Surabaya| Di sebuah ruang akademik yang sarat sejarah, langkah seorang perempuan kini menorehkan babak baru.
Dialah Prof Dr Eighty Mardiyan Kurniawati, dr, SpOG SubSp.Urogin-RE—atau akrab disapa Prof Eighty—yang resmi menjadi dekan perempuan pertama di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Fakultas ini bukan sembarang institusi; ia adalah salah satu fakultas kedokteran tertua di Indonesia sekaligus bagian penting dalam kelahiran Universitas Airlangga.
Namun, pencapaian itu bukanlah hasil dari perjalanan singkat atau instan.
Ada kisah panjang penuh kerja keras, pilihan sulit, dan konsistensi yang jarang terlihat dari permukaan.
Perjalanan Prof Eighty di dunia akademik dimulai pada Januari 2005, saat ia masih menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) semester empat.
Sebuah panggilan dari para senior—Prof Lila Dewata, Prof Djoko Waspodo, dan dr Hari Paraton—menjadi titik balik.
Ia diminta menjadi staf dosen sekaligus mengikuti seleksi CPNS.
Dengan rekam jejak akademik yang kuat, termasuk IPK tinggi dan prestasi sebagai Mahasiswa Berprestasi UNAIR 1998, peluang itu datang bukan tanpa alasan.
Menariknya, jauh sebelum dikenal sebagai akademisi dan dokter, Prof Eighty pernah menapaki dunia jurnalistik.
Ia aktif sebagai wartawan di Surabaya Post dan kemudian di Jawa Pos pada awal 2000-an.
Pengalaman ini kelak menjadi bekal penting dalam perjalanan kariernya, terutama saat ia dipercaya memimpin bidang humas di fakultasnya.
Menjalani peran ganda sebagai dosen dan dokter spesialis obstetri dan ginekologi bukan perkara mudah.
Sejak lulus pada 2008, hari-harinya terbagi antara ruang kelas dan ruang bersalin.
BACA JUGA:
Kecelakaan Maut di Tol Indralaya-Prabumulih Tewaskan Seorang Dokter
7 Kampus Indonesia Tembus QS WUR by Subject 2026 Bidang Kedokteran, UI Terdepan
Pagi hingga siang ia mendampingi mahasiswa dan peserta PPDS, sementara sore hingga malam dihabiskan bersama pasien.
Di tengah kesibukan itu, ia tetap menjalankan perannya sebagai ibu dari tiga anak dan istri dari dr Abdul Haris SpBS, MTrOpsla.
Alih-alih menyerah pada keterbatasan waktu, ia justru menemukan cara unik: mengajak anak-anaknya ke rumah sakit.
Bukan sekadar menemani, tetapi juga memperkenalkan makna profesi dokter sebagai panggilan kemanusiaan.
Langkahnya terus berlanjut. Pada 2011–2013, ia menempuh pendidikan subspesialis uroginekologi rekonstruksi di FK Universitas Indonesia/RSCM.
Kemudian, pada 2020, ia meraih gelar doktor dengan fokus pada pemanfaatan stem cell untuk penanganan fistula vesikovagina—sebuah inovasi yang membuka cakrawala baru dalam kesehatan perempuan.
Saat pandemi COVID-19 melanda, aktivitas klinis dan pendidikan memang sempat terbatas.
Namun, bagi Prof Eighty, kondisi itu justru menjadi ruang produktif.
Bersama tim, ia mengembangkan berbagai manekin pembelajaran untuk dokter spesialis obgin, mulai dari simulasi operasi caesar hingga penanganan robekan jalan lahir.
Inovasi ini menjadi solusi konkret di tengah keterbatasan praktik langsung.
Tak berhenti di situ, masa pandemi juga menjadi momentum baginya untuk mengajukan jabatan guru besar.
Pada 2023, ia resmi dikukuhkan sebagai profesor di bidang uroginekologi rekonstruksi, stem cell, dan gangguan fungsi seksual perempuan.
Ia tercatat sebagai guru besar termuda di bidang obgin di Indonesia, sekaligus perempuan pertama dalam spesialisasi tersebut.
Pidato pengukuhannya membawa pesan penting: kesehatan perempuan tidak hanya soal kehamilan dan persalinan.
Ia menyoroti pentingnya kesehatan dasar panggul, termasuk gangguan berkemih, buang air besar, hingga fungsi seksual—isu yang kerap terabaikan.
Perjalanan kepemimpinannya juga tak kalah menarik. Pada 2023, ia sempat menjabat sebagai Wakil Dekan II di Fakultas Vokasi—sebuah tantangan baru di luar “rumahnya”.
Pengalaman itu justru memperkuat prinsipnya bahwa pemimpin harus adaptif di mana pun berada.
Hingga akhirnya, sejak 1 September 2025, ia kembali ke FK UNAIR sebagai dekan. Sebuah “pulang” yang sarat makna.
Sebagai pemimpin, Prof Eighty membawa visi besar: mencetak dokter “bintang tujuh”.
Dokter yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga mampu menjadi pengambil keputusan, komunikator, pemimpin masyarakat, manajer, pembelajar sepanjang hayat, dan peneliti—semuanya berlandaskan iman dan akhlak.
Visi itu diterjemahkan dalam konsep BRIGHT yang diusungnya, sebagai fondasi menuju fakultas kedokteran yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing global.
Kisah Prof Eighty bukan sekadar tentang jabatan atau gelar.
Ini adalah cerita tentang keberanian mengambil peluang, ketekunan menghadapi tantangan, dan kemampuan menyeimbangkan banyak peran dalam satu waktu.
Dari ruang redaksi hingga ruang operasi, dari mahasiswa hingga dekan—ia membuktikan bahwa perjalanan panjang, jika dijalani dengan konsisten, bisa membawa seseorang ke puncak yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. **












