Bagaimana organisasi kampus dapat mengubah nasib kita di masa depan kelak?
Apa bedanya dengan yang bekerja setelah tamat sekolah? atau bagaimana dengan yang tidak kuliah sama sekali?
Dalam konteks ini, pilihan kita terhadap masa depan menentukan konsekuensi yang harus kita hadapi.
Ketika kita telah memilih kuliah, ujiannya hanya berlaku saat itu juga.
Demikian yang bekerja dan tidak kuliah, akan menghadapi ujiannya masing-masing. Saat perkuliahan pun ujian hadir seiring dengan proses kehidupan yang sedang kita jalankan.
Kampus mana pun yang kita pilih, kelak akan menjadi jejak kita di curriculum vitae. Namun, wawasan terkait kampus yang kita ketahui di awal terkadang tidak sesuai dengan realita yang sedang berjalan.
Kampus yang terbaik bagi media pun belum tentu baik bagi mahasiswa di kampus tersebut. Ada mahasiswa yang mempermasalahkan sistem akademik atau organisasinya.
Tetapi, ada juga yang mengatakan tidak baik tanpa alasan dan bukti. Inilah sikap generasi Z dan generasi setelahnya ketika menghadapi situasi dan kondisi kampus yang anomali.
Upaya Mengungguli Sistem Organisasi Kampus yang Bobrok
Bisa jadi sikap mahasiswa generasi Z dan generasi setelahnya demikian karena anxiety, atau kurang percaya diri dalam menyampaikan argumen.
Secara tersirat, mahasiswa tersebut sudah menunjukkan penolakan yang jika terungkap akan mengancam dirinya.
Tanpa sadar, ancaman ini menunjukkan kebobrokan suatu kampus yang sulit terungkap. Dalam hal ini, organisasi kampus lebih tepat dalam pemecahan masalah seputar mahasiswa.
Pertanyaannya, apakah mahasiswa mau proaktif atau apatis kepada sesama mahasiswa sebayanya?
Psikologi sosial menunjukkan bahwa manusia cenderung meminta alasan yang jauh lebih kuat untuk mengubah keadaan daripada mempertahankan keadaan yang sudah ada.
Karena itu, banyak orang lebih mudah membela sistem lama, meskipun sistem itu tidak sehat.
Contoh sistem yang sehat adalah hidupnya diskusi dan dialektika antar organisasi kampus demi kemajuan kampusnya.
Tidak hanya berbicara tentang akreditasi kampus saja, tapi juga mengharumkan nama baik kampus hingga ke mancanegara.
Bukan justru hanya unggul di internal kampus saja dan sibuk membangun karir diri sendiri di organisasi kampus.
Dalam sistem akademik, memang sudah mendukung dari bimbingan akademik oleh dosen pembimbing. Sedangkan pada aspek karakter dan mental, organisasi kampus berperan penting dalam pembentukannya.
Seringkali mahasiswa malu mengungkapkan permasalahannya kepada orang tua, dan cenderung lebih suka mencurahkan perasaan dan mengekspresikannya kepada temannya.
Kalau mau Organisasi kampus unggul, maka kajian organisasi harus tepat sasaran kepada mahasiswa (centered on student), bukan berpusat pada program (centered on program).
Kita berinteraksi dengan teman satu kampus semasa kuliah, bandingkan dengan kita menunggu program membutuhkan birokrasi yang kaku.
SCAMPER: Cara Berpikir yang Membongkar, Bukan Sekadar Mengeluh
Kita mungkin belum bisa mengubah sistem kampus dari sisi akademik. Namun, kita bisa mengubah sistem organisasinya sebagai mahasiswa.
Mahasiswa perlu alat berpikir yang tajam, bukan hanya semangat yang meledak sebentar. Salah satu cara yang relevan ialah SCAMPER.
Saya merekomendasikan pendekatan SCAMPER karena sudah terbukti sejak saya berorganisasi di kampus hingga menjadi dosen seperti sekarang ini.
Olivier Serrat menjelaskan SCAMPER sebagai teknik yang memakai pertanyaan-pertanyaan terarah untuk memunculkan gagasan baru dari sesuatu yang sudah ada.
Teknik ini mencakup tujuh langkah: Substitute, Combine, Adapt, Modify, Put to other uses, Eliminate, dan Rearrange/Reverse.
Dengan prinsip SCAMPER, satu masalah dapat menghasilkan tujuh solusi kreatif. Kalau mahasiswa memakai SCAMPER untuk organisasi kampus, langkah selanjutnya adalah bergerak secara konkret.
BACA JUGA
BUMI MERAH PUTIH, MEWUJUDKAN BENGKULU MANDIRI BERBASIS MARITIM, AGRARIS DAN EKONOMI MASA DEPAN
KRISIS DISORIENTASI PERJUANGAN, DARI KAMPUS KE RUANG POLITIK YANG KOSONG GAGASAN
Misalnya substitute dengan mengganti budaya senioritas dengan budaya mentoring (kakak asuh). Combine, yaitu mengkolaborasikan program kerja dengan pengabdian masyarakat.
Adapt yaitu mempelajari model organisasi yang sehat dari komunitas lain, lalu sesuaikan dengan karakter kampus sendiri.
Demikian seterusnya hingga reverse, yaitu balik logika lama. Jangan lagi bertanya “siapa yang memimpin?”, tetapi “masalah apa yang kita selesaikan?”.
Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa SCAMPER dapat menata divergent thinking secara sistematis dalam proses ideasi dan terbukti memperkuat orisinalitas, keluwesan, dan keberanian menghasilkan gagasan baru bagi mahasiswa.
SCAMPER penting karena dapat memaksa mahasiswa untuk berhenti memandang organisasi sebelah mata. Organisasi dapat membuat mahasiswa lebih baik jika tata kelolanya juga baik.
Di sinilah mahasiswa Gen Z dan Gen Alpha punya peluang besar. Mereka tumbuh dalam zaman yang cepat dan akrab dengan inovasi.
Maka, akan sangat ironis jika mereka justru tunduk pada pola organisasi yang lamban, feodal, dan anti-evaluasi.
Saatnya Mahasiswa Berkolaborasi dengan Semua Elemen Kampus
Mahasiswa juga manusia yang tidak akan dapat mengubah organisasi kampus sendirian.
Perubahan yang tahan lama selalu lahir dari kolaborasi. Karena itu, mahasiswa perlu mengajak dosen, fakultas, dan pimpinan kampus untuk masuk ke ruang yang sama.
Hal ini mudah terucap, namun sulit terealisasi. Kampus harus memberi mahasiswa ruang kemitraan.
Kajian tentang student voice menunjukkan bahwa suara mahasiswa seharusnya tidak berhenti pada perwakilan formal, tetapi bergerak ke bentuk kolaborasi aktif antara mahasiswa dengan dosen dan tenaga pendidik.
Mahasiswa bisa berperan sebagai mitra dosen yang memberi dampak dalam merancang dan memperbaiki proses pembelajaran, bukan hanya sebagai peramai yang memenuhi ruangan acara namun tidak berdampak apapun setelahnya.
Al-Qur’an telah menjelaskan tentang tanggung jawab menyiapkan masa depan dengan kesadaran penuh.
Organisasi kampus pun memerlukan kesadaran semacam itu. Bukan sibuk menjalankan rutinitas hari ini, tetapi memikirkan juga apa yang akan kita persiapkan untuk esok.
Jika mahasiswa, dosen, dan kampus mau melihat masa depan dengan jujur, mereka akan sadar bahwa mempertahankan sistem yang rusak sama saja dengan menunda kerusakan yang lebih besar.
Mahasiswa tidak akan berani memberi ide jika kampus menghukum kritik. Mahasiswa tidak akan berani bereksperimen jika dosen langsung mematahkan gagasan yang belum matang.
Karena itu, kampus perlu membangun psychological safety, yaitu suasana yang membuat orang berani bicara, berani salah, lalu berani memperbaiki.
Pada akhirnya, mengungguli sistem organisasi kampus yang bobrok dapat merubah nasib semua mahasiswa yang tidak berorganisasi sekalipun.
Karena sejatinya organisasi kampus yang unggul adalah yang mampu melibatkan semua pihak untuk bergerak dan berdampak.
Organisasi kampus tidak selamanya bobrok, selama mahasiswa mau berbenah memperbaikinya. Saatnya seluruh elemen kampus berani menyusun pola baru yang lebih sehat.*
Penulis adalah dosen Teknik Informatika di SATU University Palembang. Menempuh pendidikan Magister Ilmu Komputer di Universitas Sriwijaya. Juga aktif sebagai penulis buku Antologi di Trenlis, juga Aktif berbagi ilmu sebagai penulis, mentor, dan narasumber. Mari terhubung melalui Instagram @mfr_ee










