Jakarta | Media sosial kembali menunjukkan kekuatannya dalam membentuk fenomena budaya populer. Kali ini, sorotan tertuju pada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, setelah lagu viral bertajuk “My Little Bolu Ketan” atau yang lebih dikenal publik dengan sebutan “Mas Bahlil Ganteng” ramai berseliweran di TikTok, Instagram, hingga platform video pendek lainnya.
Lagu bernuansa jenaka tersebut mendadak menjadi bahan hiburan warganet. Potongan liriknya dipakai dalam berbagai konten kreatif, mulai dari video lucu, editan politik, hingga parodi kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit pula kreator media sosial yang menjadikan lagu itu sebagai backsound konten mereka.
Menariknya, Bahlil sendiri ternyata tidak tersinggung dengan viralnya lagu tersebut. Sebaliknya, ia justru penasaran dengan sosok pembuat lagu dan ingin bertemu langsung untuk berbincang santai.
Respons itu terungkap dalam video perbincangan Bahlil bersama Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad. Dalam suasana santai, Bahlil mengaku ingin mengundang pencipta lagu tersebut untuk makan bersama.
Ramai Lagu “Mas Bahlil Ganteng” di Media Sosial
Dari Dapur ke Ketahanan Energi: Ajakan Hemat LPG di Tengah Tekanan Global
“Saya penasaran juga siapa yang buat lagu itu,” ujar Bahlil sambil tersenyum.
Fenomena ini menjadi menarik karena memperlihatkan bagaimana seorang pejabat publik kini tidak lagi hanya hadir melalui pidato formal atau konferensi pers, melainkan juga melalui ruang budaya digital yang lebih cair dan dekat dengan generasi muda.
Di era media sosial, popularitas politik sering kali lahir dari hal-hal sederhana dan tidak terduga. Lagu viral, meme, hingga candaan internet mampu membentuk citra baru seorang tokoh publik di mata masyarakat. Dalam kasus Bahlil, lagu “Mas Bahlil Ganteng” justru membuat namanya semakin dikenal di kalangan anak muda yang aktif di media sosial.
Bahlil bahkan bercerita bahwa lagu tersebut sempat menjadi bahan candaan di lingkungan keluarganya sendiri. Saat menjalankan ibadah umrah, ia mengaku sempat ditertawakan anaknya yang memanggil dirinya dengan singkatan “MBG”.
Cerita ringan itu kemudian semakin membuat publik melihat sisi personal dan santai seorang Bahlil Lahadalia. Tidak sedikit netizen yang menilai respons tersebut sebagai bentuk kedewasaan seorang pejabat publik dalam menghadapi kreativitas masyarakat digital.
Namun di balik candaan dan viralitas itu, Bahlil tetap memberikan pesan penting mengenai penggunaan media sosial secara bijak. Ia menekankan bahwa kreativitas harus tetap berada dalam batas yang sehat dan tidak menyentuh isu sensitif seperti SARA.
Menurutnya, media sosial memang menjadi ruang ekspresi generasi muda, tetapi juga harus dijaga agar tidak memicu perpecahan di tengah masyarakat.
Pesan tersebut dinilai relevan di tengah derasnya arus konten digital yang sering kali sulit dikendalikan. Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial bukan hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga arena pembentukan opini publik dan pertarungan citra politik.
Fenomena lagu “Mas Bahlil Ganteng” juga memperlihatkan perubahan pola komunikasi politik di Indonesia. Jika dahulu tokoh politik identik dengan kesan formal dan berjarak, kini pendekatan yang lebih santai dan humanis justru lebih mudah diterima publik.
Bahlil tampaknya memahami perubahan zaman tersebut. Dengan memilih merespons viralitas lagu itu secara santai dan terbuka, ia berhasil mengubah candaan internet menjadi momentum komunikasi publik yang positif.
Pada akhirnya, fenomena ini membuktikan bahwa di era digital, politik dan budaya populer semakin sulit dipisahkan. Lagu sederhana yang awalnya hanya hiburan media sosial bisa berkembang menjadi simbol kedekatan antara pejabat publik dan masyarakat muda Indonesia.
**












