahmi, seorang Ustadz dan praktisi agama di Palembang, melihat fenomena ini sebagai peluang menghadirkan nilai-nilai Islam dalam ruang publik modern.
“Islam tidak melarang keramaian, selama di dalamnya ada adab. Bahkan Rasulullah SAW mendorong umatnya untuk berdagang, bersilaturahmi, dan menghidupkan pasar—selama tetap dalam koridor yang halal dan baik,” ujar alumni Pondok Pesantren Rubath Al Muhibbien Palembang
Menurut Kiai Faiz, ruang publik seperti CFN bisa menjadi sarana memperkuat ukhuwah (persaudaraan). Ketika orang bertemu tanpa sekat, saling menyapa, dan berinteraksi dengan niat yang baik, di situlah nilai kebersamaan tumbuh.
Namun ia juga mengingatkan, keramaian harus tetap dijaga dari hal-hal yang melalaikan.
“Jangan sampai ruang seperti ini justru menjauhkan dari nilai-nilai agama. Adab berpakaian, cara berinteraksi, hingga kejujuran dalam berdagang harus tetap dijaga. Karena keberkahan itu bukan pada ramainya, tetapi pada kebaikan yang ada di dalamnya,” katanya.
Pertumbuhan ekonomi Palembang yang mencapai 5,60 persen dalam satu tahun terakhir menjadi latar yang menggembirakan. Namun dalam pandangan Islam, pertumbuhan bukan hanya soal angka, melainkan juga soal keberkahan.
Ekonomi yang tumbuh tetapi jauh dari nilai kejujuran dan keadilan tidak akan membawa ketenangan. Sebaliknya, usaha kecil yang dijalankan dengan niat baik dan cara yang benar bisa menjadi sumber keberkahan yang luas.
Di sepanjang Kolonel Atmo, pemandangan itu tampak sederhana namun bermakna. Pedagang menawarkan dagangannya, pembeli menawar dengan santun, dan anak-anak bermain dalam pengawasan orang tua. Semua berjalan dalam ritme yang lebih pelan, lebih hangat.
CFN, dalam hal ini, bukan hanya ruang hiburan, tetapi juga ruang pembelajaran sosial dan spiritual.
Ratu Dewa menegaskan bahwa program ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni. Ia ingin CFN menjadi tradisi mingguan yang dinantikan masyarakat.
“Mari kita jaga sama-sama, kita ramaikan sama-sama,” ujarnya.
Ajakan ini sejalan dengan semangat gotong royong dalam Islam. Menjaga kebersihan, ketertiban, dan kenyamanan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga bagian dari iman.
Kiai Faiz menambahkan, jika ruang seperti ini dikelola dengan baik, ia bisa menjadi contoh bagaimana kota modern tetap berpijak pada nilai-nilai religius.
“Bayangkan jika setiap aktivitas di sini diniatkan sebagai ibadah—berjualan dengan jujur, membeli dengan niat membantu, berjalan sambil menjaga pandangan. Maka ruang ini bukan hanya ramai, tetapi juga penuh berkah,” tuturnya.
Menjelang malam semakin larut, Jalan Kolonel Atmo tetap dipenuhi orang. Namun di balik keramaian itu, ada harapan yang lebih dalam: bahwa kota tidak hanya tumbuh secara fisik, tetapi juga secara ruhani.
Dan mungkin, di antara langkah-langkah yang bergerak pelan, senyum yang saling menyapa, serta transaksi yang terjadi dengan jujur, Palembang sedang menapaki satu ikhtiar penting—menghadirkan kehidupan kota yang tidak hanya hidup, tetapi juga diridhai. (imr)












