Interaksimassa.com – Ogan Ilir | Di tengah derasnya arus media sosial yang setiap hari dipenuhi beragam informasi, sebuah status sederhana bertajuk “Cinta di Ujung Usia” yang ditulis oleh Dra. Massuryati, M.Si., C.Med. bersama suaminya, Mohd Yamin Shaleh, berhasil menghadirkan ruang perenungan yang mendalam tentang makna cinta, takdir, dan kebahagiaan.
Status tersebut bukan sekadar ungkapan romantis biasa. Lebih dari itu, ia menjadi simbol bahwa cinta tidak pernah mengenal batas usia. Ketika sebagian orang menganggap masa senja sebagai akhir dari perjalanan romantika kehidupan, pasangan ini justru menunjukkan bahwa cinta bisa hadir sebagai awal dari kebahagiaan yang baru.
Pernikahan yang mereka jalani di usia yang tidak lagi muda menjadi bukti bahwa Tuhan memiliki cara-Nya sendiri dalam mempertemukan dua insan. Tidak semua kisah cinta harus dimulai pada usia belia. Tidak semua kebahagiaan harus datang saat seseorang berada di puncak masa mudanya. Ada cinta yang sengaja disimpan oleh waktu, dipersiapkan oleh pengalaman hidup, dan dipertemukan pada saat yang paling tepat.
Apa yang ditampilkan oleh pasangan ini sesungguhnya memberikan pelajaran berharga kepada masyarakat. Bahwa cinta sejati tidak selalu identik dengan kemegahan pesta pernikahan, kemewahan, atau kisah romantis bak sinetron. Cinta sejati adalah tentang menemukan seseorang yang mampu menjadi teman perjalanan hidup, tempat berbagi cerita, tempat bersandar ketika lelah, dan tempat pulang ketika dunia terasa begitu melelahkan.
Dalam kehidupan modern saat ini, tidak sedikit orang yang merasa khawatir ketika usia terus bertambah sementara pasangan hidup belum ditemukan. Sebagian bahkan merasa bahwa kesempatan untuk membangun rumah tangga telah lewat. Namun kisah yang tergambar dari status “Cinta di Ujung Usia” seolah memberikan pesan kuat bahwa tidak ada kata terlambat bagi cinta yang tulus.
Justru pada usia yang matang, seseorang biasanya telah memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang arti kehidupan. Ego telah banyak terkikis oleh pengalaman. Ambisi yang berlebihan mulai digantikan oleh rasa syukur. Pada fase inilah cinta hadir bukan lagi sekadar karena ketertarikan fisik atau euforia sesaat, melainkan karena adanya kebutuhan untuk saling melengkapi dan menemani.
Pernikahan di usia senja juga menghadirkan makna yang berbeda. Jika pada usia muda pasangan sering disibukkan oleh perjuangan ekonomi, karier, dan membesarkan anak, maka pada usia matang yang lebih dicari adalah ketenangan, kedamaian, dan kebersamaan. Kehadiran pasangan menjadi sumber semangat baru untuk menjalani hari-hari yang tersisa dengan lebih bermakna.
Status yang ditulis oleh Dra. Massuryati dan Mohd Yamin Shaleh juga mengingatkan bahwa cinta tidak selalu harus dimulai dengan kisah yang panjang. Ada kalanya dua orang dipertemukan oleh takdir setelah melewati berbagai pengalaman hidup masing-masing. Mereka datang dengan cerita yang berbeda, luka yang berbeda, dan perjalanan yang berbeda pula. Namun ketika hati menemukan kecocokan, usia bukan lagi persoalan utama.
Di mata masyarakat, kisah seperti ini memiliki nilai inspirasi yang sangat besar. Bukan hanya karena keberanian mereka memulai lembaran baru kehidupan, tetapi juga karena mereka menunjukkan bahwa kebahagiaan adalah hak setiap orang tanpa memandang usia. Bahwa seseorang tetap berhak mencintai dan dicintai selama hayat masih dikandung badan.
Lebih jauh lagi, kisah ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak pernah berhenti memberikan kesempatan. Selalu ada harapan baru, selalu ada kebahagiaan baru, dan selalu ada kemungkinan-kemungkinan indah yang datang pada waktu yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
“Cinta di Ujung Usia” akhirnya bukan sekadar sebuah status media sosial. Ia adalah refleksi tentang ketulusan, kesabaran, dan keyakinan bahwa takdir terbaik akan datang pada waktunya. Bagi banyak orang yang membacanya, status tersebut mungkin menjadi pengingat bahwa cinta tidak diukur dari kapan ia datang, melainkan dari bagaimana ia memberi makna dalam kehidupan.
Dan melalui kisah Dra. Massuryati, M.Si., C.Med. dan Mohd Yamin Shaleh, publik kembali diingatkan bahwa cinta yang datang di usia senja bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari babak baru yang penuh harapan, kebersamaan, dan kebahagiaan yang lebih dewasa.
Sebab pada akhirnya, cinta sejati tidak pernah bertanya tentang usia. Ia hanya bertanya, apakah dua hati telah siap untuk berjalan bersama hingga akhir perjalanan.(12)












