Jamaah Haji Kloter PLM 2 Laksanakan Lontar Jumrah dan Pilih Nafar Awal di Mina

Laporan : Ketua Kloter 2 PLM (Lahat) Sumsel/Han Han Yustian

Foto ist

MINA – Jamaah haji Kloter PLM 2 Embarkasi Palembang asal Kota Palembang dan Kabupaten Lahat melaksanakan rangkaian ibadah lontar jumrah di kawasan Jamarat, Mina, Arab Saudi.

Dalam pelaksanaan ibadah wajib haji tersebut, jamaah memilih mengambil nafar awal dengan menyelesaikan lontar jumrah hingga 12 Dzulhijjah sebelum kembali menuju Makkah.

Ketua Kloter 2 Embarkasi Palembang, Han Han Yustian, menjelaskan bahwa seluruh jamaah PLM 2 telah menjalani prosesi lontar jumrah dengan tertib dan mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah Arab Saudi serta petugas haji Indonesia.

Menurut Han Han Yustian, jamaah terlebih dahulu melaksanakan lontar Jumrah Aqabah pada 10 Dzulhijjah. Setelah itu, jamaah kembali melakukan lontar jumrah ula, wustha, dan aqabah pada 11 dan 12 Dzulhijjah sebagai bagian dari pelaksanaan nafar awal.

“Jamaah Kloter PLM 2 asal Lahat dan Palembang melaksanakan lontar jumrah dengan lancar. Jamaah memilih nafar awal sehingga tidak melaksanakan lontar jumrah pada tanggal 13 Dzulhijjah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, perjalanan jamaah menuju kompleks Jamarat dari tenda Maktab 50 di Mina menempuh jarak sekitar empat kilometer.

Meski cukup jauh, jamaah tetap semangat menjalankan ibadah sebagai bagian penting dari rangkaian haji.

Petugas kloter juga terus memberikan pendampingan kepada jamaah, terutama bagi lansia dan jamaah dengan risiko kesehatan tertentu.

Pengaturan waktu keberangkatan dilakukan secara disiplin demi menjaga keselamatan jamaah di tengah suhu panas ekstrem yang melanda kawasan Mina dan Makkah.

Han Han Yustian mengatakan pemerintah Arab Saudi bersama Kementerian Haji dan Umrah memberikan larangan bagi jamaah untuk melaksanakan lontar jumrah pada pukul 10.00 hingga 14.00 waktu Arab Saudi.

BACA JUGA

Jamaah haji Kloter PLM 2 dari Lahat dan Palembang Wukuf di Arofah

Konsolidasi Akbar PPIH di Mekkah, Pemerintah Matangkan Kesiapan Layanan Puncak Haji Armuzna

Kebijakan tersebut diterapkan guna menghindari risiko kelelahan dan heatstroke akibat tingginya suhu udara.

“Larangan melontar pada siang hari dilakukan demi keselamatan jamaah karena cuaca di Mina sangat panas,” katanya.

Karena itu, jamaah PLM 2 diarahkan melaksanakan lontar jumrah pada pagi dan malam hari agar kondisi fisik tetap terjaga.

Petugas kesehatan dan pembimbing ibadah juga terus mengingatkan jamaah agar memperbanyak konsumsi air minum serta menggunakan perlindungan diri seperti payung dan masker.

Sementara itu, Pembimbing Ibadah Kloter PLM 2, Sutrisno Hadi, menjelaskan bahwa lontar jumrah merupakan simbol perlawanan terhadap godaan setan sekaligus bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Ibadah tersebut meneladani kisah Nabi Ibrahim AS ketika menolak bujukan iblis yang berusaha menggagalkan perintah Allah.

“Lempar jumrah terdiri dari tiga titik tugu jamarat yang melambangkan penolakan terhadap godaan setan. Ibadah ini mengajarkan keteguhan iman dan kepatuhan kepada Allah SWT,” jelas Sutrisno Hadi.

Ia menambahkan, hikmah utama disyariatkannya lontar jumrah adalah untuk mengingat Allah dalam setiap perjuangan hidup.

Jamaah diharapkan mampu mengambil nilai spiritual dari ibadah tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sepulang dari Tanah Suci.

Menurutnya, lontar jumrah bukan sekadar ritual melempar batu kerikil, melainkan simbol perjuangan manusia melawan hawa nafsu, godaan duniawi, dan segala bentuk perilaku buruk yang dapat menjauhkan diri dari ajaran agama.

“Harapannya jamaah haji PLM 2 menjadi haji yang mabrur, mampu menjaga akhlak, ibadah, dan semangat ketakwaan setelah kembali ke tanah air,” tambahnya.

Pelaksanaan lontar jumrah jamaah Kloter PLM 2 berlangsung dalam suasana tertib dan khusyuk. Petugas kloter terus memastikan seluruh jamaah kembali ke tenda dengan aman setelah menyelesaikan rangkaian ibadah di Jamarat.

Setelah menyelesaikan fase Mina dan nafar awal, jamaah dijadwalkan kembali ke hotel di Makkah untuk melanjutkan rangkaian ibadah haji lainnya, termasuk tawaf ifadah sebelum nantinya bersiap kembali ke Indonesia.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *