MEKKAH – Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi bersama PPIH Kloter terus memperkuat koordinasi dan kesiapan teknis menghadapi fase Armuzna atau Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Pengarahan intensif digelar di Hotel Burj Al Wahdah, Wilayah Jarwal, Mekkah, dengan melibatkan 43 kloter jamaah haji Indonesia yang berada di Sektor 6.
Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan seluruh petugas haji memiliki pemahaman yang sama terkait pelayanan, kesehatan jamaah, hingga teknis pergerakan menuju Armuzna yang akan dimulai pada 8 Zulhijah mendatang.
Salah satu Ketua Kloter asal Palembang 2 (Lahat) Sumsel, Han Han Yustian, mengatakan pengarahan tersebut merupakan agenda strategis menjelang fase paling krusial dalam rangkaian ibadah haji.
Menurutnya, seluruh petugas diminta memahami berbagai aspek teknis maupun nonteknis demi memberikan pelayanan maksimal kepada jamaah Indonesia.
“Kegiatan ini dilaksanakan sebagai pengarahan menjelang puncak ibadah haji, yaitu fase Armuzna. Jamaah akan mulai bergeser menuju Arafah pada 8 Zulhijah. Karena itu, seluruh petugas harus benar-benar siap,” ujar Han Han Yustian dalam keterangannya di Mekkah.
Dalam pengarahan tersebut, sejumlah materi penting disampaikan kepada para petugas, mulai dari kesiapan operasional, pemahaman fiqih haji, kesehatan jamaah, hingga pemetaan tenda di Arafah dan Mina.
Selain itu, pembahasan teknis terkait pola pergerakan jamaah dan mitigasi risiko juga menjadi fokus utama.
Han Han menegaskan bahwa koordinasi yang baik antarpetugas menjadi kunci utama dalam menjaga kelancaran layanan jamaah selama fase Armuzna berlangsung.
Pasalnya, jutaan jamaah dari berbagai negara akan bergerak secara bersamaan menuju lokasi-lokasi utama pelaksanaan haji.
“Kesiapan petugas harus matang karena Armuzna merupakan fase yang sangat padat dan membutuhkan ketelitian tinggi. Semua aspek pelayanan harus dipastikan berjalan optimal,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Direktur Bina Haji dan Umrah Kementerian Agama RI, Pujo Raharjo, turut memberikan arahan kepada seluruh peserta kegiatan.
BACA JUGA
Jamaah Haji Kloter PLM 2 Sehat dan Aman di Makkah, Petugas Intensif Pantau Kondisi Lansia
Pelepasan Jemaah Haji Empat Lawang ke Tanah Suci dihadiri langsung oleh WAGUB Cik Ujang
Ia menekankan pentingnya sinergi seluruh komponen penyelenggara haji Indonesia di Arab Saudi.
Pujo menyebut pelayanan jamaah tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus dilakukan secara terpadu oleh seluruh unsur, mulai dari PPIH Arab Saudi, ketua kloter, pembimbing ibadah, tenaga kesehatan, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), hingga ketua rombongan dan ketua regu.
“Seluruh komponen harus bergerak dalam satu koordinasi dan satu komando untuk melayani jamaah haji Indonesia. Kepatuhan terhadap arahan Ketua PPIH Arab Saudi, Ketua Sektor, dan Ketua Kloter menjadi hal yang sangat penting,” tegas Pujo Raharjo.
Ia juga mengingatkan para petugas untuk memberi perhatian serius terhadap kondisi kesehatan jamaah, terutama menjelang Armuzna yang membutuhkan stamina fisik cukup tinggi.
Menurutnya, semangat jamaah yang besar dalam menjalankan ibadah terkadang tidak sebanding dengan kondisi fisik mereka, khususnya jamaah lanjut usia dan berisiko tinggi.
“Semangat jamaah haji memang luar biasa, tetapi perlu diimbangi dengan pengelolaan stamina yang baik. Aktivitas fisik sebaiknya dikurangi sebelum Armuzna agar jamaah tetap sehat saat menjalani puncak ibadah haji,” ujarnya.
Selain aspek teknis dan kesehatan, pengarahan juga menyentuh persoalan dinamika keagamaan yang berkembang selama musim haji. Musyrif Dini, Gusrizal, dalam pemaparannya mengingatkan para petugas agar bijak menghadapi berbagai perkembangan dan kondisi di lapangan.
Ia menilai dinamika penyelenggaraan haji memerlukan kemampuan adaptasi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip regulasi dan ketentuan syariat yang telah ditetapkan.
“Dalam praktik penyelenggaraan haji tentu ada berbagai perkembangan situasi yang harus disikapi dengan bijak. Namun seluruh petugas tetap harus berpedoman pada aturan dan regulasi yang berlaku,” kata Gusrizal.
Ia berharap seluruh rangkaian ibadah haji tahun 2026 dapat berjalan lancar serta memberikan kenyamanan bagi jamaah Indonesia selama menjalani fase Armuzna.
Dengan semakin dekatnya puncak ibadah haji, pemerintah Indonesia melalui PPIH Arab Saudi terus meningkatkan koordinasi lintas sektor guna memastikan pelayanan terbaik bagi jamaah.
Fokus utama diarahkan pada keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kelancaran mobilitas jamaah selama menjalankan seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci.
Puncak haji di Armuzna sendiri menjadi momentum paling sakral dalam ibadah haji, di mana jamaah akan menjalani wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan melontar jumrah di Mina sebelum kembali ke Mekkah.*












