Seniman Jogja Gunakan Baliho Bekas Bioskop Permata untuk Kampanye Anti-Perundungan

karya tersebut sebagai respons kritis terhadap realitas sosial perkotaan

Seniman Jogja Gunakan Baliho Bekas Bioskop Permata untuk Kampanye Anti-Perundungan (Teks/Foto : Jajang R Kawentar)

YOGYAKARTA — Seniman street art senior Yogyakarta, Digie Sigit, menggelar pameran tunggal ruang publik bertajuk Sayangi Teman di bekas halaman depan Bioskop Permata, Jalan Sultan Agung No. 17, Kelurahan Gunungketur, Kecamatan Pakualaman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai Senin (25/5/2026).

Pameran tersebut memanfaatkan baliho iklan komersial berukuran 8 x 4 meter sebagai medium kampanye sosial mengenai perundungan (bullying) dan semakin sempitnya ruang bermain anak di perkotaan.

Melalui teknik stencil, Digie menampilkan visual monokrom seorang anak bertelanjang kaki yang memeluk erat bola sepak berwarna kuning menyala. Di bagian bawah karya, tertulis kalimat berwarna merah mencolok: “aku cuma mau maen.. (kenapa kamu bully aku?)”. Pesan itu diarahkan kepada pengguna jalan yang melintas di kawasan protokol Kota Yogyakarta tersebut.

“Anak bertelanjang kaki melambangkan ketidaknyamanan akibat hilangnya lapangan hijau, sehingga anak-anak terpaksa bermain di atas aspal. Sementara bola kuning menjadi simbol ruang bermain yang kini semakin sulit ditemukan,” ujar Digie Sigit saat pembukaan pameran, Senin.

 

Menurut Digie, meningkatnya praktik perundungan di kalangan anak-anak tidak dapat dilepaskan dari perilaku orang dewasa yang mereka saksikan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun ruang publik, termasuk media sosial dan panggung politik.

Proyek seni publik ini diselenggarakan oleh Kidung. Pemilik Kidung, R Wisnu D, mengatakan konsep pameran sengaja dibawa ke ruang terbuka nonkonvensional sebagai bentuk ajakan kepada masyarakat untuk lebih bertanggung jawab menciptakan ruang tumbuh yang aman bagi anak-anak.

“Pameran ini berbeda dari karya-karya Digie sebelumnya. Selain menggunakan ruang publik yang tidak lazim untuk pameran seni rupa, pemilihan warnanya juga lebih mencolok,” kata Wisnu.

Dalam proses produksinya, Digie berkolaborasi dengan fotografer Bayu untuk pengambilan gambar karakter yang dilakukan di kawasan Museum Perjuangan Brontokusuman, Yogyakarta.

Sementara itu, penulis pameran, Dona Caroline, menyebut karya tersebut sebagai respons kritis terhadap realitas sosial perkotaan yang kerap mengabaikan hak-hak dasar anak di tengah laju modernisasi.

“Digie Sigit menyampaikan pesan visual yang sangat kuat. Anak dalam karya itu merupakan personifikasi masa depan yang sedang menuntut jawaban dari kita semua. Mereka tidak membutuhkan janji-janji, melainkan tindakan nyata,” tulis Dona dalam catatan pamerannya.

Perupa sekaligus pengamat seni rupa Yogyakarta, Joko Sulistiyono, menilai langkah Digie memanfaatkan ruang iklan komersial sebagai medium seni merupakan pendekatan yang progresif.

“Pameran ini menarik karena ruang promosi produk dialihkan menjadi ruang edukasi sosial melalui seni rupa,” ujarnya.

Pameran Sayangi Teman dijadwalkan berlangsung selama satu bulan. Lokasi bekas Bioskop Permata dipilih karena memiliki arus lalu lintas yang relatif lambat, sehingga memungkinkan pejalan kaki maupun pengendara menikmati sekaligus merenungkan pesan yang disampaikan melalui karya tersebut. (jjg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *