Divisi ponsel Samsung terancam rugi di 2026 akibat lonjakan biaya chip memori yang dipicu AI

Jakarta | Di balik dominasi globalnya, Samsung Electronics tengah menghadapi ironi yang tidak sederhana.

Ketika divisi semikonduktor meraup keuntungan besar berkat lonjakan permintaan chip untuk kecerdasan buatan (AI), divisi ponsel justru berada di bawah tekanan berat.

Bahkan, peringatan internal dari TM Roh menyebutkan bahwa lini smartphone berpotensi mencatat kerugian sepanjang 2026—sebuah situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Fenomena ini menggambarkan perubahan lanskap industri teknologi global. Permintaan chip memori, khususnya LPDDR yang selama ini menjadi tulang punggung perangkat mobile, kini tersedot oleh kebutuhan pusat data AI.

Server AI membutuhkan efisiensi daya dan pendinginan, membuat LPDDR menjadi pilihan strategis. Akibatnya, pasokan untuk industri smartphone menyusut drastis.

Samsung, sebagai produsen chip memori terbesar dunia, memilih langkah bisnis yang rasional namun berdampak kompleks: memprioritaskan keuntungan dari divisi semikonduktor.

Produksi LPDDR4 dihentikan, sementara kapasitas dialihkan ke LPDDR5 yang lebih diminati oleh industri AI.

Keputusan ini memperkuat posisi Samsung di pasar chip global, tetapi secara tidak langsung “menekan” divisi mobile-nya sendiri.

Kondisi ini memperlihatkan dilema klasik konglomerasi teknologi—ketika satu lini bisnis tumbuh pesat, lini lain harus menanggung konsekuensinya.

Dalam kasus ini, biaya produksi smartphone meningkat signifikan. Menurut Counterpoint Research, komponen memori seperti DRAM dan penyimpanan internal kini menyumbang hingga 41% dari kenaikan biaya perangkat premium.

Angka ini menjelaskan mengapa harga ponsel terus merangkak naik, bahkan di tengah daya beli konsumen yang cenderung stagnan.

7 HP Samsung RAM 8/256 GB Terbaik 2026: Performa Ngebut, Penyimpanan Lega, dan Siap Temani Kebutuhan Digital Anda

Menuju Era Baru Visual: Ambisi Samsung Hadirkan Layar 3D Tanpa Kacamata

Upaya Samsung untuk menyeimbangkan kondisi ini melalui kenaikan harga tidak sepenuhnya berhasil. Beberapa produk seperti Samsung Galaxy S26, Samsung Galaxy Z Flip 7, dan lini Galaxy lainnya memang mencatat angka pre-order yang kuat, tetapi tidak cukup untuk menutup lonjakan biaya.

Kenaikan harga justru menahan permintaan, menciptakan lingkaran tekanan yang sulit diputus.

Di sisi lain, tantangan internal juga mengintai. Gelombang tuntutan dari serikat pekerja yang menginginkan porsi bonus lebih besar berpotensi memicu gangguan produksi.

Jika terjadi pemogokan berkepanjangan, bukan hanya biaya yang meningkat, tetapi juga stabilitas pasokan chip bisa terganggu—memperburuk situasi yang sudah kompleks.

Melihat ke depan, bayangan kekurangan pasokan DRAM hingga 40% pada 2027 menjadi alarm serius. Ini bukan sekadar masalah siklus industri, melainkan indikasi perubahan struktural dalam ekosistem teknologi global.

AI bukan lagi sekadar tren, melainkan kekuatan yang menggeser prioritas produksi dan distribusi komponen inti.

Bagi Samsung, masa depan divisi mobile akan sangat ditentukan oleh kemampuannya beradaptasi.

Inovasi produk saja tidak cukup; strategi rantai pasok dan keseimbangan antar divisi menjadi kunci.

Jika tidak, dominasi yang selama ini dibangun bisa tergerus oleh dinamika pasar yang semakin kompetitif dan tidak terduga.

**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *