Kisah inspiratif Deki Degei, siswa disabilitas di Nabire, yang memimpin upacara Hardiknas 2026

Foto ist

Interaksimassa | Di sebuah lapangan sederhana di Nabire, suasana upacara Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2026 terasa berbeda. Di antara barisan peserta, sosok Deki Degei berdiri tegak sebagai pemimpin upacara bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi menghadirkan makna mendalam tentang keteguhan dan keberanian.

Deki adalah siswa dari Meepa Boarding School yang hidup dengan keterbatasan fisik, hanya memiliki satu kaki. Namun pada hari itu, keterbatasan tersebut seolah tak terlihat. Ia memilih berdiri tanpa tongkat, tanpa alat bantu, menuntaskan perannya dengan penuh khidmat selama kurang lebih 40 menit. Setiap aba-aba yang ia berikan terdengar tegas, setiap gerakan mencerminkan disiplin dan kepercayaan diri yang kuat.

Tidak ada gestur ragu. Yang tampak justru ketenangan dan keyakinan. Di hadapan para guru, pembina upacara, dan ratusan siswa lainnya, Deki menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak diukur dari kesempurnaan fisik, melainkan dari keteguhan hati dan komitmen menjalankan tanggung jawab.

Momen ini bukan sekadar seremoni. Ia menjadi simbol nyata dari semangat pendidikan inklusif—bahwa setiap anak, tanpa memandang kondisi fisik, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi. Dalam konteks Papua yang terus berbenah dalam akses dan kualitas pendidikan, kisah Deki menghadirkan harapan sekaligus refleksi.

Banyak yang terharu menyaksikan keberanian Deki. Tidak sedikit pula yang menjadikannya inspirasi, terutama bagi generasi muda yang kerap merasa terbatas oleh keadaan. Apa yang dilakukan Deki adalah pengingat bahwa batas sering kali bukan pada tubuh, melainkan pada pikiran.

Lebih dari itu, kisah ini juga menjadi pesan bagi dunia pendidikan Indonesia. Inklusivitas bukan hanya slogan, melainkan praktik nyata yang harus terus diperluas. Sekolah, guru, dan lingkungan belajar memiliki peran penting dalam menciptakan ruang yang adil bagi semua siswa untuk tampil dan berkembang.

Deki Degei mungkin hanya satu nama dari Nabire. Namun langkahnya meski dengan satu kaki menggema jauh melampaui batas daerah. Ia mengajarkan bahwa keberanian adalah tentang berdiri, bahkan ketika dunia meragukan kemampuan kita.

**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *