Agenda Strategis Pertemuan Prabowo–MBZ di Abu Dhabi

foto ist

ABU DHABI — Presiden Persatuan Emirat Arab (PEA) Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan yang juga Emir Abu Dhabi secara khusus mengajak enam penguasa emirat lainnya untuk menerima kehadiran Presiden Republik Indonesia H Prabowo Subianto, Kamis (26/2/2026).

Mengutip Facebook Setkab RI, diakses Jumat pagi (27/2/2026), di ruang utama Qasr Al Bahr, Prabowo duduk bersama Presiden PEA, Emir Dubai yang juga Perdana Menteri, serta Emir Sharjah, Ajman, Umm Al Quwain, Ras Al Khaimah, dan Fujairah. Ini bukan sekadar seremoni, melainkan sinyal diplomatik yang ditujukan ke kawasan dan komunitas internasional.

Kehadiran lengkap tujuh pemimpin emirat merupakan pesan bahwa Indonesia dipandang sebagai mitra strategis jangka panjang. Di tengah dinamika geopolitik global. PEA menilai Indonesia sebagai jangkar stabilitas di Asia Tenggara sekaligus pasar besar dengan potensi investasi berkelanjutan.

Rangkaian pertemuan dilanjutkan dengan iftar Ramadan 1447 H bersama dan salat Magrib berjamaah. Elemen religius ini bukan sekadar tradisi Ramadhan, tetapi juga instrumen soft diplomacy. PEA dan Indonesia sama-sama menegaskan identitas sebagai negara Muslim moderat yang menjunjung stabilitas dan dialog.

Puncak agenda terjadi di balik pintu tertutup. Presiden Prabowo dan Presiden MBZ menggelar pertemuan empat mata selama lebih dari satu jam. Durasi ini melampaui waktu pertemuan bilateral standar dan mengindikasikan pembahasan substansial. Dua agenda utama mengemuka: penguatan kerja sama energi dan dorongan peningkatan investasi PEA di Indonesia.

BACA JUGA

Saksikan, Seminar Nasional “Plus Minus Perjanjian Dagang Resiprokal Indonesia – AS” Tahun 2026

Pesan Pemerintah di Puncak Hari Pers Nasional 2026 ; Jaga Nurani Jurnalistik di Era AI

Dalam konteks energi, PEA—sebagai produsen minyak dan gas sekaligus pemain besar energi terbarukan. Melihat Indonesia sebagai mitra strategis untuk diversifikasi portofolio. Transisi energi global memaksa negara-negara Teluk mengamankan investasi di sektor hilir, energi bersih, dan teknologi penyimpanan.

Indonesia, dengan kebutuhan energi yang tumbuh dan target bauran energi hijau, menjadi laboratorium kerja sama yang menjanjikan.

PEA Tingkatkan Investasi Di Indonesia

PEA secara eksplisit menyampaikan keinginan meningkatkan investasi di Indonesia. Ini bukan hal baru, namun kali ini disampaikan di level tertinggi federasi.

Sinyal tersebut menandakan kesiapan PEA untuk masuk lebih dalam ke sektor-sektor strategis—energi, infrastruktur, logistik, dan ekonomi digital. Arus investasi ini berpotensi mempercepat agenda hilirisasi dan penciptaan lapangan kerja.

Pertemuan ini mengirimkan pesan bahwa Indonesia diposisikan sebagai mitra kunci PEA di Asia. Di tengah persaingan pengaruh antara kekuatan global, kolaborasi Indonesia–PEA menawarkan alternatif kerja sama berbasis stabilitas dan keuntungan bersama.

Bagi PEA, memperdalam hubungan dengan Indonesia berarti memperluas jejaring strategis di luar Timur Tengah.

Pertemuan ini memiliki makna simbolik dan historis. Tahun 2026 menandai 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia–PEA. Setengah abad kemitraan tersebut menjadi fondasi untuk membuka babak baru kerja sama yang lebih dalam.

Sekedar informasi, Presiden Prabowo didampingi Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, serta Duta Besar RI untuk PEA Judha Nugraha. Semangat untuk bangsa Indonesia.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *