Jakarta | Di tengah persaingan chipset kelas menengah yang semakin sengit, Samsung kembali menunjukkan taringnya lewat kehadiran Samsung Exynos 1680.
Chipset ini menjadi otak dari Samsung Galaxy A57 5G, membawa harapan baru bagi pengguna yang menginginkan performa tinggi tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Pertanyaan yang sering muncul kemudian adalah: seberapa kuat sebenarnya Exynos 1680? Dan chipset ini setara dengan apa?
Jawabannya mulai terlihat dari hasil pengujian performa. Berdasarkan data dari NanoReview dan pengujian GSMArena, Exynos 1680 mampu mencetak skor AnTuTu di kisaran 1,3 jutaan.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan gambaran nyata bahwa chipset ini berada di level performa yang cukup tinggi untuk kelas menengah.
Sebagai perbandingan, skor tersebut mendekati performa perangkat yang ditenagai Qualcomm Snapdragon 7 Gen 4, seperti yang digunakan pada realme 16 Pro+ 5G.
Dalam pengujian, Snapdragon 7 Gen 4 bahkan mampu menyentuh angka sekitar 1,4 juta. Selisihnya tipis, namun cukup menunjukkan bahwa keduanya bermain di liga yang sama.
Di Balik Desain Samsung Galaxy: Filosofi “Live” yang Mengubah Cara Kita Menggunakan Teknologi
Dari sisi arsitektur, Exynos 1680 dan Snapdragon 7 Gen 4 memiliki kemiripan yang cukup mencolok. Keduanya menggunakan kombinasi inti berbasis ARM Cortex-A720 dan ARM Cortex-A520, yang dikenal efisien sekaligus bertenaga.
Namun, Exynos 1680 sedikit unggul dalam kecepatan clock, mencapai hingga 2,9GHz, sedikit di atas Snapdragon 7 Gen 4 yang berada di angka 2,8GHz.
Pada sektor grafis, perbedaan mulai terasa. Exynos 1680 mengandalkan GPU Samsung Xclipse 550, sementara Snapdragon menggunakan Adreno 722.
Masing-masing memiliki keunggulan tersendiri, tergantung pada optimasi perangkat dan jenis aplikasi yang dijalankan, terutama dalam gaming dan rendering visual.
Menariknya, Exynos 1680 juga unggul dalam kecepatan modem 5G. Chipset ini mampu mencapai kecepatan unduh hingga 5,1Gbps, sedikit lebih tinggi dibanding Snapdragon 7 Gen 4 yang berada di angka 4,2Gbps.
Ini memberikan keunggulan bagi pengguna yang mengandalkan konektivitas cepat untuk streaming, gaming online, maupun produktivitas.
Namun, bukan berarti Exynos 1680 tanpa kekurangan. Snapdragon 7 Gen 4 menawarkan dukungan Wi-Fi 7 yang lebih mutakhir, sementara Exynos masih bertahan di Wi-Fi 6E.
Selain itu, Snapdragon juga mendukung resolusi layar hingga WQHD+, lebih tinggi dibanding Exynos yang mentok di Full HD+—meski keduanya sama-sama mendukung refresh rate hingga 144Hz.
Melihat semua aspek tersebut, Exynos 1680 bisa disebut sebagai “kuda hitam” di kelas menengah. Ia tidak hanya mampu menyaingi Snapdragon 7 Gen 4, tetapi juga menawarkan kombinasi performa, efisiensi, dan konektivitas yang solid.
Bagi pengguna, ini berarti pilihan semakin luas. Tidak lagi harus terpaku pada satu merek chipset, karena kini alternatif seperti Exynos 1680 hadir dengan kemampuan yang kompetitif.
Pada akhirnya, pertarungan chipset bukan hanya soal angka, tetapi juga pengalaman pengguna. Dan dalam hal ini, Exynos 1680 menunjukkan bahwa ia bukan sekadar pemain pelengkap, melainkan penantang serius di kelasnya.
**












