
Beberapa pekan terakhir, (Juni 2026) anak saya melalui media sosial ikut sibuk bertanya-tanya tentang pocong. Ternyata bukan hanya anak saya, kita juga ramai oleh kemunculan “pocong” itu. Katanya ada yang muncul di jalan desa, ada yang berdiri di depan rumah warga, ada pula yang terekam kamera CCTV sedang melompat-lompat di tengah malam.
Sebagian warga panik. Sebagian membuat konten. Sebagian lagi sibuk berdebat apakah itu hantu sungguhan atau manusia yang sedang kurang kerjaan.
Polisi Menemukan Fakta
Menariknya, di tengah hiruk-pikuk itu, polisi di beberapa daerah justru menemukan fakta yang lebih membumi: sebagian besar “pocong” tersebut bukan urusan alam gaib, melainkan urusan manusia yang sangat duniawi.
Ada yang sekadar mencari sensasi. Ada yang membuat konten, lalu ditangkap polisi. Ada pula dugaan modus untuk mengalihkan perhatian warga agar memudahkan pencurian atau pengintaian.
Ilmu Psikolog sangat Tua
Kalau benar demikian, sesungguhnya yang sedang bekerja bukan kekuatan gaib, melainkan ilmu psikologi yang sangat tua: membuat orang takut agar kehilangan kemampuan berpikir jernih.
Dalam bahasa kriminologi modern, strategi semacam ini dikenal sebagai fear-based crime strategy atau strategi kejahatan berbasis ketakutan. Rumusnya sederhana: Ketakutan → Panik → Hilang rasionalitas → Terbuka peluang kejahatan.
Artinya, pencuri tidak selalu membutuhkan pistol. Tidak selalu membutuhkan golok. Kadang cukup membutuhkan kain putih dan imajinasi korban.
Zaman Kolonial
Fenomena ini sebenarnya bukan barang baru. Yang baru hanyalah kostumnya. Dulu, di kampung-kampung zaman kolonial hingga era awal kemerdekaan, beredar cerita tentang hantu penunggu kebun, genderuwo penjaga sawah, wewe gombel di pinggir sungai, atau makhluk gaib yang konon berkeliaran pada malam hari.
Belakangan diketahui, sebagian cerita itu sengaja disebarkan agar warga takut keluar rumah sehingga pencuri ternak lebih leluasa beroperasi.
Di tempat lain, muncul dukun palsu yang mengaku bisa menggandakan uang, memindahkan emas secara gaib, atau menerima pesan langsung dari alam lain.
Korbannya bukan orang bodoh. Banyak pula orang berpendidikan yang tertipu. Sebab ketika ketamakan dan ketakutan bertemu, akal sehat sering kali mengambil cuti.
Ternyata, Indonesia tidak sendirian.
Di Jepang pernah dikenal kasus yang oleh media dijuluki ghost burglar. Pelaku mengenakan kostum hantu atau makhluk legenda Jepang untuk menakuti warga lanjut usia sebelum melakukan pencurian.
Di Filipina muncul fenomena White Lady, sosok perempuan berpakaian putih yang konon sering menghantui jalanan malam. Dalam beberapa kasus, legenda itu dimanfaatkan kelompok kriminal untuk menghadang pengendara dan melakukan perampokan.
India pernah mengalami kepanikan massal akibat makhluk misterius bernama Monkey Man pada 2001. Warga Delhi percaya ada makhluk setengah manusia setengah monyet yang menyerang masyarakat.
Belakangan, sebagian besar laporan ternyata tidak pernah terbukti dan justru memunculkan gelombang ketakutan sosial yang dimanfaatkan oleh pelaku kriminal oportunis.
Inggris pun pernah mempunyai kisah serupa. Pada abad ke-19, masyarakat London dihebohkan oleh sosok misterius bernama Spring-Heeled Jack.
Sosok ini digambarkan menyeramkan dan sering muncul tiba-tiba untuk menakuti warga. Entah siapa pelakunya, tetapi dampaknya nyata: masyarakat hidup dalam ketakutan.
Lihatlah. Dari Jakarta sampai London, dari Palembang, Muara Enim sampai Tokyo, ternyata “hantu” sering kali hanyalah manusia yang memakai topeng.
Dalam perspektif Islam, fenomena ini sesungguhnya sudah lama mendapatkan perhatian. Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan bahwa salah satu senjata utama setan adalah menciptakan rasa takut.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti kamu dengan kawan-kawannya. Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar beriman.” (QS Ali Imran: 175)
Ayat ini menarik. Yang ditekankan bukan keberadaan setan, melainkan strategi setan: menakut-nakuti.
Bahkan dalam sejarah Nabi Muhammad SAW, menjelang Perang Uhud dan berbagai peperangan lainnya, kaum Muslim kerap diteror dengan propaganda bahwa musuh sangat kuat, jumlahnya sangat besar, dan kemenangan mustahil diraih. Tujuannya satu: menghancurkan mental sebelum pertempuran dimulai.
Artinya, perang psikologis jauh lebih tua daripada media sosial. Yang berubah hanyalah medianya. Dulu menggunakan desas-desus. Sekarang menggunakan WhatsApp. Dulu dari mulut ke mulut. Sekarang dari status ke status. Dulu cukup satu kampung yang takut. Sekarang satu negara bisa panik hanya dalam hitungan jam.
Di sinilah persoalan sebenarnya. Masalah utama bukanlah pocong. Masalah utama adalah ketika masyarakat kehilangan kebiasaan berpikir kritis. Padahal, Islam sejak awal adalah agama yang sangat rasional. Wahyu pertama yang turun bukanlah “takutlah”, melainkan “bacalah”.
Artinya, perintah pertama bukan untuk panik, melainkan untuk memahami. Karena itu, setiap kali menerima informasi yang menimbulkan ketakutan, Al-Qur’an mengajarkan tabayyun—memeriksa, mengklarifikasi, dan memverifikasi.
Sayangnya, pada era media sosial, kita sering lebih cepat menekan tombol “bagikan” daripada tombol “pikirkan”.
Akibatnya, yang viral bukan fakta, melainkan kecemasan. Yang berkembang bukan pengetahuan, melainkan kepanikan. Maka mungkin kita perlu belajar dari pocong-pocong viral itu. Bukan belajar menjadi pocong, tentu saja.
Melainkan belajar bahwa manusia yang kehilangan akal sehat bisa lebih mudah ditakuti daripada burung di sawah. Seekor burung setidaknya masih mau memeriksa apakah orang-orangan sawah (kekibang: bahasa Lahat) itu benar-benar hidup atau tidak.
Sementara manusia modern kadang langsung percaya hanya karena sebuah video berdurasi 30 detik. Karena itu, jika suatu malam ada pocong berdiri di depan rumah, jangan buru-buru pingsan.
Nyalakan lampu. Periksa kamera. Panggil tetangga. Laporkan kepada aparat bila perlu. Sebab dalam banyak kasus, yang berdiri di balik kain putih itu bukan makhluk dari alam kubur. Melainkan manusia dari alam yang sama dengan kita, yang sedang memanfaatkan ketakutan sebagai alat kejahatan.
Dan sejarah menunjukkan, sejak zaman dahulu hingga hari ini, hantu yang paling berbahaya memang bukan yang datang dari alam gaib. Melainkan manusia yang berhasil : mematikan akal sehat sesamanya.**
Pojok Pesantren Laa Roiba-Muara Enim, 13 Juni 2026











