Opini  

Ploso, Nahdlatul Ulama, dan Indonesia : Telaah Historis-Teologis

Ketika Pesantren Menjadi Rumah Bersama Kebangsaan

Ilustrasi : AI
Oleh Dr. H. Syafitri Irwan, S.Ag., M.Pd.I, Kakanwil Kemenag Sumsel

Di tengah percakapan global yang kerap mempertentangkan agama dan negara, Indonesia sesungguhnya memiliki sebuah laboratorium kebangsaan yang telah teruji oleh waktu, yakni pesantren.

Pesantren bukan sekadar institusi pendidikan keagamaan, melainkan ruang peradaban yang mengajarkan bagaimana menjadi manusia Indonesia yang utuh.

Bukan berhadap-hadapan

Di sana, agama tidak diposisikan sebagai kekuatan yang berhadap-hadapan dengan negara, melainkan menjadi energi moral yang merawat keberlangsungan bangsa.

Salah satu contoh menarik dari konstruksi tersebut dapat kita temukan pada Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur.

tradisi kebangsaan yang kokoh

Pesantren yang didirikan oleh KH Jauhari Abdul Djalil pada tahun 1937 ini bukan hanya menjadi pusat transmisi keilmuan Islam, tetapi juga melahirkan tradisi kebangsaan yang kokoh.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, polarisasi sosial, dan menguatnya paham keagamaan yang cenderung ekstrem di berbagai belahan dunia, model pendidikan yang dikembangkan pesantren seperti Ploso justru semakin menemukan relevansinya.

Sebab, sejak awal, pesantren tidak pernah mendidik santri untuk menjadi manusia yang tercerabut dari akar sosialnya.

hidup berdampingan

Pesantren mendidik santri agar mampu hidup berdampingan dengan masyarakat, mencintai tanah air, serta memahami bahwa beragama dan bernegara bukanlah dua kutub yang harus dipertentangkan.

menghadirkan kedamaian

Dalam banyak kesempatan, Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar, sering menegaskan bahwa agama yang sehat adalah agama yang mampu menghadirkan kedamaian dan melahirkan kemaslahatan publik. Spirit itulah yang sebenarnya telah lama hidup di pesantren.

Di Ploso, pendidikan tidak dibangun semata-mata untuk mencetak orang yang pandai berdebat tentang agama, tetapi membentuk manusia yang matang secara intelektual, emosional, dan spiritual.

Tradisi kitab kuning yang menjadi ciri khas pesantren bukan sekadar proses menghafal teks, melainkan latihan membangun cara berpikir yang utuh.

Delapan disiplin ilmu

Delapan disiplin ilmu yang dipelajari, mulai dari nahwu, sharaf, fikih, ushul fikih, hadis, tafsir, tauhid, hingga tasawuf, sesungguhnya sedang mengajarkan keseimbangan berpikir (Tim Sejarah Pesantren Ploso, 2015).

Di era media sosial saat ini, keseimbangan berpikir menjadi sesuatu yang mahal.

Kita menyaksikan banyak orang cepat berbicara, tetapi lambat memahami. Cepat menghakimi, tetapi lambat mengkaji. Cepat menyalahkan, tetapi enggan mendengar.

kerendahan hati intelektual.

Pesantren mengajarkan kebalikannya. Tradisi sanad keilmuan yang hidup di lingkungan Nahdlatul Ulama sesungguhnya adalah pendidikan tentang kerendahan hati intelektual. Bahwa ilmu tidak lahir dari kesombongan, tetapi dari penghormatan kepada guru dan proses panjang pembelajaran. Di sinilah Ploso menjadi bagian penting dari ekosistem Nahdlatul Ulama.

Secara manhaj, pesantren ini tumbuh dalam empat karakter utama Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, yakni tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (adil), dan tasamuh (toleran).

Empat prinsip ini bukan sekadar jargon organisasi, tetapi panduan etika sosial yang sangat relevan bagi Indonesia hari ini.

relasi pesantren dan negara

Pertanyaan besarnya kemudian, bagaimana sesungguhnya relasi pesantren dengan negara? Jawabannya telah dirumuskan oleh para ulama Nahdlatul Ulama jauh sebelum Indonesia merdeka.

Muktamar Nahdlatul Ulama di Banjarmasin tahun 1936 menjadi salah satu tonggak penting. Para ulama menerima bentuk negara bangsa dan menjadikannya sebagai ruang bersama untuk membangun kemaslahatan.

Dalam perkembangan berikutnya, konsep itu dikenal dengan istilah Darul Ahdi wa Syahadah, yakni negara kesepakatan dan negara persaksian.

Kesepakatan berarti Indonesia dibangun di atas konsensus kebangsaan yang disetujui bersama. Adapun persaksian berarti setiap warga negara memiliki tanggung jawab moral untuk merawatnya.

Di sinilah pesantren menunjukkan kedewasaan politiknya.

tidak mengajarkan politik

Pesantren seperti Ploso tidak pernah mengajarkan politik praktis sebagai orientasi utama pendidikan. Bahkan terdapat sebuah prinsip yang sangat menarik, yaitu la siyasiyah fil ma’had, wa la ma’had fil siyasiyah, tidak ada politik di pesantren dan tidak ada pesantren untuk politik.

Prinsip ini sering kali disalahpahami sebagai bentuk sikap menjauh dari persoalan publik. Padahal, netral bukan berarti apatis.

Pesantren justru sedang mengajarkan kedewasaan berdemokrasi. Pesantren menjaga jarak yang sehat dari tarik-menarik kepentingan politik praktis, namun tetap aktif mengawal kepentingan kebangsaan.

Netralitas di sini bukanlah ketidakpedulian, melainkan independensi moral. Pesantren tidak boleh menjadi alat kekuasaan, tetapi juga tidak boleh menjadi penonton yang pasif ketika bangsa menghadapi persoalan.

 mengajarkan etika

Dalam perspektif ini, pesantren sesungguhnya sedang mengajarkan etika kepemimpinan yang sangat modern: dekat dengan masyarakat, kritis terhadap persoalan, tetapi tidak larut menjadi instrumen kepentingan sesaat. Karena itu, loyalitas pesantren kepada negara bukan loyalitas kepada rezim, melainkan loyalitas kepada konstitusi dan cita-cita kebangsaan.

menjaga keutuhan negara

KH Hasyim Asy’ari dalam Risalatu Ahlis Sunnah wal Jamaah bahkan menegaskan bahwa menjaga keutuhan negara dari ancaman dan penjajahan merupakan kewajiban bagi setiap muslim.

Tentu saja, cinta tanah air yang dimaksud bukan nasionalisme yang sempit, melainkan kesadaran bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang harus dirawat secara kolektif. Di sinilah pesantren mengambil peran penting.

tidak menjauh dari persoalan bangsa

Pesantren mengajarkan bahwa menjadi santri yang baik bukan berarti menjauh dari persoalan bangsa, tetapi justru hadir di tengah masyarakat untuk memberikan solusi.

Mbah Bashori Alwi pernah memberikan pesan yang sangat relevan hingga hari ini, “Santri harus alim, tetapi kealimannya harus berguna untuk agama, nusa, dan bangsa.” Kalimat ini sederhana, tetapi sangat mendalam.

Ilmu yang tidak memberikan manfaat sosial pada akhirnya hanya akan berhenti menjadi kebanggaan pribadi. Sebaliknya, ilmu yang diabdikan kepada masyarakat akan menjelma menjadi energi perubahan.

Dalam konteks Indonesia saat ini, pesan tersebut semakin penting. Bangsa kita sedang menghadapi tantangan besar berupa polarisasi, disinformasi, dan krisis keteladanan.

karakter kebangsaan

Karena itu, kita membutuhkan lebih banyak model pendidikan yang tidak hanya mencetak manusia cerdas, tetapi juga manusia yang memiliki karakter kebangsaan yang kuat.

Pesantren telah membuktikan kemampuannya selama puluhan bahkan ratusan tahun. Ia tidak pernah gaduh mempromosikan dirinya, tetapi diam-diam terus bekerja menyiapkan generasi.

Mungkin inilah yang perlu terus kita rawat. Bahwa Indonesia yang majemuk tidak membutuhkan agama yang marah, melainkan agama yang memeluk.

membelah masyarakat

Indonesia tidak membutuhkan ulama yang membelah masyarakat, tetapi ulama yang menyambung persaudaraan. Dan Indonesia tidak membutuhkan santri yang sibuk memenangkan perdebatan, melainkan santri yang mampu menghadirkan kemanfaatan.

saling menguatkan

Pada akhirnya, relasi antara Ploso, Nahdlatul Ulama, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia mengajarkan satu hal penting: agama, pesantren, dan negara bukanlah tiga entitas yang saling bersaing, melainkan tiga simpul yang saling menguatkan.

Ketika pesantren terus melahirkan ulama yang teduh, Nahdlatul Ulama menjaga moderasi umat, dan negara menghadirkan ruang pengabdian yang adil, maka sesungguhnya kita sedang membangun masa depan Indonesia yang damai, berkeadaban, dan bermartabat. Sebab, merawat Indonesia bukan hanya tugas negara, melainkan juga bagian dari ibadah kebangsaan.**

Palembang, 24 Juni 2026

Referensi:

  1. Tim Sejarah Pesantren Ploso. Sejarah Al-Falah Ploso. 2015.
  2. KH Dimyati Rois. Manhaj Dirasah Ploso. Ceramah Haul Mbah Bashori Alwi, 2018.
  3. AD/ART Nahdlatul Ulama, Bab II tentang Khittah Nahdliyah.
  4. Mukti Ali. Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia. 1989.
  5. Hasyim Asy’ari. Risalatu Ahlis Sunnah wal Jamaah.
  6. Bashori Alwi. Mauidzah Alumni Ploso, 2005.
  7. Wawancara KH Dimyati Rois, Jawa Pos, 12 Maret 2019.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *