Opini  

MTQ dan Ikhtiar Menjadikan Al-Qur’an sebagai Imam Kehidupan

Catatan Kecil dari Arena MTQ XXXI di Kabupaten Lahat 23-30 Juni 2026

Arena MTQ di Lahat
Oleh: Dr. H. Syafitri Irwan, S.Ag., M.Pd.I, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan

Setiap kali Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) digelar, sesungguhnya yang sedang dipertandingkan bukanlah Al-Qur’an. Yang diuji adalah sejauh mana manusia mampu menghadirkan kemuliaan Al-Qur’an melalui bacaan, hafalan, pemahaman, dan pengamalannya.

Karena itu, pembukaan MTQ XXXI Tingkat Provinsi Sumatera Selatan di Kabupaten Lahat 23-30 Juni 2026 patut disyukuri sebagai momentum penting dalam syiar Islam. Kehadiran para qari, qariah, hafiz, hafizah, dewan hakim, pemerintah daerah, dan masyarakat bukan semata menyemarakkan sebuah perlombaan tahunan, tetapi menghidupkan kembali ikatan batin umat dengan Kitab Suci Al-Qur’an.

Apa yang disampaikan Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, bahwa MTQ bukan sekadar ajang mengejar gelar juara, melainkan momentum memperdalam kecintaan terhadap Al-Qur’an, sesungguhnya menyentuh substansi terdalam dari penyelenggaraan MTQ itu sendiri.

Sebab, Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dibaca dengan suara yang indah, melainkan untuk menjadi petunjuk hidup.

Allah Swt. berfirman:

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2).

Ayat ini mengingatkan bahwa fungsi utama Al-Qur’an adalah hudan—petunjuk kehidupan. Ia membimbing cara berpikir, cara bekerja, cara memimpin, cara melayani masyarakat, bahkan cara kita memandang sesama manusia.

Karena itu, MTQ sesungguhnya bukanlah garis akhir. Ia adalah titik awal perjalanan untuk menghadirkan Al-Qur’an dalam perilaku sehari-hari.

Sering kali kita terpesona oleh lantunan tilawah yang merdu, tetapi lupa bertanya: sudahkah ayat-ayat itu turut melunakkan hati kita? Sudahkah bacaan yang indah melahirkan kejujuran dalam bekerja, amanah dalam memimpin, kesantunan dalam berbicara, serta kepedulian kepada sesama?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang sesungguhnya menjadi ruh MTQ.

Dalam sebuah hadis yang sangat masyhur, ketika Sayyidah Aisyah ra. ditanya tentang akhlak Rasulullah saw., beliau menjawab:

“Kana khuluquhu Al-Qur’an.”

“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim No. 746).

Jawaban singkat ini mengandung makna yang sangat dalam. Rasulullah tidak hanya membaca Al-Qur’an, tetapi menjadikan Al-Qur’an sebagai karakter hidupnya. Nilai-nilai Al-Qur’an menjelma dalam sikap, keputusan, kepemimpinan, kasih sayang, kejujuran, dan pengabdiannya kepada umat.

Di sinilah sesungguhnya ukuran keberhasilan MTQ.

Bukan semata lahirnya juara tilawah, juara tahfiz, atau juara tafsir, melainkan lahirnya pribadi-pribadi yang akhlaknya semakin mencerminkan Al-Qur’an.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan bahwa ilmu yang tidak melahirkan perubahan perilaku hanya akan berhenti sebagai pengetahuan di kepala. Sebaliknya, ilmu yang mengubah akhlak akan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan.

Pesan serupa juga disampaikan oleh ulama kontemporer Syekh Yusuf Al-Qaradawi. Menurutnya, Al-Qur’an bukan hanya kitab yang dibaca (kitab maqru’), tetapi juga kitab yang harus diwujudkan dalam realitas kehidupan (kitab manhaj al-hayah). Artinya, keberhasilan seorang muslim tidak hanya diukur dari kefasihan lisannya membaca ayat, melainkan dari sejauh mana ayat-ayat itu membentuk etika sosialnya.

Pesan ini menjadi sangat relevan bagi kita semua, khususnya keluarga besar Kementerian Agama di Sumatera Selatan.

Sebagai institusi yang mengemban amanah pelayanan keagamaan, pendidikan, bimbingan masyarakat, hingga pembinaan kehidupan beragama, Al-Qur’an semestinya tidak berhenti menjadi dokumen yang dibaca saat seremoni atau pembukaan acara.

Al-Qur’an harus menjadi imam dalam setiap pengambilan keputusan.

Ketika seorang guru memasuki ruang kelas, Al-Qur’an membimbingnya untuk mendidik dengan kasih sayang.

Ketika seorang penyuluh agama hadir di tengah masyarakat, Al-Qur’an mengajarkannya berdakwah dengan hikmah dan kelembutan.

Ketika seorang penghulu menikahkan pasangan, Al-Qur’an mengingatkannya bahwa keluarga dibangun di atas nilai sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Ketika seorang pejabat mengambil kebijakan, Al-Qur’an mengajarkan pentingnya keadilan, amanah, dan kemaslahatan.

Dengan demikian, MTQ tidak berhenti sebagai festival tahunan, tetapi menjadi gerakan moral yang menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam seluruh lini kehidupan.

Kita tentu berharap Sumatera Selatan kembali melahirkan kafilah terbaik pada MTQ Nasional di Semarang. Prestasi adalah sesuatu yang patut disyukuri dan terus diperjuangkan.

Namun, prestasi yang lebih besar adalah ketika masyarakat Sumatera Selatan semakin akrab dengan Al-Qur’an, bukan hanya di panggung MTQ, tetapi juga di rumah, di sekolah, di kantor, di pasar, di media sosial, dan dalam setiap ruang kehidupan.

Karena sesungguhnya kemenangan terbesar bukanlah ketika piala berhasil dibawa pulang.

Kemenangan terbesar adalah ketika Al-Qur’an berhasil pulang ke dalam hati setiap manusia.

Maka, marilah kita jadikan MTQ XXXI Sumatera Selatan sebagai momentum memperbarui ikrar kita kepada Kitabullah. Bukan sekadar membacanya dengan suara yang indah, tetapi juga menghidupkannya dalam pikiran, keputusan, ucapan, dan tindakan.

Sebab, masyarakat yang menjadikan Al-Qur’an sebagai imam kehidupannya akan melahirkan pribadi yang jujur, pemimpin yang amanah, keluarga yang harmonis, birokrasi yang bersih, pendidikan yang berkarakter, dan bangsa yang bermartabat.

ARTIKEL TERKAIT :

MTQ XXXI Sumsel Resmi Dibuka Gubernur Herman Deru

Itulah hakikat MTQ yang sesungguhnya: bukan hanya menggema di panggung perlombaan, tetapi berdenyut dalam perilaku lahir dan batin setiap insan yang mencintai Al-Qur’an.*

Palembang, 25 Juni 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *