
Yogyakarta – Di sebuah sudut ruang seni di Daerah Istimewa Yogyakarta, proses bertumbuh tidak lagi dibayangkan sebagai garis lurus yang rapi.
Ia hadir sebagai lapisan-lapisan yang saling bertumpuk—kadang retak, kadang meluas tanpa arah pasti.
Itulah yang coba ditawarkan Teguh Paino lewat pameran tunggalnya bertajuk Tuwuh lan Ngrembaka, yang akan dibuka pada 27 April – 4 Mei 2026 di Studio Kalahan, ruang seni milik Heri Dono.
Pameran ini memusatkan perhatian pada satu tema yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya kompleks: pertumbuhan.
Dalam tangan Teguh, “tumbuh” tidak berhenti sebagai proses biologis, melainkan menjelma pengalaman yang emosional, kultural, hingga spiritual.
Ia memeriksa kembali bagaimana manusia bertransformasi, sekaligus bagaimana relasinya dengan alam dan lingkungan sosial terus berubah.
Kurator pameran, Mayek Prayitno, menyebutkan ada 15 karya yang ditampilkan—terdiri dari lukisan dan instalasi. Tiga instalasi menjadi penanda penting.
Lawang tampil sebagai gerbang besar, semacam simbol peralihan dari satu fase ke fase lain. Mangan Ora Mangan Kumpul menghadirkan deretan wayang dari tempurung kelapa yang telah digerogoti alam—sebuah metafora tentang kebersamaan yang bertahan di tengah keterbatasan.
Sementara Kelahiran berupa anyaman bambu berbentuk janin, menghadirkan gambaran awal kehidupan yang rapuh sekaligus penuh kemungkinan.
Melalui bentuk-bentuk organik, metafora tubuh, dan lanskap imajinatif, Teguh menghadirkan visual yang tidak sepenuhnya selesai.
Ada kesan bahwa karya-karya ini sengaja dibiarkan terbuka—memberi ruang bagi penonton untuk menafsirkan, bahkan merasakan sendiri proses perubahan yang dihadirkan.
Dalam konteks ini, pertumbuhan tidak lagi dipahami sebagai pencapaian, melainkan perjalanan yang penuh lapisan dan ketegangan.
Pameran ini juga menjadi bagian dari kerja akademik Khairun Nisa Anjani di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Namun, alih-alih tampil sebagai presentasi akademis semata, ia justru membuka ruang publik yang lebih luas.
Sejumlah agenda seperti diskusi seni dan workshop Wayang Cumplung disiapkan untuk memperpanjang percakapan, sekaligus menjembatani seni rupa dengan praktik budaya yang lebih hidup.
Pada malam pembukaan, suasana akan diperluas dengan kehadiran pertunjukan Wayang Cumplung Edan oleh Mbah Gono bersama Jajang R Kawentar. Kehadiran elemen performatif ini mempertegas bahwa pameran tidak berdiri sebagai medium tunggal, melainkan bagian dari ekosistem seni yang saling terhubung.
Tuwuh lan Ngrembaka pada akhirnya tidak menawarkan jawaban pasti tentang bagaimana manusia bertumbuh. Ia justru mengajukan pertanyaan: apakah pertumbuhan selalu berarti kemajuan? Ataukah ia juga menyimpan kemungkinan retak, kehilangan arah, bahkan kegagalan?
Di tengah kecenderungan dunia yang serba cepat dan instan, pameran ini seperti mengajak untuk menunda kesimpulan. Bahwa menjadi—sebagaimana ditunjukkan Teguh Paino—adalah proses yang tidak pernah selesai. (imr)













