Empat Lawang | Fenomena anak-anak yang diduga mulai kecanduan menghirup lem atau ngelem menjadi perhatian serius masyarakat di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan.
Warga menilai kondisi tersebut tidak bisa lagi dianggap sebagai persoalan biasa, sebab dampaknya dinilai dapat merusak masa depan generasi muda sejak usia dini.
Kekhawatiran masyarakat muncul setelah masih ditemukannya sejumlah anak yang berkeliaran dan diduga menghirup lem di beberapa titik kawasan publik.
Aktivitas tersebut dianggap semakin memprihatinkan karena melibatkan anak-anak usia sekolah yang seharusnya mendapatkan pengawasan dan pembinaan.
Warga meminta pemerintah daerah, khususnya Dinas Sosial serta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), segera turun tangan melakukan penertiban sekaligus pembinaan terhadap anak-anak yang sudah terpapar zat adiktif tersebut.
Menurut masyarakat, persoalan ini tidak sepenuhnya bisa dibebankan kepada orang tua di rumah. Dibutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, tokoh masyarakat, hingga lingkungan sekitar agar anak-anak tidak semakin jauh terjerumus ke perilaku negatif.
“Kalau hanya dibiarkan, ini bisa menjadi ancaman serius bagi generasi muda di Empat Lawang,” ujar salah seorang warga yang berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata.
Penggunaan lem sebagai zat yang dihirup untuk mendapatkan efek mabuk memang kerap terjadi di sejumlah daerah. Selain mudah didapat, harga yang murah membuat anak-anak rentan mencoba tanpa memahami dampak kesehatan yang ditimbulkan.
Padahal, efek menghirup lem dalam jangka panjang sangat berbahaya. Selain dapat merusak saraf dan organ tubuh, kebiasaan tersebut juga berpotensi memengaruhi kondisi psikologis anak hingga meningkatkan risiko tindakan kriminal dan kenakalan remaja.
Karena itu, warga berharap pemerintah Kabupaten Empat Lawang tidak hanya melakukan razia sesaat, tetapi juga menyiapkan solusi jangka panjang.
Pembinaan sosial, edukasi bahaya zat adiktif, pengawasan lingkungan, hingga penyediaan ruang aktivitas positif bagi anak-anak dinilai menjadi langkah penting yang harus dilakukan.
Selain itu, masyarakat juga mendorong adanya koordinasi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, sekolah, dan keluarga agar pengawasan terhadap anak-anak bisa berjalan lebih maksimal.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa menjaga masa depan generasi muda bukan hanya tanggung jawab keluarga, melainkan tugas bersama seluruh elemen masyarakat.
Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan kebiasaan negatif tersebut akan semakin meluas dan mengancam kualitas generasi penerus di Kabupaten Empat Lawang.
**
MTQ XXXI Sumsel di Lahat 2026 Jadi Momentum Penguatan Generasi Qurani
Harkitnas 2026 di Empat Lawang: Sekda Fauzan Ingatkan Generasi Muda Jadi Penjaga Kedaulatan Bangsa












